Aslan tidak menjawab, ia mencoba untuk mendengarkan suara samar-samar yang terdengar di telinganya. “Suara. Aku mendengar suara, Ali.” Aslan pun menjawab dengan nada yang sangat pelan. Membuat teman-temannya menatapnya penasaran lalu ikut mempertajam pendengaran mereka.

“Kalian mendengarnya?” tanya Aslan pada ketiga temannya. Ali, Andi, dan Hasan pun mengangguk bersamaan.

“Suara itu.., apakah itu suara rintihan?” kali ini Hasan yang angkat bicara.

“Mungkin,” jawab Aslan dengan tidak yakin.

“Itu suara Jojo!” Seru Andi tiba-tiba dengan panik. “Ada apa dengan Jojo?”

 ADA APA DENGAN JOJO, YA?

“Aku tidak bisa,”

Aslan dan dua orang temannya mengerutkan kening mereka bingung ketika mendengar jawaban dari Jojo. Biasanya, Jojo mau ikut bersama mereka saat akan belajar bersama. Tapi kenapa kali ini Jojo menolak? Dan biasanya pula, kelima anak itu pergi ke salah satu rumah mereka untuk belajar bersama dan mengerjakan tugas bersama, lalu setelah itu mereka bermain sebentar atau  hanya sekedar keliling kampung.

“Tidak bisa atau memang tidak mau?” celetuk Ali pelan tetapi terdengar oleh mereka semua, seketika Andi pun menjitak kepala Ali dengan pelan.

Ali, tetangga sebelah rumah Andi, sama-sama bersahabat dengan Jojo dan tiga anak lainnya, sekarang Ali duduk di tahun kedua SMP. Tetapi Ali, Hasan dan Andi tidak satu sekolah dengan Aslan dan Jojo, karena Aslan dan Jojo bersekolah di sekolah yang menurut warga setempat itu cukup unggulan, yang berada di desa sebelah. Jadi Aslan dan Jojo harus berangkat lebih awal untuk dapat sampai di sekolah tepat waktu.

“Maaf, aku tidak bisa ikut,” ujar Jojo lagi, membuat kening Andi semakin berlipat-lipat.

Sementara  Andi, satu sekolah dengan Ali dan Hasan. Andi adalah anak laki-laki yang sangat sederhana dan senang bekerja keras, ia sama-sama kelas dua SMP, Ali dan Andi memang teman satu meja di kelas. Sayangnya, ayah Andi yang berprofesi sebagai tukang bersih-bersih mushola desa itu sedang sakit, sakit yang diderita ayahnya pun cukup parah, sehingga sempat terbesit di pikiran Andi untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan untuk membantu biaya pengobatan ayahnya yang sedang sakit. Tetapi untungnya, berkat masukan dan dukungan dari kakak laki-laki dan sahabat-sahabatnya, ia pun memutuskan untuk terus melanjutkan sekolahnya sampai selesai.

“Memangnya kenapa, Jo? Biasanya kamu mau ikut dengan kami. Ayo kita belajar bersama di rumah Ali.  Besok Ali dan Andi ada ulangan bahasa inggris sedangkan Aslan, katanya, dia ada ulangan matematika, jadi, ayolah kita belajar bersama, Jo.” Pinta Ali sambil menarik-narik lengan baju Jojo dengan gusar, Ali memang benar-benar tidak mengerti jika ditanya tentang bahasa inggris. Ekspresi dari wajah teman-temannya yang tampak memohon itu membuat Jojo berpikir sejenak, tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya lemas.

Aslan, merupakan anak pindahan dari kota sekitar tiga tahun lalu. Dulu, Aslan adalah anak dari orang pengusaha makmur di kota, tetapi rupanya Ayah Aslan mengalami kebangkrutan atas usahanya, sehingga Ayah Aslan menjual seluruh harta yang ia miliki untuk menutup hutang pada reintenir-reintenir licik itu, dan akhirnya keluarga Aslan pun jatuh miskin sehingga memutuskan untuk memulai kehidupan kembali di desa tempat sekarang ia tinggal. Aslan duduk di kelas dua SMP, dan ia satu sekolah dengan Jojo. Di desa itu, Aslan bertetangga juga dengan Jojo, karena rumah mereka memang cukup dekat.

Melihat Jojo menggelengkan kepalanya, kepanikan Ali bertambah berkali-kali lipat. Ia pun mondar-mandir ke sana-kemari. “Aduh Jo, kamu mau melihatku dapat nilai terjelek lagi di kelas bahasa inggris nanti?” ujarnya dengan panik dan gusar lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan berlebihan.

“Aih, kau ini ada apa, sih?  Tidak biasa-biasanya seperti ini. Sudah.., Ali, gendong saja dia, kita bawa dia ikut!” Kali ini Aslan yang angkat bicara. Bisa kacau jika mereka belajar tanpa Jojo, karena menurut mereka Jojo adalah anak yang sangat cerdas.

Jojo, adalah anak laki-laki termuda di antara mereka, sekarang Jojo duduk di tahun kedua sekolah menengah pertama seperti teman-temannya yang lain kecuali Hasan, tetapi seharusnya sekarang ia masih duduk di tahun terakhir sekolah dasar. Jojo anak yang sangat pintar, tetapi karena menjadi yang termuda, maka ia merasa seperti mempunyai empat orang kakak laki-laki. Hasan, Ali, Andi, dan Aslan pun memang menganggap Jojo sebagai adik mereka sendiri. Jojo satu sekolah dengan Aslan.

Ketika Ali sudah menggendong Jojo di punggungnya, Jojo pun menjerit-jerit minta diturunkan, Hasan yang baru datang melihat Jojo meronta-ronta seperti itu seketika tidak tega dan langsung  mencoba untuk menghentikan aksi gila teman-temannya,

“Aduh.., aduh.., hentikan..! hei! hei! Aduh itu kenapa Jojo bisa digendong begitu? Kalau Jojo tidak ingin ikut belajar bersama di rumah Ali, ya sudah jangan paksa Jojo begitu. Ali, ayo cepat turunkan Jojo!” Hasan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan panik ketika melihat wajah Jojo yang jadi pucat setelah digendong Ali dengan ekstrim. Suasana kacau di ruangan itu pun menjadi hening ketika Jojo sudah diturunkan, itu berkat kehadiran Hasan di sana. Jika tidak? Entahlah bagaimana aksi gila teman-teman Jojo yang sedang menggila.

Hasan, yang dikenal paling bijaksana di antara kelima anak itu memang yang paling tua, sekarang ia duduk di tahun terakhir sekolah menengah pertama.

“Aduh bagaimana nih nasib kita besok, Di? Aish, kenapa pula sih dengan si Jojo itu, tumben dia tidak mau mengajari kita,” ujar Ali pada Andi di teras rumah Jojo.  “Coba kita tanya Jojo, tapi tanyanya baik-baik ya, Li! Jojo itu jadi takut kalau kau bicaranya seperti tadi.” Jawab Andi.

Andi dan Ali pun masuk ke dalam rumah Jojo lagi, berhubung Ayah Jojo sedang tidak berada di rumah karena sedang pergi ke kota untuk menjenguk kakak perempuan Jojo, maka Jojo di rumah seorang diri. Ibu Jojo telah meninggal saat Jojo masih berusia tiga tahun. Ia tinggal dengan ayah dan kakak perempuannya, tetapi kakak perempuannya itu tengah berkuliah di kota.

“Jadi kamu tidak mau pergi ke rumah Ali hanya karena harus melewati rumah kosong itu?” tanya Hasan saat Ali dan Andi baru masuk ke dalam rumah. Andi, Ali, Aslan, dan Hasan pun saling berpandangan. Dan seketika tawa mereka pun pecah bersamaan.

Hanya karena itu Jojo tidak mau pergi ke rumah Ali? Pikir Hasan, Ali, Aslan, dan Andi.

Jojo memang memiliki satu kelemahan. Jojo itu anak yang penakut.

“Malam ini aku sendirian di rumah, jadi tidak berani lah aku pergi ke rumah Ali, mana harus lewat kuburan dan kebon yang banyak pohon bambunya pula. Ah, pokoknya tidak mau lah! Lain kali saja ya kalau ayahku pulang. Kalau kalian mau, belajar di sini saja sekalian.” Tawar Jojo pada teman-temannya.

“Tak bisa lah aku, Jo. Kamu tahu kan, adik perempuanku, dia juga sedang sendirian di rumah. Ini sudah semakin malam, aku tak bisa lah meninggalkan dia terus. Kasihan.” Ujar Ali sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ali mempunyai satu adik perempuan yang usianya masih lima tahun. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci di desa itu sementara ayahnya menjadi supir mobil sayuran di pasar, kedua orang tua Ali belum pulang ke rumah.

Aslan yang menjadi gemas melihat Jojo yang tidak mau membantu mengajari mereka pun kembali angkat bicara. “Jo, masa cuma karena kau takut lewat kuburan dan kebon jadi tidak mau membantu kami?  Aih, teman macam apa kau ini.”

Seketika Jojo menggelengkan kepalanya cepat lalu segera menjawab. “Sebenarnya tidak hanya karena hal itu saja, rumah ini tidak ada yang menjaga, lagi pula ayahku juga sudah berpesan padaku bahwa aku tidak boleh pergi kemana-mana selepas jam lima sore.” Jojo menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak pada teman-temannya. Jojo sebenarnya juga ingin membantu teman-temannya.

Sesaat setelah itu Jojo masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil beberapa buku miliknya lalu membawanya ke ruangan depan tempat teman-temannya tengah berkumpul. “Ini, kalian pelajari dulu saja buku catatanku, semoga membantu. Maaf ya aku tidak bisa pergi ke rumahmu, Ali”

***

“Jojo..!” panggil Aslan pada Jojo saat Jojo sedang berjalan ke arah sepedanya. Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu.

Jojo pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Aslan berlari-lari kecil menghampiri Jojo.

“Ada apa, Aslan?” ujar Jojo dengan tenang.

“Nilai ulangan matematika-ku tadi tidak jelek seperti biasanya lho! Aku dapat 80!” Seru Aslan girang sambil mengguncang-guncang bahu Jojo dengan semangat. “Terima kasih, Jo! Ini buku catatanmu aku kembalikan ya!” lanjut Aslan kemudian menyerahkan buku tulis berwarna kuning dengan gambar beruang milik Jojo. Jojo menanggapinya dengan anggukan dan senyumnya yang khas. “Sama-sama, tapi kamu tidak nyontek dari buku ini, kan?” canda Jojo pada Aslan.

“Enak saja!”

“Oh iya.., Jojo, sore ini kamu bisa datang ke rumahku, tidak? Ibuku masak banyak sekali, jadi ia menyuruhku mengajak teman-temanku untuk makan bersama dirumahku. Mau ya, Jo?” Jojo tampak berpikir sejenak lalu mengangguk pelan. “Ya.., semoga aku bisa datang. Sampai nanti ya!” Jojo menaiki sepedanya dan mulai mengayuh sepedanya menjauhi Aslan.

“Baiklah! Sampai jumpa nanti!” Seru Aslan sambil melambai-lambaikan tangannya di udara dengan semangat sambil melompat-lompat kecil pada Jojo. “Hati-hati!” lanjutnya lagi.

***

“ Jojo kok belum juga datang ya?” tanya Aslan pada Hasan. Hasan pun bergeleng pelan.

“Aku juga tidak tahu, mungkin sebentar lagi. Memang apa katanya padamu siang tadi?”

“Katanya sih ‘Ya.., semoga aku bisa datang. Sampai nanti ya. Itu saja sih’.” ujar Aslan menirukan ucapan Jojo sepulang sekolah siang tadi dengan tidak yakin. Ia melirik Ali dan Andi yang sepertinya sudah sangat kelaparan. “Jadi, sebaiknya kita tunggu saja atau bagaimana?” kali ini ia meminta pendapat pada ketiga temannya.

“Ah, biar saja lah anak itu, kita makan duluan saja! Aku dan Andi sudah lapar sekali nih, Lan!” Ali yang sedari tadi sudah memegangi perutnya yang memang telah menjerit-jerit minta diisi dengan makanan yang sudah siap berada di meja makan milik Aslan.

Seketika Hasan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ali dan Andi. Membuat kedua anak laki-laki yang sedang dilanda kelaparan akut itu cemberut kecut. “Rumahnya Jojo kan dekat dari sini. Kalau kalian berdua lapar, kalian ke rumah Jojo sana, jemput dia supaya cepat datang ke sini, jadi kalian berdua kan juga bisa cepat makan, hehehe.”

*

“Jojo..! Jojo..! Jooo..jooo..!!” Teriak Ali dan Andi bersahutan di depan rumah Jojo.

Pintu rumah Jojo perlahan terbuka dan muncul lah sesosok anak laki-laki bertubuh kurus tetapi cukup tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang seumuran dengannya. Untuk ukuran anak kampung tempat mereka tinggal, Jojo termasuk kategori anak kampung yang memiliki kulit lumayan putih dan bersih. Bukannya tidak pernah main panas-panasan, malah, setiap berangkat dan pulang sekolah, ia selalu menggunakan sepedanya membuat kulitnya yang cukup putih jika terkena sinar matahari akan berubah menjadi kemerah-merahan.

“Jojo..?!” Jerit Ali dan Andi hampir bersamaan saat melihat wajah Jojo yang pucat dan tubuhnya yang lemas. Seketika itu juga Ali dan Andi berlari menghampiri Jojo yang masih berdiri di dekat pintu.

“Aku tidak apa-apa. Tidak usah khawatir,” ujar Jojo pada Ali dan Andi. “Oh ya, aku sepertinya tidak bisa datang ke rumah Aslan, tolong sampaikan ya.” Ujarnya lagi mencoba untuk membuat senyuman. Awalnya Ali dan Andi sempat ragu tetapi mereka pun kemudian mengangguk mengerti.

“Tadinya kami datang ke sini karena ingin menjemputmu, tetapi sepertinya kamu sedang tidak enak badan, Jo. Sebaiknya kamu istirahat saja. Nanti kami akan bawakan makanan untukmu, ya! Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Jojo.”

***

“Hari ini Jojo kok tidak masuk sekolah lagi ya, Di?” tanya Ali pada Andi. “Kamu tahu dari mana memangnya, Li?” Andi naik ke atas sepedanya dan diikuti dengan Ali duduk di tempat duduk di belakang sepeda Andi.

Andi pun mulai mengayuh sepedanya sementara Ali yang duduk di boncengan sepeda Andi menepuk-nepuk bahu Andi dengan gusar. “Ya,.. ya.. ya!! Andi pelan-pelan bawa sepedanya. Bisa jatoh nih aku!” mendengar Ali teriak-teriak histeris begitu, Andi pun terkekeh pelan lalu memelankan laju sepedanya.

“Aslan yang bilang. Aku tahu dari Aslan, Jojo sudah dua hari tidak masuk sekolah. Parahnya, bocah itu tak masuknya tanpa keterangan. Mereka kan satu sekolah, pasti Aslan tahu lah.”

Andi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya sudah, kalau begitu kita jenguk si Jojo saja, bagaimana?”

“Aku sih mau-mau saja, tapi kenapa tidak bersama yang lainnya saja menjenguknya?”

“Ya sudah nanti sore saja kalau begitu, kita ajak Hasan dan Aslan ya.”

***

 Sore itu mereka berempat sampai di depan rumah Jojo. Suasana di sekitar rumah itu tampak sepi, cuaca juga sedang mendung. Langit sangat gelap, berwarna abu-abu kehitaman. Salah satu di antara mereka pun memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Jojo.

“Assalamualaikum.., permisi.., Jo.., jo..?”  ujar Andi sambil sesekali mengetuk pintu rumah Jojo.

“Sstt.., coba dengarkan..” ujar Aslan sambil memalang bibirnya dengan jari telunjuknya bermaksud agar membuat teman-temannya diam dan menyimak bersama. “Ada apa?” sahut Ali dengan berbisik.

Aslan tidak menjawab, ia mencoba untuk mendengarkan suara samar-samar yang terdengar di telinganya. “Suara. Aku mendengar suara, Ali.” Aslan pun menjawab dengan nada yang sangat pelan. Membuat teman-temannya menatapnya penasaran lalu ikut mempertajam pendengaran mereka.

“Kalian mendengarnya?” tanya Aslan pada ketiga temannya. Ali, Andi, dan Hasan pun mengangguk bersamaan.

“Suara itu.., apakah itu suara rintihan?” kali ini Hasan yang angkat bicara.

“Mungkin,” jawab Aslan dengan tidak yakin.

“Itu suara Jojo!” Seru Andi tiba-tiba dengan panik. “Ada apa dengan Jojo?” lanjut Andi lagi.

Saat itu juga Hasan, Aslan, dan Ali melemparkan sebuah tatapan kesal ke arah Andi, menyuruh Andi agar diam dan tidak banyak bicara. “Sstt! Jangan kencang-kencang, Andi.” Hasan mengingatkan.

“Ayo kita coba masuk ke dalam,” ujar Aslan dengan tenang.

“Tapi bagaimana caranya, Aslan?” Hasan dan Andi bertanya hampir bersamaan. “Jojo pernah tidak sengaja bilang kalau pintu belakang rumahnya tidak bisa terkunci, jadi ia hanya mengganjalnya.”

Mereka berempat akhirnya berjalan menuju pintu belakang rumah Jojo dengan gerakan mengendap-endap. Mereka berusaha untuk tidak menghasilkan suara apapun.

Ketika sampai di pintu belakang, ternyata benar apa kata Aslan tadi, pintu itu memang tidak bisa terkunci dan hanya diberi ganjalan.

Hasan, Ali, Andi, dan Aslan pun bergerak ke arah dapur rumah Jojo dan baru sampai di sana tiba-tiba mereka mendengar suara sesuatu yang dilempar dengan keras ke arah tembok sehingga menghasilkan suara ‘Pranggg’ dari pecahan kaca yang nyaring disusul dengan suara setengah berteriak yang tertahan. Membuat mereka berempat tersentak kaget lalu menghentikan langkah mereka. Apakah itu suara Jojo teman mereka?

“Sudah ayah bilang beratus-ratus kali! Kamu tidak ayah ijinkan untuk bergaul dengan empat parasit itu! Jika kamu masih tidak mau menurut, ayah akan buang kamu ke suatu tempat, Jojo! Kamu itu  kerjaannya hanya menyusahkan ayah terus. Ayah capek, Jojo.. Sakit yang kamu derita itu benar-benar membuat ayah harus mencari uang yang tidak mungkin ayah dapatkan untuk operasi. Kamu tahu, Jojo?”

Aslan dan ketiga temannya itu melihat Jojo tengah duduk sudut ruangan dengan lutut yang ditekuknya di depan tubuhnya. Jojo terlihat sangat tidak berdaya dan lemah. Tidak seperti yang sering mereka lihat. “Jojo memang sakit apa?” bisik Andi pada Aslan. Aslan hanya menaikkan bahunya singkat lalu kembali memerhatikan ke arah Jojo dengan seksama.

Jojo menggelengkan kepalanya dengan bergetar. “Ratusan juta, Jojo.” Ujar ayah Jojo lemah lalu kembali memukul Jojo dengan ikat pinggangnya, membuat Jojo kembali meringis kesakitan.

Melihat Jojo yang semakin disiksa oleh ayahnya, Aslan pun tidak bisa berdiam diri. Ia bangkit dari posisinya duduknya dan berseru dengan tegas. “Hentikan! Berhenti menyiksa Jojo, Paman!” seketika ayah Jojo menoleh ke arah Aslan dan menantapnya garang.

Ayah Jojo menarik sebelah ujung bibirnya membentuk sebuah seringai mengerikan.  Ayah Jojo semakin bergerak maju mendekati Aslan yang mulai menahan napasnya. Ia sedang menyiapkan dirinya kalau saja ayah Jojo akan menyakitinya seperti ia menyakiti Jojo tadi.

Ayah Jojo melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Aslan bagian kiri. Membuat tubuh Aslan sedikit terhuyung ke belakang. Di pipi Aslan, terdapat bekas tamparan yang sangat perih dan menyakitkan. ‘Jadi seperti ini yang dirasakan oleh Jojo selama ini?’ Pikirnya dalam hati.

Saat ayah Jojo akan melayangkan pukulan kedua ke arah Aslan, tiba-tiba pintu depan rumah Jojo terbuka dengan keras karena didobrak dari luar. Kepala desa dan beberapa warga masuk ke dalam rumah dan segera mengamankan ayah Jojo untuk dibawa ke pihak yang berwajib. Dan beberapa warga yang lain segera mengamankan Jojo dan Aslan yang terlihat sangat shock dan mengenaskan, mereka segera membawa Jojo ke rumah sakit terdekat dengan mobil milik kepala desa sedangkan Aslan dibawa ke rumahnya yang tidak terlalu jauh untuk diobati.

“Siapa yang memanggil warga, Di?” tanya Aslan pada Andi ketika mereka sudah berada di rumah Aslan. “Hasan dan Ali, mereka langsung pergi ke luar ketika melihat Jojo dipukul oleh ayahnya. Kamu tidak sadar ya saat mereka pergi ke luar untuk mencari bantuan?” Aslan bergeleng lemah.

“Terima kasih,”

“Untuk apa?”

“Menyelamatkanku,”

Ali, Andi, dan Hasan tersenyum simpul. “Sudah seharusnya, kan?”

“Sekarang sudah terjawab mengapa Jojo akhir-akhir ini menjadi berbeda dan berubah, ia ternyata dianiyaya oleh ayahnya sendiri ditambah pula ia ternyata sedang mengidap penyakit yang cukup parah.”

“Besok kita akan menjenguk Jojo di rumah sakit, jadi ayo kita pulang.”

***

Advertisements

About yolasekarini

currently taking law

2 responses »

  1. Regina ayudyaningsari pradani says:

    heh di suruh ke sekolah malah curhat di blog.wuuu..
    aku nunggu km p**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s