life-line-by-yolasekarini_2

a movie by Yolasekarini

LIFELINE

Main Casts: Cho Kyuhyun, Lee Donghae || Genre: Medical Drama, Frendship, Family, Romace || Duration: Chaptered || Rating: PG-17 / G

Note:

Sorry for being so late, guys. I really had a very tight and busy day in school-life. 😥 But still hoping you’ll love this fanfiction…

DELAPAN

            “I do love you, Sooran.”

You don’t.” Sooran menjawab dengan cepat. Ia tidak bisa mempercayai perkataan Kyuhyun segampang itu. Karena Kyuhyun tidak mungkin mencintainya.

Whatever you think, Sooran.”

“Kau mencintainya, bukan aku, Kyuhyun.”

Kyuhyun terdiam. Memalingkan pandangannya dari wajah Sooran.

“Tidak mungkin kau melupakannya secepat itu, Kyuhyun-ssi, kau pasti masih mencintainya.” Sooran berkata pelan. Sooran memandang Kyuhyun sesaat tetapi tak lama kemudian ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sooran tidak bisa melihat wajah pria itu. Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan pria itu.

Tentu saja, ia tidak bisa berbohong kalau saat ini hatinya memang berdebar sangat kencang. Ia kemudian mendengus pelan. Sangat pelan malah. Memikirkan perkataan Kyuhyun tadi hanya akan membuatnya ingin tertawa saja. Karena jelas sekali kalau itu tidak mungkin terjadi.

“Hei, aku sedang mengajakmu bicara, kau malah melamun.” Kyuhyun mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah Sooran. Memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.

Sooran tak menanggapi Kyuhyun. Ia hanya memutar bola matanya dengan asal.

Sooran juga tak mengerti apa sebenarnya maksud pria ini.

“Kau tidak mencintaiku. Aku tidak mencintaimu. Jadi sekarang sebaiknya aku pulang dan kau juga pulang. Sampai nanti.” Sooran beranjak berdiri dari kursinya. Hendak keluar dari restoran itu dan bergegas pulang.

Daripada harus meladeni pria tidak waras itu di sini, lebih baik ia pulang dan tidur di kasur empuk kesayangan miliknya.

“Choi Sooran!” Seru Kyuhyun dari arah belakang. Namun Sooran tak menghiraukan dan tetap berjalan menuju mobil.

“Ahh..,” Kyuhyun mengerang pelan saat ia tersandung sebuah batu kerikil kecil. “Sooran! Tunggu sebentar.” Serunya lagi berharap Sooran akan menoleh padanya.

Namun tak berapa lama tepat ketika Sooran baru saja membuka pintu mobilnya ia merasakan tangan seseorang tengah mencengkram pergelangan tangannya dengan cukup kencang. Sooran sontak menoleh karena terkejut.

Sooran seketika memejam kedua matanya saat Kyuhyun melumat bibirnya dengan lembut. Sangat lembut dan hati-hati.

Beberapa detik kemudian Kyuhyun membalikkan tubuh Sooran agar menghadapnya dan menyandarkan punggung Sooran ke pintu mobil. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di belakang kepala Sooran agar kepala gadis itu tidak sakit. Sementara tangan kiri Kyuhyun melingkar di pinggang ramping Sooran.

Untungnya malam itu tampak sepi. Sehingga tak ada orang yang melihat mereka berdua yang tengah berciuman dengan mesra di samping mobil.

Kyuhyun kemudian melepaskan ciumannya dan mata mereka pun bertemu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Sooran menyadari bahwa ia harus segera pulang ke rumah.

“Mm.. Aku harus pulang,” ujar Sooran dengan nada suaranya yang serak. Nyaris seperti berbisik.

Kyuhyun melangkahkan kakinya ke belakang. Memberi jalan untuk Sooran kemudian menjawab pelan. “Ya. Hati-hati.”

***

Di dalam mobil Sooran merasakan bibirnya basah.

Ia menyentuh bibir bawahnya dengan menggunakan jari telunjuk kanannya dengan sangat hati-hati.

Saat Kyuhyun menciumnya tadi sensasi yang ia rasakan adalah seperti melayang.

Sooran jadi heran kenapa bibir dan mulut pria itu terasa manis?

Berbeda dengan ciuman yang sebelumnya ia pernah beberapa kali lakukan dan rasakan dengan Lee Seungjae. Karena mantan bosnya itu menciumnya dengan cukup kasar dan memaksa. Jadi ia tak pernah merasakan sensasi apapun setelah berciuman dengan Lee Seungjae.

Sooran tak pernah merasakan ciuman selembut tadi. Sungguh membuatnya terasa tidak lagi berpijak di bumi.

Pria itu. Ah, kenapa ia memikirkannya terus?

Sooran memang tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia telah menyukai pria itu sejak Kyuhyun pernah mencoba menghiburnya ketika ia menangis di taman belakang rumah sakit malam itu.

Lalu, apa maksud dari ciuman itu? Apakah itu berarti Kyuhyun benar-benar mencintainya?

Tidak. Kyuhyun tidak mungkin mencintainya. Sooran menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

Ia dan Kyuhyun bahkan belum pernah dekat sebelumnya. Jadi bagaimana bisa Kyuhyun menyukainya? Malah saat itu ia yang menyukai pria itu.

Tiba-tiba sekelebat pikiran buruk terlintas di kepalanya.

Benarkah Kyuhyun hanya menjadikannya sebagai tempat pelampiasan terhadap Park Hyunjung?

Sooran memang tak banyak mengetahui siapa itu Park Hyunjung. Namun yang Sooran tahu hanyalah Kyuhyun pernah mencintai gadis itu. Mangka dari itu ia mati-matian melupakan Kyuhyun sejak malam dimana ia mengantar pria mabuk itu.

Air mata Sooran pun tak terasa jatuh dengan bebas di pipinya. Ia baru tersadar akan betapa bodoh dirinya saat menyadari bahwa ia hanya dijadikan sebagai pelampiasan Kyuhyun.

Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Ia masih punya harga diri. Dan itu berarti Kyuhyun baru saja menjatuhkan harga dirinya. Tidak, Kyuhyun tak bisa begitu saja menjatuhkan harga dirinya.

Ia harus melupakan pria itu. Ia tak boleh dengan mudahnya tergoda dengan pria kurang ajar itu. Ia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu lagi.

Mulai detik ini ia harus menjauhi pria itu.

Karena pria itu tidak benar-benar mencintainya. Sooran tahu itu. Ia bukan gadis bodoh seperti yang mungkin Kyuhyun pikirkan.

***

            Donghae kembali melihat jam tangan kulitnya dengan cemas. Seseorang yang ia nanti-nantikan itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Membuatnya tak bisa menghentikan kepalanya untuk tidak melihat jam.

Ia menjulurkan lehernya kemudian menoleh ke kanan-kiri untuk yang kesekian kalinya.

Donghae merasa ponselnya bergetar di dalam saku kemeja. Donghae tentu segera mengangkatnya bahkan sebelum ia melihat siapa yang menelepon.

“Donghae?” Butuh beberapa detik untuk Donghae agar mengenali suara itu. Suara itu adalah suara yang biasa didengarnya. Namun kenapa terdengar tidak seperti biasanya. Kali ini berbeda.

Donghae yang tak yakin kemudian dengan gerakan cepat ia melihat nama yang tertera di layar ponsel.

“Donghae, aku perlu berbicara padamu, kau ada waktu malam ini?” Raut wajah seketika Donghae berubah tak yakin.

“Kau bisa bicara padaku besok. Aku sedang ada urusan. Maaf sekali, Kyuhyun.”

Donghae pun memutuskan sambungan telepon.

Tak ada cara lain selain mengubungi orang yang ia tunggu itu. Cara terakhir yang sudah Donghae pikirkan jika Sila benar-benar tak datang.

Donghae mengeluarkan ponsel dari saku celana hitamnya. Ia menekan tombol angka 1 untuk beberapa saat tetapi ia tak langsung menaruh benda hitam tipis itu ke telinga kanannya.

Donghae geli sendiri saat menyadari bahwa ia telah mengganti tombol panggilan cepat untuk Kyuhyun yang sebelumnya menempati angka 1 di ponselnya sekarang telah bergeser di angka 2.

Bukannya menempelkannya di telinga, ia malah memutuskan sambungan telepon dengan menyentuh tombol berwarna merah.

Setelah beberapa detik ia mengutak-atik ponselnya dengan gerakan jari yang lincah di atas layar datar yang licin, ia pun kembali menyentuh tombol panggil. Tapi kali ini bukan tombol angka satu yang kali ini ia tekan cukup lama.

Kyuhyun adalah sahabatnya.

Dan akan selalu menjadi sahabatnya sampai mati sekalipun. Ia tak ingin hanya karena seorang wanita yang telah merebut hatinya membuatnya jadi melupakan sahabatnya sendiri.

Nada tunggu pun mulai terdengar di telingannya. Ia bangkit dari kursinya. Terlalu gugup jika harus menunggu telepon itu diangkat sembari duduk. Membuat ia menahan nafasnya sesaat, apakah suara yang selalu ia ingin dengar itu akan mengangkat telepon darinya.

“Donghae?”

Suara itu. Suara itu membuat Donghae terlonjak kemudian membalikkan tubuhnya dalam hitungan detik.

Seketika Donghae tersenyum sumringah memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. Tak peduli bahwa ia telah menunggu di restoran itu selama dua jam.

“Astaga, Donghae. Kenapa kau masih di sini?” Ujar Jung Sila dengan frustasi seraya mengacak poninya sendiri.

Jung Sila berjalan mendekat ke arah Donghae. “Memangnya kau tak menerima pesan dariku?”

Dengan wajah tak berdosanya Donghae menggelengkan kepalanya. Membuat Jung Sila terlihat gemas sekaligus merasa bersalah pada Donghae.

Donghae menjawab pertanyaan Jung Sila dengan santai. “Kau mengirimiku pesan?” ia tertawa pelan seraya menarik sebuah kursi untuk Sila agar gadis itu duduk.

Jung Sila tak langsung duduk. Ia menatap Donghae beberapa saat sambil menggigit bibir bawahnya dengan tak yakin.

Donghae terlalu baik padanya. Jung Sila adalah tipe seseorang yang sangat sensitif terhadap hal-hal seperti ini.

Ia bisa saja menangis terharu di sini setelah mengetahui bahwa Donghae sangat tulus padanya. Apalagi sebelumnya tak pernah ada laki-laki yang memperlakukannya sebaik ini. Hanya Lee Donghae.

“Iya, Donghae, aku mengirimimu pesan kalau aku tak yakin bisa datang. Ada persalinan mendadak. Mustahil bagiku untuk datang ke mari. Tapi ternyata kau tak membalas pesan itu. Dan aku takut kau masih menungguku. Jadi aku berfikir untuk pergi ke sini ketika persalinan itu selesai. Benar saja, ternyata kau memang menungguku.”

Mendengar penjelasan dari gadis itu, Donghae tertawa ringan.

“Kau menyebalkan, Donghae.” Donghae berhenti tertawa kemudian menumpukan kedua sikunya ke atas meja.

Donghae kembali tersenyum. “Begitukah? Kenapa?” ia pun melipat kedua tangannya di depan dada setelah ia menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kenapa kau begitu baik padaku, Lee Donghae?”

Mendengar itu Donghae menarik nafasnya. Menyesal kenapa ia bahkan tidak menyiapkan jawaban yang paling masuk akal.

“Karena aku menyukaimu,” Donghae meraih kedua telapak tangan Jung Sila yang berada di atas meja.

“Aku menyukaimu.” Ulangnya. Kali ini dengan lebih percaya diri.

Jung Sila terlihat ragu dan kemudian menatap Donghae untuk beberapa saat.

Donghae yang tengah menggenggam tangannya pun menggenggamnya lebih erat untuk memberikan rasa percaya diri pada gadis itu.

Jung Sila tanpa disangka-sangka melepaskan tangannya dari genggaman Donghae. Membuat Donghae terdiam dan menatapnya bertanya-tanya.

“Maafkan aku, Donghae,” ujar Jung Sila pada akhirnya sebelum ia beranjak berdiri dari kursinya.

***

            Donghae menekan digit terakhir password apartemen Kyuhyun yang sudah dihapalnya di luar kepala.

Ia ingat kalau malam itu Kyuhyun meneleponnya dan mengatakan bahwa Kyuhyun ingin bicara padanya. Siang tadi sebelum pulang ia mencari Kyuhyun di rumah sakit, namun Donghae tak dapat menemukan laki-laki kurus itu.

Pintu apartemen itu terbuka dan Donghae pun melangkah masuk.

Donghae melepas sepatunya dan menggantinya menjadi sandal rumah yang empuk. Di sebelah sepatunya ia melihat sepasang sepatu yang ia yakini adalah milik Kyuhyun.

Ia mencari Kyuhyun. Apartemen itu terlihat sepi seperti tidak ada orang. Tidak ada satupun suara yang terdengar oleh telinganya.

Donghae meraih knop pintu kamar Kyuhyun. Menekannya kemudian membuka pintu dengan perlahan.

Sepersekian detik kemeudian ia menghembuskan nafasnya keras karena lega menemukan Kyuhyun ada di dalam sana. Posisi Kyuhyun yang membelakanginya membuat Donghae tak dapat melihat wajah Kyuhyun, apakah sedang tidur atau terjaga.

Donghae menghampiri Kyuhyun yang tengah berbaring di atas tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh Kyuhyun yang tinggi semampai.

Donghae membuka selimut itu sedikit. Ternyata benar Kyuhyun sedang tidur. Ia pun memutuskan untuk membangunkannya saja.

Bahu Kyuhyun diguncang pelan. Membuatnya merasa terusik dan mulai mengerjapkan matanya.

“Ini aku, Lee Donghae.” Ucap Donghae pelan agar Kyuhyun tidak terlalu terkejut dengan keberadaan dirinya di dalam kamar Kyuhyun.

Kyuhyun kemudian membuka matanya. “Kenapa kau datang ke sini?” lanjutnya dengan bingung lalu kembali merebahkan dirinya dan kembali menyembunyikan seluruh wajahnya di bawah selimut.

Donghae berdecak samar. Ia berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke pemandangan indah kota Seoul. Pasti mahal membeli apartemen yang seperti ini, pikir Donghae dalam hati.

Donghae menyibak sedikit gorden coklat muda itu dan memandangi pemandangan di depannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali ke tepi tempat tidur Kyuhyun dan menepuk-nepuk Kyuhyun agar terbangun.

“Ada apa sih?” Kyuhyun bergumam pelan tanpa membuka matanya.

Donghae membuka selimut lagi agar wajah Kyuhyun terlihat. “Kau tadi menelfonku, jadi aku datang kemari,”

“Dasar pikun.”

Kyuhyun seketika bangun dan duduk. Donghae tertawa pelan dan berkata lagi. “Harusnya aku yang bertanya ada apa.” Kyuhyun beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah ke luar kamar.

Donghae tak menghiraukan. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Kyuhyun dan menyalakan televisi.

Tak lama Kyuhyun masuk lagi ke dalam kamarnya dengan membawa dua minuman kaleng di tangannya. Ia mematikan televisi sebelum ia duduk di atas tempat tidurnya kembali dan menyerahkan satu kaleng pada Donghae.

Tak ada suara apapun yang terdengar sebelum akhirnya Kyuhyun angkat bicara. “Donghae, selama satu minggu setelah ia tahu bahwa aku mengerjainya, ia tak pernah datang padaku dan tidak pernah menghubungiku. Dan selama satu minggu itu aku merasa aneh dan..,” Kyuhyun berhenti berkata. Donghae menoleh ke arahnya.

“Dan apa?” Donghae kembali meneguk minuman di tangannya.

“Dan aku merasa aku menginginkannya,” Kyuhyun mengusap wajahnya dan menarik rambutnya pelan. “Aku menginginkan dia, Donghae.”

Donghae tersenyum simpul dan menepuk bahu Kyuhyun pelan. “Kalau begitu, pergi dan dapatkan dia, Kyu.”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mengatakannya,” Kyuhyun berkata dengan ragu.

“Lalu?” Donghae meletakkan kaleng kosong itu di meja kecil di samping tempat tidur. “Dia pasti menolakmu, kan?” Ia merebahkan tubuhnya kembali dan menatap langit-langit sambil menunggu Kyuhyun kembali bicara.

Kyuhyun menatap Donghae lagi. “Ia bilang aku tak mungkin secepat itu melupakan Hyunjung,”

Donghae tersadar kalau Kyuhyun menyukai Hyunjung saat itu. Ia pun segera beranjak duduk lagi. Menatap Kyuhyun dan menyipitkan matanya. “Apa yang kau rasakan sekarang?”

“Apa?”

“Aku tidak tahu Donghae, aku tak tahu mengapa aku bisa melupakan Hyunjung secepat itu.”

“Astaga Kyuhyun! Aku tahu sekarang!” Seru Donghae kemudian memegang kedua bahu Kyuhyun.

“Saat itu kau berarti tidak mencintainya, kamu mungkin memang menyukainya dan merasa simpatik dengan gadis itu, hanya sebatas itu, kau tidak mencintainya.”

***

Seperti hari-hari lainnya, siang ini Lee Seungjae menyempatkan dirinya untuk menjemput Olivia di sekolah, karena sekolah keponakan perempuannya itu memang tidak berada jauh dari kantornya.

Namun hari ini ada yang berbeda, Lee Seungjae mengajak Goo Eunra untuk menjemput Olivia sekalian ia mau mengenalkan Goo Eunra pada Olivia dan sebaliknya.

Goo Eunra telah memutuskan untuk tinggal menetap di Seoul dan ia bahkan sudah mulai bekerja di salah satu perusahaan yang berada di Seoul sejak minggu lalu, hanya perlu beradaptasi sedikit lagi.

Mobil mewah berwarna hitam yang dikendarai oleh Lee Seungjae itu mulai memperlambat kecepatan saat memasuki kawasan sekolahan berstandar internasional yang tidaklah mudah untuk dapat menjadi siswa di sana.

Tak berapa lama kemudian Lee Seungjae menghentikan mobilnya sesaat di depan lobi dan menemukan Olivia tengah berdiri menunggu.

Karena Olivia sudah sangat mengenali mobil yang baru datang itu, ia pun segera menghampiri namun sebelum ia membuka pintu mobil, kaca jendela mobil perlahan terbuka dan menampakkan sesosok perempuan yang belum pernah ia lihat sebelumnya tetapi sekarang berada di dalam mobil bersama pamannya.

“Olivia? Cepat masuk mobil, sudah banyak mobil di belakang yang mengantri,” itu Pamannya yang berkata. Membuat Olivia yang tadi memandangi perempuan yang duduk di jok sebelah pamannya itu kemudian segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang pamannya, padahal tempat duduk yang wanita itu duduki sekarang adalah tempat duduk yang biasa Olivia duduki ketika ia sedang bersama pamannya.

Olivia yang biasanya langsung bercerita banyak tentang hal-hal menarik yang ia lakukan di sekolah ketika ia masuk mobil kali ini tidak mengeluarkan sepatah katapun dan hanya memandangi jalanan lewat jendela tanpa menghiraukan pamannya yang mencoba mengajaknya bicara.

Goo Eunra yang sedari tadi tidak tahu harus berbuat apa di tengah suasana yang terasa canggung itu pun akhirnya menyerah dan tidak mengatakan sesuatu sampai akhirnya Lee Seungjae membelokkan mobilnya memasuki halaman sebuah restoran mahal di kawasan Gangnam.

Namun sepertinya Olivia telah berhasil mengunci bibirnya untuk tidak berbicara selama mereka makan siang bersama. Padahal restoran itu adalah restoran yang Lee Seungjae dan Olivia sukai dan mereka berdua juga sering datang ke mari jika Lee Seungjae sedang memiliki waktu longgar.

Walaupun pada kenyataannya baik Lee Seungjae dan Goo Eunra sudah berusaha mengajak gadis yang sekarang menduduki tahun pertama sekolah menengah pertama itu namun tidak juga berhasil.

Lee Seungjae tidak bisa berbuat banyak selama ia berada di restoran itu dan memutuskan untuk mengakhiri makan siang yang tidak nyaman itu. Goo Eunra yang merasa tidak enak pun akhirnya pamit untuk pulang setelah mereka selesai. Walaupun Lee Seungjae memaksa agar ia mengantarkan Goo Eunra pulang namun tampaknya Goo Eunra tidak bisa membiarkan hal itu.

Goo Eunra merasa keponakan Lee Seungjae itu tidak menyukai dirinya.

***

Pintu apartemennya ia hempas kencang ketika ia masuk ke dalam setelah keponakannya masuk lebih dahulu.

“Olivia!” Lee Seungjae melempar dengan asal jasnya jatuh ke lantai. Melonggarkan dasinya dan menatap keponakannya itu dengan marah.

Mendengar seruan itu Olivia refleks menghentikan langkahnya untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.

“Paman sedang bicara padamu, Olivia.” ujar Lee Seungjae tajam seraya meraih sebelah tangan Olivia lalu menariknya agar keponakannya itu berbalik.

Olivia tidak menatap mata Lee Seungjae, ia tahu kalau pamannya itu pasti sangat marah padanya karena sikapnya selama di jalan tadi.

“Olivia sekarang jawab paman, kenapa kamu bersikap seperti itu di depan Goo Eunra, apakah sikapmu tadi pantas, jawab paman Olivia.”

“Kamu sudah membuat paman malu, bagaimana jika ia mengira paman tidak mengajarimu cara bersikap dan menghormati orang lain, paman tidak habis pikir sudah berapa ribu kali paman selalu mengajarimu untuk selalu bersikap baik dengan orang lain.” Nada bicara Lee Seungjae berubah putus asa, laki-laki itu pun duduk di sofa sambil menarik rambutnya ke belakang, mencoba untuk mengurangi pusing yang datang ketika ia sedang merasa marah.

Lee Seungjae menutup matanya sesaat. Ia teringat ketika ia berjanji di hari kematian kakak perempuan satu-satunya itu, ia berjanji akan membesarkan dan mengurus Olivia seperti anaknya sendiri dan akan menjadikan Olivia wanita yang baik hati seperti kakaknya dulu. Ia tidak ingin mengecewakan kakaknya. Tentu saja.

“Aku minta maaf, Paman,”

Kalimat itu membuat Lee Seungjae seketika membuka matanya dan menatap Olivia dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak mengira Olivia akan meminta maaf atas kelakuannya tadi.

Lee Seungjae kemudian beranjak berdiri dan menghampiri Olivia yang masih berdiri di sana. Ia meraih Olivia dan memeluknya. “Berjanji pada paman kalau kamu tidak akan mengulangi hal semacam itu lagi.”

Walaupun Lee Seungjae hanya merasakan anggukan Olivia dari dalam pelukannya, ia sudah cukup puas dan akhirnya memperbolehkan Olivia pergi ke kamar untuk beristirahat. Karena selama ini Lee Seungjae tidak pernah menuntut apapun dari Olivia Song, ia hanya ingin Olivia menyadari kesalahannya lalu meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

***

“Lusa nanti rumah sakit akan kedatangan mahasiswa-mahasiswa dari universitas. Mereka akan melihat dan menyaksikan jalannya operasi bedah saraf.”

Ruang meeting itu tampak hening menunggu pria dengan rambut yang mulai memutih itu kembali bicara.

“Nah karena berdasarkan jadwal pada lusa nanti ada empat operasi bedah saraf, maka yang akan dilihat oleh para mahasiswa itu adalah operasi yang akan dikerjakan oleh Lee Donghae.” Lanjut sang kepala rumah sakit dengan cukup bangga.

Membuat Donghae seketika melirik Kyuhyun sekilas dan Kyuhyun menanggapinya dengan mengembangkan senyumannya yang jika dilihat oleh wanita, pasti akan histeris karena terpukau.

Tatapan dan senyuman yang diberikan oleh Kyuhyun itu begitu tulus. Menyiratkan sebuah dukungan sepenuhnya pada Donghae. Ya, dukungan tulus dari seorang sahabat.

***

Jung Sila melangkahkan kakinya di area parkir basement rumah sakit dengan rasa kantuk yang telah sepenuhnya menguasai dirinya.

Tungkai kakinya terasa nyeri bukan main seperti akan patah. Sangat sangat pegal, perih, dan panas setelah seharian memakai sepatu heels. Karena sepatu flat yang biasa ia pakai untuk bekerja sehari-hari ternyata sudah jebol dan rusak akibat terlalu sering dipakai olehnya.

Padahal sepantunya rusak baru pagi tadi tepat saat ia akan berangkat kerja. Tapi ada untungnya juga, jika rusak dan jebolnya saat ia sudah berada di rumah sakit malah akan membuatnya malu saja, bukan?

Sila berulang kali menekan-nekan tombol yang ada di kunci mobilnya itu. Namun pintu mobil yang sedari tadi ia coba tarik tak kunjung bisa terbuka.

Tidak tahu kah bahwa ia sudah mengantuk setengah mati seperti ini malah ada saja hambatan yang membuatnya semakin lama untuk sampai di rumah.

Tak ada cara lain untuk membuka pintu selain menggunakan cara manual yang paling kuno, yaitu menyolokkan kunci mobil ke lubang kunci yang ada di salah satu pintu mobil yang terdapat di dua pintu bagian depan. Cara ini bahkan hampir tak pernah ia lakukan sejak membeli mobil.

Sila mengumpat pelan ketika ia berhasil menyolokkan kunci itu namun ternyata tak bisa diputar.

Karena putus asa, Sila akhirnya menendang ban depan mobil dengan heels bagian depan miliknya. Membuatnya agak terhuyung ke belakang karena ternyata ban mobil itu cukup keras.

Ia pun berjongkok seraya mengusap-usap kakinya yang terasa semakin tersiksa dan menderita. Tak dapat dipungkiri bahwa sesekali ia meringis karena kakinya yang perih.

Namun beberapa saat kemudian, gadis itu sedikit terlonjak seraya mengangkat wajahnya ketika menyadari bahwa seseorang telah berdiri tepat di depan tubuhnya yang saat ini sedang berjongkok tak jauh di depan ban mobil sialan itu.

Jung Sila mendongakkan wajahnya. Kemudian ia dapat melihat wajah sempurna milik Donghae yang sedang mengulurkan tangan kanannya di depan wajahnya. Sementara tangannya yang lain dimasukkan ke dalam saku celana hitamnya.

“Mobilmu ada di sebelah sana, dear,” ujar Donghae dengan suara yang sangat lembut dan pelan. Terdengar seperti bisikan yang sangat indah di telinga Sila.

“Biar aku membantumu berdiri,” Donghae pun akhirnya mengeluarkan sebelah tangan dari saku celananya untuk membantu Sila berdiri.

Dengan hati-hati, Donghae membantu gadisnya itu berdiri. “Kau tampak tak nyaman dengan sepatu itu,” Donghae tersenyum simpul ke arah Sila.

Karena kikuk dan tak ingin dikira lemah, Jung Sila hanya menggeleng pelan ketika ia sudah berhasil berdiri tegak lagi. “Tidak. Aku baik-baik saja.”

Donghae mengangguk pelan kemudian meraih satu tangan Sila. “Aku antar kau ke mobilmu.”

Mereka sampai di samping mobil Sila. Donghae menuntun Sila saat berjalan ke mobil milik gadis itu. Yang sebenarnya tak jauh dari mobil yang tadi.

“Terima kasih.” Ujar Sila dengan pelan karena tak tahu harus bicara apa. Suasana di antara mereka berdua benar-benar canggung.

Dan karena benar-benar sudah tak tahu apalagi yang harus ia katakan, ia akhirnya memutuskan untuk segera pulang.

Saat Sila baru akan membuka pintu mobilnya, Donghae menahan tangannya.

“Aku tak tahu apa yang membuatmu menolakku saat itu. Tapi aku rasa kau harus mengetahui satu hal bahwa aku masih mengharapkanmu, Sila.”

Donghae menatap gadis itu tepat di matanya yang berwarna coklat terang.

Sila terdiam sesaat namun sesaat kemudian bibir Donghae telah berada tepat di atas bibirnya.

Donghae kemudian melumat bibir Sila dengan agak terburu-buru. Mengekspresikan bahwa ia sangat menginginkan gadis itu, juga sebagai luapan ketidaksetujuan atas penolakan Jung Sila terhadap dirinya tempo hari.

“Donghae.. Hentikan,.. Ini,.. Tidak benar..” Jung Sila berkata dengan susah payah disela-sela ciuman Donghae yang semakin liar.

Mendengar kalimat itu, Donghae melepaskan ciumannya secara tiba-tiba. Membuat Jung Sila agak kecewa sebenarnya.

“Maaf, maafkan aku. Sila, aku.., aku tidak bermaksud,” Donghae tak dapat meneruskan lagi kata-katanya sebelum akhirnya ia mundur satu langkah ke belakang.

Melihat hal itu hati kecil Jung Sila sesungguhnya meneriak-neriakkan nama pria itu. Ia ingin Donghae kembali memeluk dirinya ke dalam dekapannya, membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.

Donghae berbalik dan mulai melangkahkan kakinya menjauh seperti ia tak berdaya. Membuat Sila menggelengkan kepalanya keras. Dan hatinya kembali berdebat apa yang harus ia lakukan kali ini.

“Donghae,.. Tolong jangan tinggalkan aku.” Sila berkata tepat ketika air mata pertamanya jatuh di pipinya. Suaranya serak dan bergetar.

Ia berlari menghampiri Donghae. Dan pria itu seketika membalikkan tubuhnya untuk menangkap tubuh Sila.

Jung Sila jatuh ke dalam pelukan Donghae. Pria itu memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Sangat erat. “Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu, Sila.” Donghae mengecup seluruh wajah Sila bergantian. Kening, pipi, mata, dagu, hidung, sampai akhirnya ia mencium bibir Sila dengan singkat dan kembali menatap kedua bola mata coklat Sila yang ia sukai.

“Ssttt.. Jangan menangis, sweet. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” Lanjut Donghae lagi kemudian mengangkat wajah Sila agar menatapnya. Lalu ia mengusapkan jari-jarinya yang panjang dan putih ke kedua pipi Sila dengan perlahan untuk menghapus sisa-sisa air mata gadis itu.

Tak berapa lama kemudian ia melepaskan pelukannya tetapi ia kemudian merangkul Sila dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.

***

Malam itu Kyuhyun tak segera melajukan mobil hitamnya ke apartemen yang biasa ia datangi sehabis pulang kerja.

Kyuhyun sendiri tak tahu akan pergi ke mana.

Ia tadi sempat menghubungi Donghae, namun temannya itu tampaknya sedang sibuk sehingga tidak menerima telepon dari Kyuhyun.

Baru kali ini ia merasa kesepian. Malam ini sungguh terasa berbeda. Padahal sudah lebih dari enam tahun ia menghabiskan hari-harinya seorang diri seperti ini setelah dari rumah sakit.

Namun mungkin karena dulu ia sering pergi keluar bersama Donghae membuat ia tidak terlalu kesepian. Mungkin karena sekarang Donghae telah memiliki kesibukan sendiri bersama seorang yang Donghae cintai sehingga tidak lagi bisa pergi keluar bersama Kyuhyun.

Kyuhyun merasa ia menginginkan pulang. Pulang ke rumah dimana orang-orang yang ia cintai menyambut kedatangannya.

Kyuhyun menginginkan keluarganya. Dimana ia dapat menceritakan semua yang ia telah lakukan selama ini.

Ia ingin menceritakan kehidupannya yang selama ini hanya ia ceritakan pada Donghae.

Namun sekarang Donghae sepertinya sudah tidak bisa lagi mendengarkan ceritanya. Ia tak mungkin bisa menuntut Donghae agar berbagi cerita dengannya. Ia harus mengerti bahwa Donghae memiliki kehidupan sendiri.

Kyuhyun memandang lurus ke jalanan di depannya. Ia kembali menekan pedal gas semakin dalam. Mobilnya pun bergerak lebih cepat. Ia menyibukkan dirinya untuk tetap fokus menyetir.

Kyuhyun tak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Ia menyerah dan air mata itu pun berjatuhan di wajahnya.

Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia mengeluarkan air matanya seperti ini.

***

Kang Jihyun terlihat resah. Sedari tadi ia sibuk menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya. Matanya pun terlihat bergerak mencari seseorang.

Kali ini ia menghubungi Lee Donghae. Namun panggilan teleponnya tidak dapat terhubung karena yang ponsel orang yang ia hubungi sedang tidak aktif.

Hal itu membuat Kang Jihyun kembali memutus sambungan dan mencari nama lain yang ada di kontak handphone-nya.

Ia kembali menaruh ponsel itu di dekat telinganya. Sambil menunggu orang di seberang sana mengangkat teleponnya, ia meraih gagang pintu yang ada di depannya.

Ruangan itu terkunci. Ia pun tak dapat masuk ke dalam sana. Ia juga tidak yakin apakah di dalam sana ada orang yang ia maksud.

Kang Jihyun pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku karena putus asa tidak ada yang dapat ia hubungi sekarang.

Hari itu memang sudah cukup malam. Kyuhyun pun mungkin sudah pulang.

Ia baru saja menonton interview mereka yang dilakukan beberapa hari lalu. Itulah mengapa ia kemudian segera mencari Cho Kyuhyun.

“Kyuhyun sudah pulang?” Tanyanya pada salah satu suster yang sedang berjalan di dekatnya.

Suster itu pun mengangguk. “Mungkin sejak satu jam lalu.” Balasnya.

***

Kyuhyun memarkirkan mobilnya di depan sebuah bar. Ia sendiri tidak sedang ingin mabuk. Ia hanya tidak tahu harus melajukan mobilnya ke mana.

Setelah sekitar satu jam membawa mobilnya melintas jalan raya kota Seoul tak tentu arah ia pun memutuskan untuk berhenti.

Setelah ia turun dari mobil ia menutup pintu lalu mengucinya.

Malam hari di kawasan ini masih begitu ramai oleh orang-orang yang berjalan kaki. Sehingga Kyuhyun memutuskan untuk menjadi salah satu orang yang berjalan di sana.

Banyak sekali kedai makanan yang dipenuhi orang. Mulai dari yang kaki lima sampai restoran mahal pun terlihat penuh. Kyuhyun tak tertarik ikut ke dalamnya.

Kyuhyun terus berjalan. Ia dapat melihat orang-orang yang sedang berada di dalam restoran dan kedai karena semuanya berkaca transparan.

Sampai di dekat sebuah restoran, Kyuhyun tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Ia mengenali sosok wanita yang tengah masuk ke dalam sebuah restoran  bersama dengan seorang pria.

***

Kyuhyun menutup pintu mobil dengan sangat keras. Tangannya mencengkeram kemudi mobil dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di sana.

Kaca jendela mobilnya diketuk oleh seseorang yang adalah tukang parkir bar itu. Kyuhyun menoleh dengan malas dan ia dapat melihat ekspresi khawatir dari pria yang berdiri di balik jendela mobilnya itu.

Mungkin tukang parkir itu heran dengan Kyuhyun yang ada di dalam mobil tapi tidak juga menjalankan mobilnya.

Kyuhyun membuka jendelanya dan berkata bahwa ia tidak apa-apa.

Mobil Kyuhyun pun beranjak meninggalkan bar itu dan kali ini ia berniat untuk segera pulang ke rumah.

Sesampainya Kyuhyun di rumah, ia segera pergi ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia masih tidak menyangka bahwa ia melihat Sooran sedang pergi berkencan dengan mata kepalanya sendiri.

Kyuhyun mencoba memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mencoba menghapus apa yang ia lihat saat itu.

Benar-benar malam yang buruk untuk Kyuhyun. Biasanya jika sedang kacau seperti ini Kyuhyun pasti menghubungi Donghae, tapi kali ini sepertinya ia harus melewatinya seorang diri.

Kyuhyun mengulurkan tangannya, meraih handphone yang ia taruh di atas meja dekat tempat tidur. Ia menyalakan kembali ponsel itu yang sejak sore tadi ia matikan.

Ponselnya bergetar beberapa kali karena ia menerima cukup banyak pesan dan panggilan tidak terjawab. Setelah ia mengecek lagi ternyata ada sebuah pesan suara dari Kang Jihyun.

Suara Kang Jihyun terdengar memenuhi ruang tidur Kyuhyun. Membuat pemilik kamar itu pun mendengarkannya dengan seksama sambil melihat langit-langit kamarnya.

Walaupun telah mendengar isi pesan suara itu, Kyuhyun tetap tidak berniat untuk membalas lewat pesan singkat. Ia ingin segera tidur dan melupakan semuanya.

***

Semua orang di rumah sakit tahu bahwa Kang Jihyun sudah bukan Kang Jihyun yang dingin seperti dulu, namun sekarang Kang Jihyun memang sudah tidak dingin lagi tetapi dibalik senyumannya ia sebenarnya sedang dalam kondisi tertekan dan depresi, ia harus merawat Kang Yeonhee seorang diri tanpa mengetahui kapan adiknya itu kembali membuka matanya.

Mengingat saat itu Kang Jihyun sempat diberi pemberitahuan bahwa rumah sakit akan melepas seluruh alat penunjang kehidupan Kang Yeonhee jika dalam batas waktu yang ditentukan adiknya itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Kang Yeonhee masih dapat bertahan karena alat-alat yang ada di tubuhnya. Jantungnya berdetak dan ia bernafas karena alat-alat itu yang melakukannya.

Karena Kang Yeonhee telah berada dalam masa pasif, dimana ia tidak dapat melakukan apapun, dan berarti otak dari Kang Yeonhee sudah mati. Angka harapan hidup juga semakin mengecil. Mendengar hal itu Kang Jihyun merasa sangat terpukul.

Sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk membawa Yeonhee kembali ke rumah dan melakukan perawatan di rumahnya sendiri layaknya di rumah sakit. Tentu saja itu tidak mudah baginya mengingat biaya yang ia keluarkan juga semakin besar.

Kang Jihyun memang tidak pernah marah lagi. Tetapi sikapnya justru berubah menjadi tidak peduli pada dirinya sendiri. Ia merasa kosong.

Malam itu mobilnya melintas cepat. Ia harus bergegas pulang karena hari ini ia sudah meninggalkan Yeonhee sejak pagi tadi. Karena setelah pulang dari rumah sakit, Kang Jihyun sendiri yang merawat Yeonhee.

***

Di rumah sakit, Park Luna tengah sibuk mencari dokter konsulennya itu kemana-mana. Semua orang yang ia tanya tentang keberadaan Kang Jihyun selalu menjawab tidak tahu dimana Kang Jihyun berada.

Luna mulai putus asa dan kembali ke ruangan untuk para dokter muda. Ia harus menyerahkan jurnal pada dokter konsulennya itu malam ini juga, namun bagaimana jika Kang Jihyun yang adalah dokter konsulennya itu tidak sedang berada di rumah sakit.

Jika saja jurnal yang saat ini ia genggam itu tidak seberapa penting, ia tidak akan menjadi sepanik ini.

“Luna, aku tadi bertanya pada suster Hwang, dia bilang dokter Kang sudah pergi dari rumah sakit. Kamu masih belum mengumpulkan jurnal itu?” Park Luna sampai tidak menyadari jika seseorang mendekat ke arahnya dan berbicara dengannya.

Seo Jeongsik melirik ke arah jurnal yang berada di genggaman tangan temannya itu. Menarik satu kursi di sebelah Luna kemudian menunggu Luna menjawab pertanyaannya.

Park Luna menghembuskan nafasnya kemudian menggeleng. “Kau tahu kan, kemarin ibuku sakit, jadi aku baru kembali ke sini siang tadi, dan jurnal ini baru selesai beberapa menit lalu.”

Seo Jeongsik yang dulu pernah kena marah oleh Kang Jihyun kemudian menatap Luna kasihan. Bagaimana jika temannya itu nanti kena marah oleh Kang Jihyun jika telat mengumpulkan jurnal?

“Kamu harus mengumpulkan jurnal ini sebelum besok, kalau tidak ia bisa tambah marah,” Jeongsik melepas jas putihnya kemudian beranjak dari kursinya ke loker miliknya.

Luna memperhatikan Jeongsik sesaat. “Kurasa juga begitu,”

Jeongsik kini telah memakai sweater hangatnya. “Ayo, aku antar kamu mencari dokter Kang, pasti dia sudah pulang.”

Pintu ruangan itu terbuka dan Han Hyerin masuk ke dalam. Ia melihat Luna tengah duduk sementara Jeongsik berpakaian seperti sudah akan pulang. “He kamu mau kemana, Jeong?” Tanyanya kemudian setelah ia duduk di salah satu kursi.

“Aduh tidak perlu mengantarku, nanti kalau kamu mengantarku malah ia bisa tambah marah, seperti dulu kamu mengantar suster Hwang.” Luna tertawa melihat Jeongsik cemberut.

“Aku pergi dulu.” Luna bangkit berdiri dan keluar ruangan.

***

Karena sebelunya Park Luna sudah pernah datang ke apartemen Kang Jihyun membuat ia tidak perlu repot-repot mencari tahu di mana alamat rumah dokter konsulennya itu.

Luna menekan tombol bel. Namun setelah dua menit menunggu, pintu di hadapannya itu belum juga dibuka.

Di luar sana hujan semakin deras, untung saja Park Luna tidak kehujanan begitu banyak, namun tetap saja bajunya lumayan basah.

Ketika Park Luna tengah merapikan rambut dan bajunya kembali, pintu apartemen di depannya itu terbuka. Luna pun dapat menemukan dokter konsulennya itu berdiri di balik pintu, namun tidak berani menatap ke arah mata Kang Jihyun.

Kali ini Kang Jihyun menatap Luna menunggu agar dokter muda yang masih dalam bimbingannya itu angkat bicara.

Tanpa membalas tatapan Kang Jihyun, Park Luna pun mengulurkan jurnal yang sedari tadi ia pegang seraya mengatakan, “Kemarin saya tidak datang ke rumah sakit karena ibu saya sakit, jadi hari ini saya baru kembali dan jurnal ini baru dapat saya buat hari ini.” Luna membungkukkan sedikit tubuhnya, meminta maaf karena telah telat mengumpulkan jurnal yang seharusnya sudah ia kumpul pagi tadi.

Park Luna yang baru berani menatap Kang Jihyun itu pun sedikit terkejut mendapati Kang Jihyun dalam keadaan tidak biasa. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya berantakan begitu pula dengan pakaian yang dikenakan Kang Jihyun.

Sebelum bahkan Kang Jihyun menerima jurnal dari tangan Luna, tiba-tiba ia berkata dengan tajam dan dingin. “Pergi dari sini,” Otomatis kalimat itu membuat Luna terkejut. Apakah dokter konsulennya itu benar-benar marah karena ia telat mengumpulkan jurnal?

“Kenapa kau datang kembali,” Mendengar itu Luna menjadi bingung, apakah sebaiknya ia segera pamit pulang. Ia baru menyesali kenapa tadi ia tidak menerima tawaran Jeongsik untuk ikut menemaninya menemui Kang Jihyun.

Tidak berapa lama kemudian Park Luna pamit dan membalikkan tubuhnya. Namun sepersekian detik kemudian Kang Jihyun menarik tangannya dengan cukup keras membuat ia refleks berteriak walaupun tidak keras karena sakit.

Kang Jihyun menarik tubuh Luna agar gadis itu masuk ke dalam apartemennya, ia menutup pintu dengan asal dan menyudutkan tubuh Luna dengan nafasnya yang memburu.

Park Luna tidak bisa mengartikan tatapan mata Kang Jihyun, hanya kilatan marah dan emosi yang dapat ia rasakan. Luna tidak dapat melawan, karena kedua tangan Kang Jihyun yang tengah mencengkram bahunya dengan kuat.

Beberapa detik kemudian, Kang Jihyun mencium bibir Luna dengan liar. Ciuman itu semakin dalam sampai akhirnya Kang Jihyun kehabisan oksigen dan melepaskan bibirnya dari bibir Park Luna.

Namun tidak berapa lama, cengkaraman di bahu Luna mengendur, kepala Kang Jihyun menunduk dan Park Luna dapat merasakan bahu Kang Jihyun bergetar.

Kang Jihyun mengangkat wajahnya dan Park Luna dapat melihat air mata membasahi seluruh wajah tampan dokter konsulennya itu. Ia tidak pernah melihat Kang Jihyun sekacau ini. Ada apa sebenarnya dengan Kang Jihyun?

Park Luna semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap Kang Jihyun yang begitu cepat dan drastis.

“Kau mabuk, Kang Jihyun-ssi.” gadis itu kemudian dapat mencium aroma alkohol dari mulut pria itu. Membuat Park Luna mencoba untuk menuntun Kang Jihyun untuk dapat duduk ke sofa terdekat yang berada di ruang tengah.

Setelah merebahkan tubuh Kang Jihyun ke atas sofa, ia tidak langsung pergi.

Malahan ia memposisikan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya tepat di samping sofa di mana ia dapat melihat wajah Kang Jihyun dengan sangat jelas.

Pasti dokter konsulennya itu sedang dalam keadaan yang buruk, sampai-sampai ia mabuk seperti ini.

Luna menggenggam salah satu tangan Kang Jihyun yang merupakan dokter yang membimbing dirinya selama ia berada di rumah sakit.

Hembusan nafas yang dikeluarkan pria itu sudah mulai teratur walaupun kedua matanya masih terpejam, Park Luna pun menarik ujung-ujung bibirnya, ia tersenyum tipis.

Park Luna bangkit berdiri beberapa saat kemudian. Ia melangkahkan kakinya memasuki sebuah kamar tidak jauh dari sofa di mana Kang Jihyun masih tertidur. Ia menemukan seorang gadis perempuan terbaring di sana. Gadis itu adalah Kang Yeonhee, adik Kang Jihyun.

Tanpa menimbulkan suara, Luna menghampiri ranjang di mana Yeonhee terbaring tidak sadarkan diri sejak beberapa minggu lalu akibat kecelakaan yang menimpa gadis malang itu.

Pasti Kang Jihyun sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan adiknya ini. Merawat Yeonhee yang tak kunjung membuka mata telah membuat Kang Jihyun berada dalam kondisi yang sulit.

Kang Jihyun selalu melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain. Itulah mengapa kali ini pria itu terliat frustasi dan lelah karena telah menyimpan segala masalahnya seorang diri tanpa pernah berbagi cerita pada seseorang.

Sudah hampir malam, Park Luna mau tidak mau harus pulang. Sesungguhnya ia berat hati harus meninggalkan apartemen itu dengan Kang Jihyun yang baru saja mabuk dan adiknya yang sedang koma.

Park Luna keluar dari kamar dan menghampiri sofa untuk memastikan untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pulang.

Tak lama kemudian ketika ia hampir sampai di pintu utama, Kang Jihyun memanggil namanya dengan pelan. Hal itu membuat Luna refleks menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk melihat Kang Jihyun, namun mata pria itu masih terpejam. Takut Kang Jihyun segera bagun dan sadar, ia pun bergegas ke pintu dan keluar. Karena ia harus pulang sebelum hari semakin malam.

***

Donghae terbangun di pagi hari setelah merasakan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar hotelnya.

Ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Ponselnya bergetar pelan tepat ketika ia selesai memakai jas hitamnya. Donghae pun segera melihat isi pesan yang baru saja diterimanya itu.

Melihat isi pesan itu Donghae pun tersenyum senang. Ia baru saja dikabari bahwa apartemennya sudah dapat ditempati lagi setelah proses renovasi yang memakan waktu cukup lama dan membuat Donghae harus mengeluarkan uang ekstra untuk membayar kamar hotel itu setiap harinya.

Lalu, ia segera menyimpan ponselnya ke dalam saku kemejanya sebelum akhirnya ia turun dan pergi ke rumah sakit.

***

Kyuhyun melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan kurang bersemangat tidak seperti hari-hari biasanya.

Rambutnya yang belum tersisir rapi dan tidak memakai dasi serta jas yang biasa selalu dokter-dokter lain gunakan ketika pergi bekerja.

Hari ini Kyuhyun merasa kepalanya sangat sakit. Ia merasa tidak terlalu sehat.

***

Pagi itu di rumah sakit sudah cukup banyak orang yang datang. Termasuk Kang Jihyun yang baru saja keluar dari mobilnya.

Saat berjalan di lobi rumah sakit ia menyempatkan dirinya bertanya pada salah satu suster yang tengah berada di resepsionis untuk menanyakan apakah Kyuhyun sudah datang atau belum.

Suster itu pun menjawab bahwa Kyuhyun sudah datang sejak setengah jam lalu. Hal itu membuat Kang Jihyun segera  pergi ke lantai dimana ruangan Kyuhyun berada.

***

Suara ketukan pintu terdengar dari pintu ruangan Kyuhyun. Membuat Kyuhyun yang sedang bersiap-siap akan pergi ke poli klinik membukakan pintu itu secara manual.

Setelah ia membuka pintu itu, sosok Kang Jihyun pun terlihat dari balik pintu. Pintu segera ia buka lebih lebar agar Kang Jihyun dapat masuk.

Kyuhyun bertanya, “Ada apa?” sambil ia memakai dasinya di depan monitor komputer yang masih belum dinyalakan. Tak ada cermin di ruangannya itu.

Laki-laki yang baru saja datang itu pun berjalan ke arah meja di belakang Kyuhyun. Meraih sebuah foto yang terdapat di dalam sebuah bingkai kecil.

Selesai memakai dasi, Kyuhyun berbalik untuk melihat apa yang sedang dilakukan Kang Jihyun di sana.

Melihat Kang Jihyun yang sedang memegang bingkai foto itu, Kyuhyun pun bertanya, “Kenapa kamu memandanginya terus?”

Tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Kang Jihyun meletakkan bingkai itu lagi ke tempat semula dan duduk di sofa. “Kemarin aku melihat liputan wawancaramu, kau diliput di ruangan ini kan?”

Hanya anggukan kecil yang Kyuhyun lakukan. “Lalu?” tanyanya kemudian.

Kang Jihyun kembali melihat ke arah bingkai foto yang terpajang di atas meja Kyuhyun. “Foto itu kelihatan saat kamu sedang diliput.”

“Lalu apa masalahnya? Cepat katakan, pagi ini aku ada poli,” ujar Kyuhyun seraya bangkit berdiri.

“Masalahnya adalah aku juga memilikinya.”

Kyuhyun yang sudah berdiri di dekat pintu hendak keluar pun berhenti melangkah dan berbalik menghadap Kang Jihyun yang juga berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Pintu ruangan itu dibuka dan Kyuhyun melangkah keluar seraya berkata. “Kita bicarakan nanti ketika aku kembali dari poli.” Jawabnya sambil menghembuskan nafasnya cukup keras.

***

Jung Sila mengecek ponselnya setelah ia baru saja keluar dari ruang bersalin. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dan ia belum sempat pergi makan siang karena proses persalinan yang baru saja ia selesaikan tadi memakan waktu cukup lama.

Ia menekan tombol yang berada di sisi samping ponselnya cukup lama untuk menyalakan kembali ponselnya yang selama ia berada di ruang bersalin ia matikan.

Beberapa pesan pun tampak bermunculan di layar ponselnya. Dan yang membuatnya tertawa pelan adalah karena semua pesan itu datang dari Donghae.

Sebelum ia bahkan membalas satu pesan pun, ponselnya bergetar pelan. Kali ini Donghae meneleponnya. Jung Sila tersenyum sebelum ia mengangkatnya.

***

Donghae mengajak Sila makan siang bersama. Karena ia juga mau memberitahu beberapa kabar bagus tentang dirinya pada Jung Sila.

Bukan pergi ke restoran mewah melainkan hanya restoran yang berada tak jauh dari rumah sakit agar jika ada apa-apa tidak sulit kembalinya.

Makanan yang mereka pesan pun datang tidak lama kemudian dan Donghae mulai bicara. “Kau tahu, Sila, besok ketika mahasiswa dari universitas datang, mereka akan melihat operasi yang akan aku kerjakan.”

“Oh ya? Itu bagus, Donghae,” ujar Jung Sila seraya tersenyum ke arah Donghae.

Laki-laki itu hanya mengangguk samar. “Tapi aku jadi tidak bisa makan siang bersamamu,” Donghae berkata kemudian membuat Jung Sila tertawa.

“Aku juga tidak akan setiap hari makan siang bersamamu,” balas Jung Sila membuat Donghae mengerutkan alisnya.

Donghae bertanya kenapa begitu dan Sila pun menjawab, “Kalau ketahuan orang-orang di rumah sakit bahwa kau dan aku makan siang bersama setiap hari bisa-bisa mereka membicarakan kita terus.”

“Kau memang tidak senang makan siang bersamaku?” Donghae agak kecewa dan menatap Jung Sila.

“Bukan begitu, Donghae, makan siang kan juga masih jam bekerja, kamu bisa bersamaku ketika sudah diluar jam bekerja,”

Donghae mulai menangkap maksud dari Jung Sila. Memang benar apa yang seperti dikatakan oleh gadis di depannya itu. Ia harus tidak mencampur-adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.

“Oh ya, apartemenku sudah selesai direnovasi, lusa mungkin aku akan kembali ke sana,”

***

Kyuhyun kembali ke dalam ruangannya. Setelah poli berakhir dan ia melakukan visit harian, ia benar-benar sudah tidak dapat menahan rasa sakit kepalanya itu.

Kang Jihyun dan dirinya baru saja melanjutkan pembicaraan mereka tentang masalah tadi pagi dan  ternyata ia, Lee Seungjae, dan Kang Jihyun adalah tiga anak yang bertemu di bukit itu dan terpisah oleh waktu dan jarak.

Kang Jihyun melihat Kyuhyun yang tidak biasa, Kyuhyun terlihat pucat dan lemas sehingga Kang Jihyun menyarankan agar Kyuhyun segera pulang agar mengistirahatkan dirinya. Mungkin Kyuhyun kelelahan.

Walaupun Kyuhyun adalah seorang dokter, tapi tentu saja ia tidak dapat mengobati dirinya sendiri ketika sedang sakit. Oleh karena itu, kebetulan Kang Jihyun yang tadi baru bersamanya, maka Kang Jihyun memberikan Kyuhyun obat sebelum akhirnya ia mengantar Kyuhyun pulang.

***

Pagi itu Donghae sudah berada di rumah sakit dan sedang bersiap-siap untuk operasi yang akan dilihat oleh mahasiswa-mahasiswa dari universitas.

Setengah jam lagi operasi akan dimulai dan ia pikir Kyuhyun akan ada di sana untuk ikut menyaksikan. Ia juga tidak melihat Kyuhyun sejak kemarin. Akhir-akhir ini Kyuhyun jarang bersamanya.

Donghae tidak sengaja bertemu Kang Jihyun ketika ia masuk ke dalam lift. Kang Jihyun ada jadwal poli pagi hari.

“Dari kemarin aku tidak melihat Kyuhyun.” ujar Donghae setelah ia menekan salah satu tombol di badan lift.

Kang Jihyun menoleh ke arah Donghae. “Kemarin dia datang, tapi dia terlihat sedang sakit, aku yang mengantarnya pulang,” ia menengadah melihat angka di atas tombol-tombol lift. “Mungkin ia tidak datang hari ini.” ujarnya lagi ketika pintu lift terbuka dan ia keluar dari lift itu.

Pintu lift kembali tertutup dan Donghae mengeluarkan ponselnya. Mengetik sebuah pesan sebelum ia masuk ke dalam ruang operasi.

***

Kyuhyun tidak merasa baikan sama sekali. Hari ini ia tidak mungkin bisa pergi ke rumah sakit. Padahal hari ini Donghae akan melakukan operasi penting, ia ingin datang dan menyaksikan.

Untuk mengangkat kepalanya saja sangat sulit karena pusing yang dideritanya itu. Kyuhyun mendengar ponselnya bergetar, ia lantas mencari ponselnya yang berada tidak jauh dari situ.

Ia menemukan ponselnya dan membuka pesan yang masuk.

Pesan itu dari Donghae. Kyuhyun tersenyum samar lalu membacanya.

Aku dengar kau sedang tidak enak badan? Aku akan ke sana setelah operasi ini selesai. Oh ya doakan aku! DH

Kyuhyun membalasnya singkat karena ia pikir pasti Donghae juga sudah mematikan ponselnya.

***

Sooran bersiap pergi ke rumah sakit untuk mengantar ayahnya melakukan terapi. Namun ketika ia baru akan masuk ke dalam mobil bersama ayahnya, ia merasakan ponselnya bergetar.

Melihat nama yang tertera di layar ponselnya dahinya pun berkerut. Di sana tertulis nama rumah sakit yang ia simpan di kontak handphone-nya.

Tanpa berpikir panjang ia pun mengangkatnya dengan penasaran.

Ayahnya yang duduk di jok di sebelah kemudi tempat Sooran sedang duduk saat ini hanya menatap Sooran menunggu Sooran menutup sambungan dan memberitahunya.

“Terapi Appa diundur menjadi lusa pagi. Ayah bisa terapi hari ini tapi tidak dengan dokter Cho, jadi bagaimana?” tanya Sooran tepat ketika ia memutus sambungan telepon.

Ayah Sooran berfikir sejenak lalu menjawab, “Ayah ingin dokter Cho yang melakukan terapi, lusa ayah akan minta Siwon untuk mengantar ayah saja.”

Sooran membukakan pintu mobil untuk ayahnya kemudian menjawab, “Aku akan mengantar ayah lusa, tidak usah meminta Siwon oppa, dia tampaknya sedang sibuk karena lusa ia kan akan kembali ke Australia.”

***

Sesampainya di kantor, Sooran kembali memikirkan kenapa terapi ayahnya diundur. Apalagi tadi ia tidak diberi alasan yang jelas hanya mengatakan bahwa Kyuhyun tidak bisa datang ke rumah sakit.

Jangan-jangan seperti kejadian satu bulan lalu. Mungkin sebaiknya ia menghubungi Donghae untuk menanyakan tentang Kyuhyun dan memastikan kalau terapi ayahnya lusa tidak akan diundur lagi.

Suara operator kembali terdengar memberitahu bahwa nomor yang sedang ia hubungi sedang tidak aktif itu berarti Donghae sedang mematikan ponselnya.

Sooran mendengus pelan. Ia sudah mencoba menghubungi Donghae dua kali namun tidak juga diangkat.

Sooran sebenarnya ingin langsung menghubungi Kyuhyun. Tapi sejak kejadian malam dimana Kyuhyun menyatakan cinta dan menciumnya di samping mobil, ia benar-benar belum siap untuk berbicara dengan pria itu.

Setelah berfikir cukup lama apakah ia harus menghubungi Kyuhyun atau tidak, ia pun memilih untuk tidak menghubungi. Ia takut ketika ia mendengar suara Kyuhyun nanti ia akan kembali tidak bisa melupakan pria itu.

Sooran meletakkan ponselnya ke atas meja dan mengalihkan pikirannya kembali ke pekerjaannya. Namun entah mengapa Sooran tidak bisa fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaannya itu.

Jam yang menempel di dinding menunjukkan sudah hampir waktu istirahat makan siang. Sooran pun memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya dalam-dalam.

Kali ini Sooran tampaknya menyerah untuk menahan keinginan dari dalam dirinya untuk menghubungi Kyuhyun.

Ia sendiri tidak tahu mengapa ia ingin menghubungi pria itu. Ia juga tidak memiliki alasan yang jelas mengapa ia ingin menghubungi Kyuhyun.

Ia meraih ponselnya kembali dan mencari kontak Kyuhyun. Tidak lama kemudian telepon tersambung dan suara Kyuhyun mulai terdengar.

Halo?”

Sooran terdiam sejenak tak langsung menjawab.

Ada yang berbeda dengan suara itu.

“Kyuhyun-ssi..,” Sooran menjadi semakin ragu. Ia seakan tidak tahu harus bicara apa.

Belum sempat Sooran melanjutkan kata-katanya, Kyuhyun berkata lebih dulu.

“Maaf hari ini aku tidak bisa datang ke rumah sakit, tolong sampaikan permintaan maafku pada ayahmu, Sooran.”

Sooran menggigit bibir bawahnya setelah mendengar suara itu lagi. Sesaat kemudian ia langsung menjawab, “Kyuhyun-ssi, kau tidak apa-apa?” Ia tidak dapat menyembunyikan rasa cemasnya.

“Aku tidak apa-apa. Besok aku akan kembali ke rumah sakit.” Jawab Kyuhyun pelan.

Sooran sangat yakin ada yang berbeda dengan suara Kyuhyun. “Apa kau sedang sakit?”

Di seberang sana Kyuhyun menjawab dengan lemah, “Tidak, hanya demam sedikit, tidak perlu khawatir, kalau begitu terima kasih sudah menelpon.”

Sambungan telepon pun terputus.

***

Kyuhun mendengar pintu kamarnya dibuka. Itu pasti Donghae. Kyuhyun pun kembali melanjutkan tidurnya dan mempererat selimutnya.

“Kyuhyun-ssi, tubuhmu panas sekali!” Suara itu membuat Kyuhyun membuka matanya perlahan-lahan.

“Sooran?” Kyuhyun berusaha mengeluarkan suaranya namun tenggorokannya terasa amat perih untuk mengeluarkan sepatah katapun. Ia tidak dapat melihat gadis itu lagi. Mungkin Sooran sedang mengambil obat atau entahlah Kyuhyun tidak dapat berfikir saat ini.

Kyuhyun pun kembali memejamkan matanya. Tubuhnya terlalu lemas untuk menjaganya tetap terjaga.

***

Sooran datang kembali dengan membawa handuk kecil yang direndam di dalam air dingin dan beberapa bongkah batu es.

Ia kemudian dengan hati-hati meletakkan handuk itu di atas dahi Kyuhyun yang sangat panas.

Sooran kembali meninggalkan kamar itu dan pergi ke dapur untuk mengambil peralatan makan. Di jalan tadi ia sempat membeli makanan untuk Kyuhyun. Ia berani bertaruh kalau Kyuhyun pasti belum memakan apa-apa. Di sepanjang jalan ia tidak menemukan kedai yang menjual bubur jadi ia tidak beli bubur.

Sooran mengguncang bahu Kyuhyun pelan. Kyuhyun pun membuka matanya kembali dan meringis pelan.

“Aku tahu kau pasti belum makan, entah dari kapan aku tidak yakin yang jelas sekarang kau harus makan.” ucap Sooran seraya mengulurkan nampan berisi makanan itu.

“Bagaimana makannya? aku tidak punya meja kecil.” mendengar itu Sooran mendegus. Kyuhyun tidak menerima nampan itu dan kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur.

“Kalau begitu makan di meja makan.”

“Aku pusing sekali tidak bisa duduk berlama-lama di sana.”

“Ya sudah makan di sini tapi tidak usah pakai meja. Kau pegang piringnya sendiri.

“Kau gila.” ujar Kyuhyun mengambil piring itu dari tangan Sooran.

“Aku pikir kau memberiku bubur.”

“Aku tadi ingin membuatkan bubur tapi aku tidak menemukan beras. Dapurmu benar-benar miskin, tidak ada apa-apanya,” Sooran tidak bisa menunggu berlama-lama karena Kyuhyun belum juga memasukkan satu sendok apapun ke dalam mulutnya sendiri.

“Kau ini lelet sekali,” Sooran berkata seraya mengambil piring itu kembali dari tangan Kyuhyun.

***

“Kyuhyun-ssi, aku akan kembali ke kantor, cepat sembuh,” ujar Sooran setelah selesai dan akan pulang.

Namun sebelum Sooran membalikkan tubuhnya Kyuhyun menahan pergelangan tangannya.

Sooran dapat merasakan panas yang berasal dari telapak tangan Kyuhyun yang menyentuh kulitnya. Sooran pun menoleh dan menatap Kyuhyun yang berbaring di tempat tidurnya.

“Jangan pergi dulu, Sooran,”

Wajah Kyuhyun yang pucat membuat Sooran sendiri tidak tega meninggalkannya.

“Tetaplah di sini,” Kali ini Kyuhyun memintanya agar tetap tinggal tidak dalam keadaan mabuk, tidak seperti malam itu.

Sooran menarik nafasnya kemudian mengangguk pelan.

“Terima kasih.” Kyuhyun tersenyum tipis.

***

Donghae baru saja menyelesaikan operasinya. Walaupun tidak begitu sempurna karena di tengah-tengah operasi pasien yang Donghae sedang operasi itu mengalami pendarahan yang cukup besar, namun untungnya Donghae dapat menanganinya. Itulah mengapa operasi tadi memakan waktu diluar perkiraan sebelumnya.

Mahasiswa-mahasiswa dari universitas menyambutnya ketika ia keluar dari ruang operasi sehabis mengganti bajunya kembali.

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul empat dan ia belum sempat makan siang. Tetapi ia belum bisa pergi untuk makan siang sekedar ke kafetaria karena ia masih harus memberi penjelasan singkat mengenai operasi tadi.

Donghae melangkah masuk ke dalam ruang pertemuan di mana mahasiswa-mahasiswa itu telah menunggunya. Melihat banyaknya orang di sana Donghae langsung menebak kalau ini akan lama.

Mungkin ia memang harus merelakan makan siangnya. Tak ada waktu untuk makan siang.

***

Jung Sila berjalan tak jauh dari ruang pertemuan. Ketika ia lewat di dekat sana, pintu ruangan itu baru saja dibuka dan orang-orang yang memakai almamater sama berlogo salah satu universitas terkenal di Seoul pun mulai keluar dari ruangan.

Ketika ia berjinjit untuk melihat ada siapa lagi selain orang-orang beralmamater itu ia dapat melihat sosok yang ia kenal sedang memegang dahinya dengan raut wajah lelah.

Sosok itu adalah Donghae. Ia belum pernah melihat Donghae dengan wajah lelah seperti itu. Donghae masih duduk di sana belum keluar dari ruangan. Jung Sila menunggu orang-orang itu sepenuhnya keluar meninggalkan Lee Donghae seorang diri di sana.

Jung Sila pun datang menghampiri Donghae yang sedang menutup matanya masih memegangi dahinya.

“Lee Donghae?” Jung Sila menyentuh bahu Donghae.

“Kenapa kau masih di sini?” tanyanya lagi ketika Donghae baru membuka matanya dan kemudian menatapnya beberapa saat.

Donghae bergeleng pelan. “Tidak. Aku hanya sedikit lelah.”

“Jam berapa sekarang?” Baru kali ini Donghae bertanya seperti itu. Karena biasanya jam tangan kulit mahal selalu melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya. Hal itu membuat Jung Sila melirik ke arah pergelangan tangan kiri Donghae.

Oh pantas saja, gumam Jung Sila dalam hati. Ia tak menemukan jam tangan disana.

“Hampir setengah delapan,” Jawab Sila. “Tadi aku menelponmu. Kamu tidak mengangkatnya.” lanjutnya kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan itu disusul Donghae sepersekian detik kemudian.

“Handphone-ku tertinggal di dalam ruanganku dan aku bahkan belum sempat ke sana.”

“Kamu sudah makan?” Jung Sila bertanya tanpa menghiraukan jawaban Donghae tadi.

Donghae menggelengkan kepalanya. “Tadi siang aku tidak sempat makan siang.”

“Ya ampun Donghae, kalau begitu kamu harus segera makan,”

“Aku ingin makan bersamamu.” Mendengar itu Jung Sila seketika mendengus.

“Baiklah, dimana?”

“Ikut aku saja,”

***

Kyuhyun terbangun setelah mendengar suara televisi yang tengah menayangkan acara musik. Pandangannya masih samar sehingga ia harus menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang ada di kasurnya.

Ia melihat Choi Sooran sedang menonton acara televisi itu duduk di atas kasurnya dengan punggung menyandar ke sandaran tempat tidur dan kaki yang luruskan ke depan dibalut oleh selimut yang sama dengan yang yang sedang ia gunakan untuk tidur itu berarti Kyuhyun berbagi selimut dengan Sooran.

Kyuhyun cukup terkejut dengan apa yang sedang ia lihat saat ini walaupun sebenarnya tidak ada yang aneh.

“Choi Sooran? Kamu masih di sini?” Tanya Kyuhyun membuat Sooran cukup kaget karena tidak tahu kalau Kyuhyun sudah bangun.

Gadis itu bergumam pelan dan kembali memfokuskan pandangannya ke acara musik itu.

Kyuhyun memegang kepalanya seraya ia memposisikan tubuhnya seperti Sooran.

“Kamu tadi melarangku pulang. Tidak ingat?”

Setelah mengingat-ingat kembali akhirnya Kyuhyun mengangguk lalu menjawab, “Maaf,”

Mendengar itu Sooran menoleh ke arah Kyuhyun. “Tidak apa-apa. Apartemenmu cukup nyaman, jadi aku tidak terlalu bosan melihatmu tidur mendengkur seperti itu.”

Ekspresi wajah Kyuhyun seketika berubah tidak terima. “Donghae bilang aku tidak pernah mendengkur. Kau mengada-ada, Sooran.”

Sooran tertawa. “Kau sudah baikan?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Jauh lebih baik dibandingkan saat sebelum kamu datang.”

“Kau nyaman di sini?” Tanya Kyuhyun sesaat kemudian. Sooran menoleh lagi.

“Lumayan.” jawabnya singkat sebelum akhirnya ia memandang ke arah televisi itu lagi.

“Kalau begitu jadilah istriku.”

Sooran menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman. “Mengapa begitu?”

“Karena kau bisa tinggal di sini bersamaku.”

Kali ini Sooran terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali bicara. “Kau bercanda.” Ia memalingkan wajahnya ke arah lain kemudian tertawa.

Tidak berapa lama kemudian Kyuhyun menarik Sooran ke dalam pelukannya dan Kyuhyun pun mencium bibir Sooran.

Sooran yang tadi menyandar di sandaran tempat tidur pun tak bisa bergerak ke arah lain, hanya saja tubuhnya luluh sampai akhirnya kepalanya menyentuh kasur. Ia terbaring dan Kyuhyun berada di atasnya.

Sooran pun kemudian segera mendorong bahu Kyuhyun agar pria itu melepaskan ciumannya. Kyuhyun menatapnya dengan raut bertanya-tanya sekaligus kecewa.

“Kau habis minum obat, bibirmu pahit, Kyuhyun.” Sooran mengelap bibirnya dengan punggung tangannya sebelum ia bangkit dan beranjak dari tempat tidur Kyuhyun.

***

Lagi-lagi Donghae harus naik taksi setelah ia mengantar Jung Sila pulang. Padahal Jung Sila sudah menyarankan agar mereka menyetir mobil masing-masing setelah mereka selesai makan malam namun Donghae tetap memaksa agar ia yang mengantar Sila pulang.

Donghae menyetir mobil Sila sementara mobilnya ia tinggal di rumah sakit. Donghae juga menolak ketika Sila menyuruh Donghae agar membawa mobilnya supaya Donghae tidak perlu naik taksi.

Salah satu taksi akhirnya menepi dan Donghae pun masuk ke dalamnya. Setelah ia menyebutkan nama tempat yang ia tuju, ia akhirnya dapat bersantai sedikit sambil memandangi jalanan yang dapat ia lihat melalu jendela kaca mobil sedan itu.

Sekitar dua puluh menit kemudian taksi itu berhenti di lobi hotel. Mungkin mala mini adalah malam terakhirnya menginap di sini, karena mulai besok ia sudah akan kembali ke apartemennya yang dulu.

Donghae turun dari mobil itu setelah ia menyerahkan sejumlah uang lembar pada pengemudi taksi yang telah mengantarnya kembali ke hotel.

Pintu lift baru saja terbuka namun ia tidak segera melangkahkan kakinya masuk. Donghae pun mulai menyadari kalau ia tidak dapat menemukan handphone-nya.

Sampai akhirnya pintu lift itu tertutup kembali ia pun akhirnya ingar kalau hponselnya itu masih tertinggal di dalam ruangannya di rumah sakit karena sehabis ia keluar dari ruang pertemuan bersama Sila ia tidak sempat mampir mengambil ponsel yang ada di ruangannya.

Untung ia tidak menginap di hotel yang jauh dari tempatnya bekerja. Donghae akhirnya keluar dari area hotel, rumah sakit yang selalu ia datangi setiap pagi itu bisa dicapai dengan jalan kaki hanya beberapa menit.

Bangunan gedung rumah sakit yang tinggi menjulang itu juga terlihat jelas dari hotel yang ia tinggali selama beberapa minggu.

***

Kali ini Sooran tidak bisa menatap mata Kyuhyun. Ia tidak ingin ketika ia melihat sepasang mata itu ia akan mencium bibir Kyuhyun yang sebenarnya tidak terasa pahit, karena sebenarnya Kyuhyun terakhir minum obat siang tadi, dan rasa pahit itu mungkin sudah menghilang dari bibir Kyuhyun.

Mereka saling diam, tidak tahu harus berkata apa, hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing dan memikirkan harus berbuat apa sekarang.

“Kyuhyun-ssi, malam ini kau belum minum obat, kamu harus makan dulu sebelum minum obat.” ujar Sooran seraya beranjak dari tempat tidur Kyuhyun yang lumayan besar. Sooran tidak habis pikir jika membayangkan seberapa enak dan nyaman jika tidur di atas tempat tidur sebesar itu hanya untuk dirinya sendiri. Mungkin ia tidak akan rela beranjak pergi dari sana.

“Aku tahu,” jawab Kyuhyun kemudian mengganti channel televisi dengan menggunakan remote.

Sooran mendengus menatap Kyuhyun yang kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Membuat Sooran benar-benar ingin kasur seperti itu di rumahnya.

“Di dapurmu tidak ada apa-apanya, bagaimana mau membuat makanan,” balas Sooran mencoba bersabar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

Kyuhyun menoleh ke arah Sooran yang berdiri di dekat pintu kamarnya.

“Aku tidak menyuruhmu untuk membuatkanku makanan, aku ingin pesan makanan dari restoran, karena aku sedang ingin Tofu Stew.”

Setelah Kyuhyun memesan makanan lewat telepon, Sooran pun duduk di sofa.

“Kenapa mesan banyak sekali? Kamu kelihatannya bukan tipe orang yang makan banyak,” Sooran menjadi heran setelah Kyuhyun mengorder cukup banyak makanan.

Kyuhyun mengangkat bahunya dengan santai. “Aku hanya sedang lapar,”

Sooran tidak menjawab karena ia sedang menatap layar ponselnya kemudian mengangkat wajahnya. “Kamu punya charger? Tadi sepertinya Siwon menelponku, tapi ponsel ini keburu mati.”

Kyuhyun melihat ponsel Sooran untuk beberapa detik kemudian mengangguk. “Ada di dalam laci nomor dua meja televisi.” Kyuhyun menunjuk meja televisi yang sebenarnya tidak mirip dengan meja sama sekali.

“Siwon itu kakakmu?” tanya Kyuhyun ketika Sooran kembali duduk di sofa semetara ponselnya sedang di-charge di meja televisi.

Sooran menjawabnya dengan gumaman pelan sambil ia menonton televisi, tidak ada yang dapat ia lakukan selain menonton tayangan yang sedang diputar di televisi itu. Ia akan kembali pulang ke rumah setelah setidaknya baterai ponselnya terisi satu bar.

“Ia tinggal di sini?”

Sooran mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah Kyuhyun. “Lusa ia kembali ke Australia.” Membuat Kyuhyun mengangguk-angguk pelan.

Karena merasa ia sedang diintrogasi oleh Kyuhyun maka ia balik bertanya pada Kyuhyun. “Kenapa kau sering sekali menanyaiku seperti kau sedang mengintrogasi penjahat? Dulu kamu bertanya tentang bosku sekarang kakakku.

Mendengar Sooran berkata seperti itu, Kyuhyun pun tertawa pelan. “Aku hanya penasaran denganmu, kamu selalu membuatku ingin mengetahuimu lebih banyak, Sooran.”

“Aku merasa mulai tertarik denganmu ketika kau dan aku bertemu lagi di rumah sakit setelah kita bertemu di kereta, aku merasa seperti kita sudah ditakdirkan untuk bertemu kembali. Tidakkah kamu merasakan itu juga?”

Sooran masih tidak menjawab. Ia hanya memandang Kyuhyun tanpa ekspresi yang berarti di wajahnya.

Sebelum Sooran bahkan mengeluarkan sepatah katapun suara bel terdengar. Mungkin makanan yang Kyuhyun pesan sudah datang. Kyuhyun pun mencoba bangkit berdiri dari tempat tidur, namun kepalanya masih terasa berat membuat ia duduk di tepi ranjang.

Sooran menghampirinya. “Aku saja yang mengambil makanannya.”

Beberapa menit kemudian Sooran kembali ke dalam kamar Kyuhyun dengan kantung plastik berisi beberapa kotak makanan di tangannya. Ia pun meletakkan kantung plastik itu di meja televisi.

“Sebaiknya kamu makan di luar, di meja makan. Makanan ini akan membuat kasurmu kotor nanti.”

Kyuhyun yang juga menyadari hal itu pun tidak bisa menolak. Ia kembali mencoba berdiri dan kali ini Sooran dengan sigap menahan lengan Kyuhyun agar tidak limbung.

Setelah Kyuhyun duduk di meja makan, Sooran membuka satu persatu kotak makanan itu dan menaruhnya ke dalam piring dan mangkuk. Dan setelah ia sudah selesai menyiapkan makanan, Kyuhyun pun mulai memakan.

Kyuhyun tampak tidak nyaman dan ia sesekali meringis pelan sebelum akhirnya ia bicara pada Sooran yang duduk di kursi di hadapannya.

“Sooran, bisa ambilkan jaket atau sweater-ku di dalam kamar?” Sooran mengangguk menganggapi dan kemudian mengambil satu jaket untuk Kyuhyun dari dalam lemari setelah ia membuka pintu lemari satu persatu karena tidak tahu di mana menyimpan jaket.

“Ini,” ujarnya membuat Kyuhyun menengok dan Sooran pun membantu Kyuhyun memakai jaketnya.

Kyuhyun kembali memakan makanannya setelah jaket itu sudah melapisi tubuhnya. Sooran pun ikut makan bersamanya.

***

Donghae menyalakan lampu setelah ia mendapati ruangan miliknya itu gelap karena ia tidak menyalakan lampu setelah ia tinggal sejak tadi siang.

Donghae meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja setelah ia menghempaskan tubuhnya ke kursi. Donghae memakai kembali jam tangannya yang juga berada tidak jauh dari ponselnya tadi berada.

Mengetahui bahwa jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam dan Donghae pun sudah merasa sangat lelah karena ia sama sekali belum beristirahat sejak operasi itu berakhir. Ia akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke hotel agar bisa secepatnya tidur dan istirahat.

Di kamar hotel setelah ia mandi dan berganti baju yang lebih nyaman untuk tidur setelah seharian ia memakai kemeja, ia pun akhirnya membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Menghembuskan nafasnya dengan cukup keras bermaksud agar melepaskan penatnya.

Ponselnya baru akan ia nyalakan. Setelah ponsel hitam tipi situ menyala ia melihat ada sebuah panggilan tidak terjawab dari Sila siang tadi dan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun.

Pesan singkat dari Kyuhyun itu rupanya hanyalah balasan dari pesan yang Donghae kirim pada Kyuhyun lebih dulu.

Tidak lama kemudian dahi Donghae berkerut ketika ia menyadari bahwa siang itu ia berjanji pada Kyuhyun akan datang ke apartemen Kyuhyun setelah ia menyelesaikan operasi itu.

Donghae bahkan tidak ingat pesan yang ia kirim sendiri pada sahabatnya itu. Membuat Donghae berdecak kesal pada dirinya sendiri yang sudah melupakan sahabatnya yang hari ini tidak bisa datang bekerja karena sedang tidak enak badan.

Padahal saat dulu ia pingsan karena anemia, Kyuhyun segera datang untuk menolongnya sampai harus membawa seorang mekanik dan membeli alat untuk membuka pintu mobil yang harganya cukup mahal karena Donghae pingsan di dalam mobil yang terkunci setelah sesaat sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri ia sempat memberitahu Kyuhyun.

Dan saat setelah ia mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Park Hyunjung, di mana saat itu kondisi Donghae sedang lemah dan harus dirawat di rumah sakit selama dua malam karena ia baru saja mendonorkan sumsum tulangnya sehingga ia mengalami anemia yang cukup parah. Saat ia di rawat, Kyuhyun selalu datang mengunjunginya dan menunggunya saat Kyuhyun sedang mempunyai waktu longgar.

Tapi sekarang ketika Kyuhyun yang sedang tidak sehat, ia malah tidak datang pada Kyuhyun. Padahal Kyuhyun tidak memintanya untuk datang malahan ia sendiri yang menjanjikan akan datang, ia malah tidak datang.

Saat itu juga Donghae merasa bersalah. Ia pun segera menekan tombol angka satu cukup lama agar terhubung pada Kyuhyun. Namun sebelum ia bahkan menempelkan benda tipis itu ke salah satu telinga, ia menekan tombol merah tanda ia mengakhiri panggilan.

Donghae beranjak berdiri dari kasur kemudian meraih mantel yang ia letakkan di atas sofa.

Tanpa mengganti bajunya lebih dahulu, saat ini ia hanya memakai kaus abu-abu polos yang ia lapis dengan mantel dan celana tidur panjang ia pun pergi meninggalkan hotel.

***

Setelah Sooran pulang sekitar tiga puluh menit yang lalu, Kyuhyun tidak tahu harus melakukan apa. Namun ia sudah cukup senang karena akhirnya Sooran sudah mulai membuka dirinya pada Kyuhyun.

Karena selama ini Sooran tidak pernah berbicara pada Kyuhyun jika itu bukan tentang masalah ayahnya. Sooran juga belum pernah tertawa di depan Kyuhyun, tapi saat mereka makan malam bersama Kyuhyun dapat melihat Sooran pertama kali tertawa di depannya tanpa menjaga jarak dari Kyuhyun.

Kyuhyun dapat merasakan kalau selama ini Sooran menjaga jarak padanya. Ia tidak tahu mengapa ia bisa merasa begitu tapi memang begitulah kenyataannya.

Setelah Kyuhyun mencium Sooran, gadis itu tidak marah padanya dan saat mereka makan bersama di meja makan Sooran mulai mau mengobrol dengan dirinya dan mulai berbagi cerita dengan Kyuhyun.

Hal yang belum pernah gadis itu lakukan selama ini di depan Kyuhyun.

Beberapa menit kemudian Kyuhyun mendengar pintu apartemennya dibuka. Apakah Sooran kembali karena ada barang yang tertinggal?

Sehabis Kyuhyun makan malam ia pun meminum obat yang diresepkan oleh Kang Jihyun untuk dirinya, ia merasa lebih baik lagi. Kyuhyun berjalan ke arah pintu masuk dekat ruang televisi dan ia menemukan Donghae sedang melepas sandal.

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Kenapa Donghae datang ke apartemennya malam-malam begini?

“Donghae?”

Donghae mengangkat wajahnya dan menemukan Kyuhyun yang terlihat masih kurang sehat. Kyuhyun memakai kaus dengan celana tidur panjang dan jaket begitupun dengan Donghae, hanya saja Donghae melepas jaketnya setelah ia masuk ke dalam apartemen Kyuhyun.

Sebelum Donghae berkata-kata ia memeluk Kyuhyun. Sahabatnya yang telah ia tidak temui selama beberapa hari karena ia sibuk dengan Sila dan pekerjaannya.

“Maafkan aku, Kyu,” Donghae berkata dengan nada menyesal kemudian melepaskan Kyuhyun.

“Kenapa kamu aneh seperti ini?” Kyuhyun kembali ke dalam kamarnya diikuti dengan Donghae.

Donghae merebahkan dirinya di atas kasur Kyuhyun.

“Tadi siang sebelum operasi aku berjanji padamu akan datang ke mari ketika aku menyelesaikan urusan operasi. Tapi nyatanya aku tidak datang, lalu kamu bagaimana, jangan-jangan kamu belum makan dari tadi malam karena tidak ada yang mengurusi?”

Kyuhyun tersenyum simpul. “Choi Sooran datang ke sini dan ia baru saja pulang sekitar setengah jam lalu.”

Mendengar pengakuan itu Donghae pun menghembuskan nafasnya lega. “Kyuhyun kamu membuatku khawatir selama perjalanan ke sini. Aku sangat mengenalmu, kamu tidak pernah bisa apa-apa ketika sedang sakit, harus ada seseorang yang menjagamu untuk mengurusimu sepanjang hari, aku sangat tahu itu.”

“Beberapa hari lalu kamu tidak pulang, kan? Aku tahu kamu tidur di rumah sakit, you were work too over, Kyuhyun, I won’t ever let you stay in hospital just for work and work.”

“Jika seandainya aku datang ke mari dan kamu semakin parah karena aku datang terlambat seperti ini, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.” tambah Donghae sebelum ia menutup matanya karena terlalu lelah.

Kyuhyun melihat Donghae yang sudah terlelap. Ia pun memejamkan matanya beberapa detik kemudian.

***

Olivia Song mencari Lee Seungjae dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar pamannya. Namun ia tak menemukan pamannya di dalam sana.

Setelah mempertajam pendengarannya ia pun dapat mendengar kalau pamannya sedang berada di dalam kamar mandi sana. Ia mendengar air jatuh mengalir dari shower.

Sebelum akhirnya beranjak dari kamar itu, Olivia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia pun melihat sesuatu yang menarik di atas meja di dekat televisi yang menempel di dinding.

Gadis itu pun mendekati meja. Dan menjulurkan sebelah tangannya untuk mengambil benda yang menarik perhatiannya.

Suara air mengalir itu sudah tidak terdengar lagi, itu berarti Lee Seungjae tampaknya sudah selesai mandi, membuat Olivia bergegas pergi ke luar kamar pamannya dengan membawa serta benda itu ke kamar miliknya.

***

Lee Seungjae menarik satu kursi untuk Goo Eunra. Setelah gadis itu duduk ia pun kembali ke kursi yang berada di seberang kursi Eunra.

Jujur saja, Lee Seungjae bukan termasuk pria yang romantis. Ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya yang sedari tadi mengganggunya. Membuatnya menghembuskan nafasnya sekali lagi untuk menyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Tidak ada persiapan khusus yang berarti. Ia hanya meminta pendapat David—sahabatnya selama ia masih di Amerika tentang bagaimana harus melamar Eunra—lewat skype beberapa hari lalu. David menyarankan Lee Seungjae agar mengajak Eunra untuk makan malam dengan diiringi live music dan lilin.

Dan di sinilah Lee Seungjae berada, di salah satu restoran cukup elite dengan live music dan lilin yang telah ia pesan tiga hari lalu.

Goo Eunra duduk di kursi di hadapannya. Malam ini gadis itu terlihat sangat cantik dan menawan membuat Lee Seungjae merasa jantungnya kini berdebar semakin cepat karena gugup yang semakin lama semakin menguasainya.

Cara yang disarankan oleh David memang merupakan cara paling klasik, namun Lee Seungjae nampaknya tidak memiliki ide yang lebih baik daripada itu.

Untungnya nyala lilin yang redup disertai alunan lagu merdu yang romantis membuat Lee Seungjae lebih rileks dan tidak segugup dan setegang tadi.

Makan malam itu pun datang, pelayan mengantar dan meletakkan piring berisi makan malam spesial untuk Lee Seungjae dan Goo Eunra dengan hati-hati. Namun nampaknya sesuatu yang salah baru saja terjadi.

Lee Seungjae mencari kotak cincinnya. Ia merogoh saku-saku di pakaiannya. Tetapi ia tidak dapat menemukannya. Apakah tertinggal di dalam mobil?

Tetapi bagaimana jika benar tertinggal di dalam mobil, berarti ia harus mengambilnya. Namun pikiran yang lebih buruk baru saja terbesit di pikiran Lee Seungjae, bagaimana jika cincin itu tertinggal di rumah?

Mungkin Lee Seungjae harus mengecek lebih dulu apakah cincin itu ada di mobil atau tidak. Jika tidak ada, ia tidak mungkin pulang ke rumah. Itu kemungkinan terburuk.

Seharusnya sesuai pada petunjuk dan arahan dari David, ketika makan malam datang, ketika lilin-lilin itu dimatikan, Seungjae membuka kotak cincin dan memakaikan cincin itu di jari manis Goo Eunra. Namun hal itu tidak akan terjadi jika ia tidak menemukan cincinnya.

Tanpa berfikir panjang lagi, Lee Seungjae permisi sebentar untuk pergi ke toilet, padahal nyatanya ia pergi ke mobil untuk mencari cincin. Namun sesampainya di mobil, setelah ia mencari kotak cincin itu di seluruh bagian dalam mobil, ia tidak dapat menemukan kotak cincin itu.

Wajah Lee Seungjae memucat. Ia bahkan tidak memiliki persiapan apapun jika hal terburuk ini terjadi. Haruskah ia membatalkan rencana melamar Goo Eunra?

***

Pria bertubuh tinggi itu menekan password apartemennya sendiri dengan gusar. Setelah pintu terbuka ia pun segera menghambur masuk tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu.

Ia melangkahkan kaki panjangnya ke sebuah pintu kamar kemudian meraih knop pintu dengan cepat. Untungnya pintu itu tidak sedang dikunci, ia pun dapat segera membukanya dengan mudah dan membuat seorang gadis yang sedang berada di dalamnya terkejut dibuatnya.

Olivia belum sempat berkata-kata, pamannya telah bertanya lebih dulu dengan nada cemas sekaligus emosi. “Kau pasti tahu di mana kotak cincin itu, Olivia,” ujar pamannya yang masih berada di depan pintu dan masih memegangi knop pintu kamar.

Tubuh semampai Lee Seungjae menyodong ke dalam kamar dan menatap keponakan perempuannya dengan marah. Dan tidak sengaja pandangannya menangkap sesuatu yang familiar baginya.

Sesuatu itu adalah sesuatu yang ia cari. Sesuatu yang telah membuatnya gagal melamar Goo Eunra.

Lee Seungjae memandang Olivia dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin kotak cincin itu benar ada di kamar keponakannya.

Olivia tidak bisa berkata-kata beberapa saat. Sementara pamannya itu melangkah masuk dan mendekat ke arah meja belajarnya.

“Paman tidak habis pikir denganmu, Olivia.” Ujar Lee Seungjae dengan nada sangat kecewa.

Lee Seungjae melangkah mendekati keponakannya itu. “Kenapa kotak cincin ini bisa berada di sini?” Tanyanya dengan tajam. Membuat keponakannya itu mulai tidak berani untuk menjawab.

“Jawab paman, Olivia!” Sentak Lee Seungjae membuat Olivia mengangkat wajahnya yang telah dibasahi oleh air mata.

Setelah beberapa saat terdiam, Olivia akhirnya mulai bicara. “Maafkan aku, paman,” air mata kembali berlinangan di atas wajahnya.

Lee Seungjae menarik nafasnya dalam. Menahan emosinya agar tidak meluap pada anak perempuan di depannya itu. “Sekarang jelaskan mengapa benda ini ada padamu.” ucapnya mulai bersabar dan memelankan nada bicaranya.

“Aku tidak bermaksud apa-apa, paman, sore tadi saat aku sedang mencari paman ke kamar paman, paman rupanya sedang berada di kamar mandi, ketika aku akan pergi keluar aku melihat kotak itu, aku ingin melihat apa isinya tapi paman sudah akan keluar dari kamar mandi, jadi aku bawa kotak itu ke dalam kamar. Hanya itu saja.”

Olivia Song mengakhiri penjelasannya masih dengan air mata di pipinya.

Lee Seungjae menutup matanya. Sudah berapa ratus kali ia harus mencoba bersabar dengan kelakuan dan sikap Olivia. Ia tidak tahu harus bagaimana mengurus Olivia yang tengah tumbuh beranjak dewasa. Tapi ia juga harus menyadari bahwa mungkin Olivia kesepian dan mencoba untuk menarik perhatiannya, sebagai paman yang mengurus dan membesarkan Olivia.

“Hapus air matamu dan janji tidak akan mengulangi hal ini lagi.” Lee Seungjae membalikkan tubuhnya saat akan melangkah keluar dari kamar Olivia.

Namun sebelum Lee Seungjae benar-benar keluar dari kamar itu, Olivia memanggilnya.

“Apakah itu untuk Eunra eonnie?” Pertanyaan itu membuat Lee Seungjae menghentikan langkahnya lalu berbalik lagi. Bagaimana Olivia bisa mengetahuinya bahwa cincin itu untuk Goo Eunra? Ia bahkan tidak pernah bercerita tentang rencananya melamar Eunra.

“Aku lihat paman sering pergi bersamanya.” Olivia berkata sebelum Lee Seungjae bertanya. Pria itu hanya mengangguk pelan. “Paman bahkan menyebut namanya saat paman sedang tidur.”

Lee Seungjae duduk di tepi ranjang Olivia. “Kau tidak menyukainya?” Ia bertanya dengan hati-hati seraya mengusap sisa-sisa air mata yang masih tertinggal di wajah Olivia.

Olivia bergeleng. “Aku tidak tahu apakah aku menyukai dia atau tidak, aku tidak pernah mengenalnya langsung.”

Mendengar pengakuan itu Lee Seungjae menjadi merasa bersalah pada Olivia karena hampir melamar seorang wanita tanpa memikirkan Olivia apakah keponakannya itu juga menyukai wanita yang Lee Seungjae sukai. Karena bagaimana pun juga siapapun wanita yang akan menjadi pendamping Seungjae kelak pasti akan menjadi ibu bagi Olivia. Ia tidak bisa memilih sembarang wanita, karena wanita itu harus bisa menerima Olivia yang sudah Seungjae anggap sebagai anaknya sendiri.

“Malam itu paman menciumnya.”

***

-TBC-

Hello guys! Sori lama banget aku ngga ngepost, sebenernya part ini lebih panjang cuman ada beberapa bagian yg ngga jadi hehehe… PLEASE kasi komen napa hehehehehehehe

Author’s comment:

kayanya part ini adalah part yang halamannya panjang, tapi words-nya ngga terlalu banyak sih wkkk..

Gimana menurut kalian ttg Sooran dan Kyuhyun? ttg Donghae dan Sila, ttg Lee Seungjae dan Goo Eunra, ttg Kang Jihyun dan Park Luna hohoho              
CUPLIKAN LIFELINE PART 9

Kang Jihyun menelusuri jalan dekat flat yang ia tinggali. Ia turun dari bis beberapa menit lalu, karena ia harus berjalan lumayan jauh dari halte menuju flat-nya.

Dari dulu Kang Jihyun tidak begitu menyukai keramaian, ia memilih sebuah flat yang tidak ramai oleh hiruk-pikuk kota, walaupun Swiss bukanlah kota yang padat dengan penduduk, tapi tetap saja ia memilih flat yang berada di kawasan yang tenang.

            Tentu saja rumah sakit bukanlah tempat yang tenang, justru sebaliknya, rumah sakit adalah tempat yang sibuk, apalagi jika baru terjadi suatu kecelakaan. Itulah mengapa ia memilih tempat tinggal yang tenang, untuk menghilangkan suntuk dan penat setelah seharian berada di rumah sakit.

            Gedung bertingkat itu sudah cukup terlihat jelas, berarti sudah dekat, di mana flat-nya yang berada di lantai lima belas itu berada.

Kang Jihyun mempercepat langkahnya karena angin malam ini semakin dingin. Masih jam Sembilan malam, namun angin yang berhembus terasa seperti angin tengah malam.

Sebuah mobil sedan keluaran terbaru itu menarik perhatian Kang Jihyun. Mobil yang sedari tadi berhenti di tepi jalan raya yang sepi dengan pemandangan yang indah walaupun di malam hari sekalipun.

Kang Jihyun harus mengetahui bahwa jalan itu berada di kawasan yang romantis karena pemandangan yang terlihat sangat indah. Mungkin yang berada di dalam mobil itu adalah sepasang kekasih yang tengah melihat pemandangan yang indah, namun karena udara di luar dingin mereka tidak turun, pikir Kang Jihyun menebak-nebak, ia tersenyum tipis.

Namun tak berapa lama pandangan matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal. Sosok yang selalu ia pikirkan setiap harinya. Goo Eunra, ia melihat gadis itu berada di mobil sedan yang menepi.

Seketika itu, ia menghentikan langkahnya, apakah itu benar-benar gadisnya?

Kang Jihyun kembali memastikan beberapa meter dari mobil itu.

Benar, itu Goo Eunra. Itu adalah gadisnya yang telah mengisi hari-harinya selama beberapa tahun terakhir.

Kang Jihyun kembali melangkahkan kakinya menuju flat-nya. Namun sebuah benda terjatuh dari genggaman tangannya tepat ketika ia melangkah menjauh.

***

Advertisements

About yolasekarini

currently taking law

6 responses »

  1. hahhahaha…keren yola aku suka bgt ditunggu part 9 nya aku lama bgt nunggu part 8 ini 😀 Fighthing 😀

  2. Akhirnya ada part 8!!! Lama nunggunya xD lanjut terus yaa~~ ‘-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s