life-line-by-yolasekarini_2

LIFELINE

Scriptwriter: yolasekarini

Genre: AU, Medical, Romance, Drama, Frendship, Family

Cast(s): Cho Kyuhyun, Lee Donghae and some Ocs.

The heart has reasons that reason does not understand.
- Jacques Benigne Bossuel

Sembilan

Kyuhyun beranjak berdiri diikuti oleh Donghae beberapa detik kemudian. Saat menyusuri koridor rumah sakit mereka berdua terlihat seperti dua orang siswa yang baru saja mendapat hadiah karena telah mengerjakan ujian dengan nilai sempurna, walaupun dalam kenyataannya, mereka berdua hanya diberi bonus cuti itu pun karena selama dua tahun terakhir mereka berdua belum pernah mengambil jatah cuti yang diberikan oleh rumah sakit. Padahal setiap setengah tahun, mereka mendapat jatah dua minggu untuk cuti bebas dari panggilan darurat, jadi jika dijumlah, Kyuhyun dan Donghae masing-masing memiliki dua bulan waktu cuti. Itu berarti selama dua tahun penuh mereka belum pernah libur, hanya sekedar libur sakit satu sampai dua hari, untuk libur sakit satu atau dua hari pun pasien-pasien mereka harus dialihkan pada dokter lainnya, itu sama saja membuat repot dokter lainnya. Dokter tidak pernah mengenal kata hari Minggu. Mereka hanya bekerja sesuai dengan shift masing-masing.

“Jadi..,” Donghae membuka percakapan ketika dirinya dan Kyuhyun baru saja masuk ke dalam ruangannya. Kyuhyun berada di sofa sedangkan dirinya duduk di kursi. “Sebaiknya kita pergi kemana?” Donghae melanjutkan kata-katanya seraya melayangkan bantal kursi ke arah Kyuhun.

Sebelum bantal itu mengenai kepalanya, Kyuhyun segera menangkapnya dengan sigap seraya bergumam kesal. “Pergi?” Nadanya sinis namun beberapa detik kemudian ia sudah tertawa. “Aku enggak punya uang.” lanjutnya setelah berhenti tertawa.

Mendengar jawaban Kyuhyun seperti itu, Donghae lantas memutar bola matanya. Gaji yang selama ini hanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari itu pasti masih sangat cukup untuk sekedar pergi jalan-jalan walaupun mungkin Kyuhyun sudah memakai uang yang ia kumpulkan selama ini untuk membeli apartemen mewah dan sebuah mobil yang tak kalah mahal.Tidakkah kalian tahu bahwa gaji untuk seorang dokter bedah saraf termasuk gaji dengan nilai yang fantastis?

“Jangan sok miskin, sekarang ini waktunya untuk berlibur, Kyu!” Kyuhyun kembali tertawa kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Donghae.

Bicara mengenai gaji mereka berdua, gaji yang mereka berdua dapatkan sebenarnya bisa membuat mereka pergi berlibur kemana saja yang mereka inginkan. Satu kali melakukan operasi, mereka akan mendapatkan sekitar dua puluh ribu dolar, dalam satu tahun jumlah yang dapat mereka berdua kumpulkan baik Kyuhyun maupun Donghae dan dokter-dokter bedah saraf lainnya bisa mencapai enam ratus ribu dolar Amerika, hitung saja sendiri jika kamu ingin tahu berapa jumlahnya dalam rupiah.

“Kamu juga jangan sok ingin pergi berlibur, apartemenmu saja masih kamu terlantarkan begitu, sudah ingin pergi saja.” Kyuhyun menepuk bahu Donghae sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu.

“Eh, Kyu, mau kemana?” Donghae menolehkan kepalanya ke belakang sebelum akhirnya ia berdiri dan menghentikan Kyuhyun yang akan pergi keluar dari ruangannya.

Kyuhyun tertawa pelan melihat ekspresi panik Donghae sebelum akhirnya ia menjawab. “Aku mau pulang.” Dan tanpa Kyuhyun sadari ekspresi wajah Donghae kini terlihat kecewa. “Ah, kenapa pulang? Masa gitu aja kamu ngambek? Bantu aku bereskan apartemen, siapa lagi yang sedang cuti dan punya waktu untuk menolongku merapikan apartemen?”

Apartemen Donghae memang telah selesai sejak beberapa hari lalu, namun Donghae selalu tidak jadi pindah ke sana karena selalu tidak punya waktu untuk membereskan barang-barangnya kembali. Dan berhubung saat ini dirinya sedang cuti, sekarang adalah waktu yang tepat untuk pindahan.

Kyuhyun berdengus. “Tapi merapikan apartemenmu enggak yang macam-macam, kan?” Mendengar pertanyaan itu Donghae seketika tertawa dengan keras. “Ya enggak lah! Paling-paling nyuci tembok.” Seketika itu juga dahi Kyuhyun berkerut dan menyerngit aneh. “Aku enggak jadi ikut. Kamu ajak aja Jung Sila.”

“Ah, kamu gitu aja ngambek, aku cuma minta kamu bantuin aku beresin sedikit, soalnya kemarin sebagian sudah diberesin sama tukang.”

***

Donghae mengulurkan sebelah tangannya yang menggengam satu gelas air putih berisi beberapa es batu pada Kyuhyun. “Enggak usah pasang tampang kaya habis kerja rodi gitu dong, Kyu. Enggak asik banget sih.” Donghae berkomentar ketika ia duduk di samping Kyuhyun dan meluruskan kedua kakinya. Kyuhyun menoleh dan menjawab, “Katamu cuma bantuin sedikit, ternyata banyak banget, capek beneran, Donghae!” Donghae tertawa seraya menarik beberapa lembar tissue lagi dari kotak yang berada tidak jauh dari dirinya dan mulai mengelap keringat di sekitar wajah dan lehernya sendiri.

“Besok aku traktir kamu makan di luar deh hehehe.” Donghae beranjak berdiri dan menghilang ke dalam kamar mandi meninggalkan Kyuhyun sendirian di ruangan itu.

***

Minggu siang itu Lee Seungjae tengah bercakap-cakap dengan teman lamanya lewat ponsel di ruang tengah di mana televisi itu masih menyala tanpa mengeluarkan suara sementara Olivia sedang berlatih bermain piano di dalam kamarnya. Lee Seungjae sibuk dengan percakapan teleponnya sementara Olivia larut dalam lagu yang dimainkannya, mereka saling tidak mengganggu, itulah salah satu kesepakatan bersama yang juga berlaku di hari minggu.

Lee Seungjae tertawa pelan ketika David Thrussell melontarkan beberapa lelucon kemudian mendengarkan dengan penuh perhatian ketika David menceritakan masalah yang sedang dialaminya. Sampai akhirnya David memutuskan untuk tidur karena waktu di New York telah tengah malam ketika di Korea masih siang hari. Lee Seungjae pun memutuskan sambungan telepon dan beranjak ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia masukkan ke dalam microwave. Ketika membuka kulkas, tidak ada yang dapat ia lihat selain beberapa kotak susu berukuran besar milik Olivia dan beberapa kaleng bir miliknya. Hal itu membuat Lee Seungjae kembali menutup kulkas dengan malas sampai akhirnya ia menyadari bahwa ada sebuah stickynote yang ditempel di pintu kulkas. Kertas kuning itu berisi tulisan tangan seseorang yang memberitahu bahwa tidak ada makanan di kulkas dan menyarankannya agar segera pergi belanja bulanan, dan Lee Seungjae yakin orang yang menulis stickynote itu adalah pembantu paruh waktu yang bekerja di rumahnya setiap hari kecuali sabtu dan minggu.

Memesan makan siang sepertinya adalah jalan terakhir, Lee Seungjae kembali ke sofa yang berada di ruang tengah untuk mengambil ponselnya. Namun ketika baru akan menghubungi salah satu restoran, suara bel pintu terdengar, menandakan seseorang datang dan baru saja menekan bel. Lee Seungjae bangkit berdiri untuk membuka pintu tanpa melihat intercom terlebih dahulu.

“Hei,” Sapa Goo Eunra ketika Lee Seungjae membukakan pintu. “Sedang sibuk?” Eunra bertanya ketika Lee Seungjae masih tidak berkata apa-apa. “Ah.., ah, tidak. Kami sedang bersantai, mengistirahatkan diri di hari Minggu. Silahkan masuk, Eunra.” Lee Seungjae tersadar kemudian memiringkan tubuhnya agar memberi jalan untuk Goo Eunra supaya bisa masuk.

“Ada apa datang kemari?” tanya Lee Seungjae dengan ramah ketika ia baru saja mempersilahkan Eunra duduk di sofa ruang tengah seraya mematikan televisi yang masih terus menyala. Eunra menunjukkan kantong plastik berwarna putih itu pada Lee Seungjae. “Tadi aku baru saja makan siang dengan beberapa teman kantorku di salah satu restoran yang ada di lobby apartemen ini, jadi aku berfikir untuk memesan beberapa dan membawa ke sini. Kamu pasti belum makan siang, kan?” Eunra melirik meja makan yang bersih dari piring dan makanan. Lee Seungjae tertawa ringan. “Ah, lain kali tidak perlu repot-repot membawakan makanan, Eunra-ssi.”

Eunra beranjak dari sofa dan memindahkan makanan-makanan dari dalam kotak yang dibawanya dari restoran ke atas piring di meja makan. Setelah selesai, Lee Seungjae bergabung ke meja makan kemudian duduk di salah satu kursi. “Olivia.., dia di mana?” tanya Eunra pada Lee Seungjae ketika menyadari bahwa Olivia tidak ada di sana. “Sedang berlatih piano di kamarnya, biasanya ia tidak ingin diganggu ketika sedang latihan. Kalau dia lapar pasti dia akan datang sendiri.” Eunra mengangguk mengerti, padahal salah satu tujuannya datang ke sini adalah untuk melakukan pendekatan terhadap keponakan Lee Seungjae yang sampai saat ini masih sangat menjaga jarak terhadap Eunra.

***

Lee Seungjae dan Goo Eunra sedang berbincang-bincang di meja makan. Eunra menemani Lee Seungjae makan siang dan mendengarkan beberapa hal tentang Olivia yang diceritakan oleh Lee Seungjae padanya. Lee Seungjae terus bercerita sementara Eunra mendengarkan dengan penuh perhatian sampai akhirnya ia menyadari sesuatu yang tidak beres tiba-tiba terjadi pada diri Lee Seungjae. Kulit pria itu kini berubah kemerah-merahan, seingatnya sebelum makan tadi Seungjae masih terlihat biasa saja. Bercak kemerahan itu terlihat semakin banyak dan tersebar di sekitar leher sampai wajah Lee Seungjae yang memiliki warna kulit putih bersih.

“…Olivia dan aku terkadang sama-sama keras kepala, tapi untungnya sampai sejauh ini ia masih dapat dikendalikan.” Lee Seungjae mengakhiri kalimatnya dengan meneguk habis air putih di dalam gelasnya kemudian melonggarkan kerah kaus polo-nya, ia terlihat kepanasan. “Kenapa ruangan ini begitu panas? Bukannya cuaca di luar sedang cukup dingin?” Eunra tampak bingung harus berbuat apa melihat Lee Seungjae yang semakin memerah.

“Seungjae-ssi, ada beberapa bercak merah di sekitar leher dan wajahmu, apa kamu baik-baik saja?” Lee Seungjae terlihat agak terkejut mendengar itu dan ia seketika bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamarnya untuk melihat cermin.

Setelah kembali ke meja makan ia melihat Eunra yang tampak cemas. “Apa hal ini sering terjadi?” tanya Eunra ketika Lee Seungjae kembali duduk di kursi meja makan dan kini beberapa kancing teratas kaus polo-nya telah dibiarkan terbuka. Eunra dapat melihat kalau bercak merah itu juga terdapat di sekitar dada Lee Seungjae.

Lee Seungjae menggeleng. “Tidak, ini belum pernah terjadi sebelumnya.” Pria itu kini terdiam sejenak. “Astaga, mungkinkah ini alergi? Aku ingat Olivia dulu pernah mengalami hal serupa beberapa tahun lalu ketika ia makan kepiting, tapi aku sekarang sedang tidak makan kepiting.” Eunra mulai mengingat-ingat menu apa yang ia pesan untuk Lee Seungjae. “Ya ampun jadi kamu punya alergi kepiting?” kali ini Lee Seungjae menggeleng lagi, “Tidak, Eunra, aku tidak memiliki alergi terhadap ketiping, tapi aku memang memiliki alergi terhadap kacang-kacangan, tapi tidak separah ini. Jadi aku kira hanya alergi ringan saja.”

Eunra terkejut mendengar pengakuan Lee Seungjae bahwa ia memiliki alergi terhadap kacang, Goo Eunra seketika itu juga merasa bersalah pada Lee Seungjae, karena saus dari makanan penutup itu terbuat dari bahan dasar kacang, ia menjadi tidak enak hati karena ia telah membuat Seungjae menjadi seperti itu. “Seungjae-ssi, maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu memiliki alergi itu. Aku juga telah ceroboh tidak bertanya lebih dahulu sebelum kamu memakan ini.” Lee Seungjae tersenyum. “Tidak apa-apa, ini tidak parah kok, aku baik-baik saja, Eunra-ya.”

Eunra mengingat-ingat sesuatu apa yang bisa meringankan alergi Lee Seungjae untuk sementara waktu, dan ia kemudian ingat bahwa pamannya pernah memberinya satu gelas susu padanya saat ia terkena alergi makanan. “Seungjae-ssi, kamu punya susu? Susu apa saja, karena seingatku susu bisa menjadi penetral, setidaknya agar alergimu ini tidak semakin parah sebelum kamu pergi ke dokter.” Lee Seungjae mengangguk pelan seraya meringis dan menunjuk ke arah kulkas. “Ada beberapa kotak susu cair milik Olivia.” Eunra mengangguk kemudian melangkah menuju kulkas dan menuang susu cair itu ke sebuah gelas. “Ini minumlah,” Eunra mengulurkan tangannya yang memegang gelas berisi susu cair putih dingin pada Lee Seungjae.

Pintu kamar Olivia terbuka perlahan tidak berapa lama kemudian, ia baru saja selesai berlatih piano dan hendak mencari makanan di ruang makan, di mana meja makan berada. Ia pergi ke ruang makan diikuti oleh dua ekor anjing yang setia di belakangnya. Olivia melihat Lee Seungjae—pamannya—tengah berada di sana, hal itu membuatnya segera mengisyaratkan agar menyuruh anjing-anjingnya itu untuk pergi karena tidak ingin pamannya itu memarahinya.

Ketika melangkah semakin dekat dengan ruang makan, Olivia menyadari bahwa pamannya itu sedang tidak sendirian berada di sana, melainkan bersama Goo Eunra. Namun Olivia merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dengan wajah pamannya dan ekspresi wajah Goo Eunra. Raut wajah Goo Eunra terlihat khawatir sementara pamannya terlihat seperti sedang menyembunyikan rasa sakit dan sebuah gelas berisi susu cair putih milik Olivia setengah diminum terletak di dekatnya. Olivia menghampiri meja makan dan meleparkan pandangannya ke piring pamannya lalu berganti ke wanita yang duduk tidak jauh dari pamannya, lalu sesaat kemudian berkata dengan dingin. “Goo Eunra-ssi apa yang telah kamu berikan pada paman saya?” Olivia menatap Eunra dengan tajam dan marah. “Kau ingin membunuhnya?!” Olivia seketika itu juga berlari pergi menuju kamarnya, menjauh dari situ, dan ia semakin membenci wanita itu.

Olivia masuk ke dalam kamar tidurnya. Menangis karena kecewa terhadap Goo Eunra yang telah memperlakukan pamannya menjadi seperti itu, ia kecewa terhadap Goo Eunra ketika ia baru saja akan mulai membuka dirinya untuk menerima sosok Goo Eunra untuk menjadi pendamping bagi pamannya. Namun melihat hal itu, semua keinginannya untuk menerima Goo Eunra langsung lenyap seketika. Ia merasa marah terhadap pamannya dan juga Goo Eunra. Namun beberapa menit kemudian, sekitar lima belas menit ketika ia telah berhasil menenangkan diri, ia mulai menyadari bahwa kedua anjingnya itu ternyata tidak bersama dirinya di dalam kamar. Rupanya anjing-anjingnya itu tidak turut serta masuk ke dalam kamar saat ia masuk kamar tadi dan masih berada di luar. Olivia lantas membuka sedikit pintu kamarnya berniat untuk mencari anjingnya, karena di saat ia tengah sedih dan tidak ada tempat untuk berkeluh-kesah, ia akan membagi masalahnya dengan menceritakan tentang apa yang sedang dialaminya pada kedua anjingnya.

Olivia menemukan kedua anjingnya berada tidak jauh dari Goo Eunra, dua anjingnya itu terlihat berada di dekat kaki Eunra yang duduk bersama pamannya, tetapi pamannya terlihat tidak mempermasalahkan keberadaan anjing itu di dekat Eunra. Namun justru Olivia mendapatkan pemandangan lain, dimana ia melihat Goo Eunra dengan wajah bersalah dan mata yang berkaca-kaca hampir menangis dan pamannya yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah bersama Goo Eunra pun berkata dengan nada yang menenangkan bahwa Eunra tidak salah karena memang benar-benar tidak tahu tentang alerginya dan seharusnya Lee Seungjae memberitahu bahwa ia memiliki alergi itu atau setidaknya bertanya terlebih dahulu apakah terdapat — dalam makanan itu.

Hal yang membuat Olivia terkejut di balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit adalah ketika Lee Seungjae menarik Goo Eunra ke dalam pelukannya dan sesaat kemudian mencium Goo Eunra dengan perlahan. Air mata Eunra pun jatuh dari kedua kelopak matanya seraya Eunra menutup mata ketika Lee Seungjae mencium bibirnya dengan lembut. Lee Seungjae mencium Goo Eunra untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia melepaskannya. Sementara Olivia masih berdiri mematung di sana, ini adalah kedua kalinya ia melihat pamannya berciuman dengan wanita yang sama, ia belum pernah melihat pamannya mencium wanita lain sebelum ini, walaupun ia yakin pasti pamannya sudah pernah mencium wanita lain tapi ia tidak peduli selama ia tidak melihatnya secara nyata seperi saat ini. Ia semakin membenci kenyataan mengetahui bahwa pamannya itu benar-benar mencintai Goo Eunra dari melihat bagaimana pamannya itu mengelus punggung Eunra dan membelai rambut Eunra dengan pelan dan hati-hati. Olivia juga melihat Lee Seungjae menenangkan dan meyakinkan Eunra bahwa ia akan baik-baik saja. “Aku tidak apa-apa, Eunra-ya, Olivia juga tidak marah padamu, ia bersikap seperti itu karena ia khawatir padaku. Percaya padaku, Eunra, bahwa semuanya akan baik-baik saja.” Pamannya baru saja membelanya dan hal itu membuat Olivia sudah cukup senang. Hal yang ditakutkannya adalah pamannya malah menjelek-jelekkan dirinya di depan Goo Eunra, namun yang terjadi sebaliknya. Olivia tiba-tiba merasa bahwa ialah yang membuat pamannya menjadi seperti ini, ia sama saja seperti tidak membiarkan pamannya bahagia.

Olivia menghampiri Lee Seungjae. Ia sadar bahwa sikapnya pada Goo Eunra tadi telah melukai hati wanita yang pamannya cintai. Ia harus meminta maaf, itulah yang selalu diajarkan pamannya pada dirinya. Semarah apapun ia terhadap Eunra, wanita itu akan tetap menjadi wanita yang dicintai pamannya. “Aku minta maaf pada eonnie atas sikapku tadi.” Eunra tersenyum tidak percaya seraya menghapus air matanya karena tidak ingin Olivia mengetahui bahwa ia telah menangis, walaupun kenyataannya Olivia melihat semuanya, termasuk ketika pamannya itu menciumnya. Lee Seungjae lantas menyuruhnya untuk duduk di sebelah kanannya.

Itulah yang membuat Lee Seungjae bangga terhadap Olivia walaupun sikapnya kadang keterlaluan, namun ia berani mengatakan kesalahannya dan meminta maaf. Lee Seungjae pun mengacak rambut Olivia dengan sayang dan mencium keningnya. “Sekarang ada dua wanita yang paman sangat cintai di dunia ini, jadi kamu harus mulai mengenal Eunra dan jangan memusuhinya. Oh ya, jangan menganggap eonnie ini akan merebut paman darimu, paman akan selalu bersamamu dan Eunra.” Lee Seungjae merentangkan kedua tangannya dan memeluk Eunra dan Olivia secara bersamaan.

Tanpa disangka-sangka Lee Seungjae kemudian berlutut di depan Eunra yang duduk di sofa, meraih sebuah cincin dari dalam saku celananya. Cincin berlian itu terlihat sangat berkilauan dan indah. “Eunra, maukah kamu menjadi kekasihku dan jika kamu sudah siap nanti, maukah kamu menjadi istriku dan ibu untuk Olivia dan anak-anakku?” Olivia sama terkejutnya dengan Eunra dan semakin terkejut ketika Eunra tidak kunjung menjawab pertanyaan Lee Seungjae padanya. Namun sebelum Eunra memberikan jawaban, ia menoleh ke arah Olivia dengan tatapan ragu dan seperti meminta persetujuan dari Olivia. Olivia mengangguk dan tersenyum tipis, ia tahu bahwa Eunra adalah wanita yang akan menjadi pendamping pamannya kelak, dan yang terpenting adalah pamannya bahagia bersama wanita itu. Goo Eunra mengangguk dan Lee Seungjae langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Eunra dan mengecup keningnya singkat sambil berbisik terima kasih. Pamannya beralih ke Olivia kemudian memeluknya dengan erat seraya membisikkannya sesuatu, “Olivia, tolong mengerti paman, paman sangat mencintaimu dan juga Eunra, tidak apa-apa, kan, jika suatu saat nanti paman akan menikahinya?” Olivia tersentuh mendengar kata-kata pamannya yang terdengar begitu tulus. Olivia mengangguk mengerti kemudian membalas pelukan pamannya.

“Nah, siapa yang ingin ikut paman membeli es krim yang banyak?!” Olivia dan Eunra menjawab berbarengan dan mereka bertiga pun tertawa lepas. “Paman harus ke dokter dulu, wajahnya masih merah-merah begitu!” Lee Seungjae baru menyadari bahwa dirinya baru saja menyatakan cinta pada seorang wanita yang ia cintai tetapi dengan wajah yang masih banyak terdapat merah-merah karena alergi makanan. Hal itu membuat mereka bertiga kembali tertawa sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk mengobati Lee Seungjae.

***

Kang Jihyun melangkah masuk ke dalam kamar Yeonhee, memegang kedua tangan Yeonhee yang dingin dan kurus kemudian menciumnya. Kang Jihyun terisak pelan sambil memandangi wajah Yeonhee yang pucat. Ia mengenang masa-masa di saat Yeonhee masih dapat beraktivitas sebagai gadis yang tengah tumbuh dewasa. Ia mengingat masa mereka masih berada di Swiss dulu, Yeonhee masih duduk di tahun pertama sekolah menengah pertama dan kedua orang tua mereka masih utuh bersatu.

Kang Jihyun dan Kang Yeonhee adalah dua orang bersaudara yang datang dari keluarga yang sangat berkecukupan, mereka lahir dan tumbuh di daratan Eropa karena ayah mereka bekerja di sana. Namun ketika ibu mereka mendapat kabar bahwa sang ayah berselingkuh di belakangnya, ibu mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua setelah memutuskan untuk bercerai, dan ayahlah yang akhirnya mengurus mereka berdua. Sampai kabar tentang meninggalnya ibu mereka itu sampai, ayah mereka menjadi sangat terpukul karena ia masih sangat mencintai ibu dari Kang Jihyun dan Kang Yeonhee dan berita tentang perselingkuhan itu tidaklah benar adanya. Sampai akhirnya dalam satu tahun ayah mereka menjadi sering sakit dan meninggal pada tahun berikutnya. Itulah yang membuat Kang Jihyun masuk ke sekolah kedokteran saat ayahnya sedang sakit-sakitan dan belajar sangat keras ketika ayahnya akhirnya meninggal dunia, ia berpikir ia telah gagal menyelamatkan ayahnya, walaupun sebenarnya saat itu ia masih menjadi mahasiswa. Tapi untunglah, ayahnya meninggalkan banyak harta untuk dirinya dan Yeonhee meneruskan hidup sehingga Kang Jihyun dapat menamatkan sekolah kedokteraannya dan bekerja di salah satu rumah sakit terkenal di sana. Di universitas, ia bertemu dengan Goo Eunra, wanita yang dapat membuat dirinya bertahan di tengah kesulitan mempertahankan hidupnya dan adiknya tanpa ayah dan ibu berada di sisi mereka. Namun, sampai pada suatu malam, ketika ia melihat wanita yang telah mengisi hari-harinya bersama dengan seseorang lain, ia merasa sangat dikhianati, dan merasa bahwa tidak ada alasan lagi untuk dirinya agar tetap tinggal di Swiss. Ia merasa ia harus kembali ke tanah kelahiran ayahnya, yaitu Korea Selatan. Lagipula, biaya hidup di Eropa begitu mahal, ia tidak yakin hanya dengan menggunakan gajinya sebagai dokter muda dari rumah sakit yang tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan Yeonhee.

Alasan lain ia memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya adalah karena Yeonhee yang memintanya untuk pindah. Ketika Kang Jihyun melihat Eunra pergi bersama laki-laki lain, keesokan harinya dirinya dan Eunra pun bertengkar hebat, Eunra menyangkal ia pergi berkencan dengan laki-laki lain sampai akhirnya Yeonhee mengetahui dan melihat pertengkaran itu dan meminta kembali ke Korea sambil menangis sebelum masalah Kang Jihyun dan Eunra selesai, sampai saat ini Kang Jihyun tidak benar-benar tahu apa alasan Eunra pergi dengan pria itu. Walaupun mereka berdua tidak terlalu bisa berbahasa Korea, Yeonhee tetap memaksa. Sehingga ia dan Yeonhee memutuskan untuk mengikuti kursus bahasa singkat terlebih dahulu sebelum mereka berdua benar-benar pindah. Alasan Yeonhee menginginkan pindah adalah karena ia tidak ingin mengingat perceraian ayah-ibunya dan kematian keduanya di Swiss, juga ia tidak ingin kakaknya harus berdekatan dengan wanita yang telah mengkhianati kakaknya.

***

Kang Jihyun menghubungi Park Luna karena dia ingin meminta maaf terhadap yang telah dilakukannya pada Luna satu minggu lalu, ia belum sempat mengucapkan kata maaf pada Luna, dan itu yang membuatnya merasa seperti diikuti oleh rasa bersalah yang besar. Untungnya ketika ia berhasil tersambung pada Park Luna, gadis itu terdengar tidak marah, dan menerima ajakannya bertemu sekaligus makan malam.

Malam hari pun tiba dan Kang Jihyun bergegas pergi ke restoran yang telah disepakati oleh mereka berdua. Malam ini Kang Jihyun terlihat rapi dan tampan dengan kemeja biru muda bergaris dan dasi biru gelap, ibunya pernah mengatakan bahwa penampilan terbaik Kang Jihyun adalah ketika ia memakai dasi berwarna biru. Ia pun memilih warna abu-abu muda untuk warna celana dan jas yang dipakainya.

Selama makan malam, Kang Jihyun tidak begitu banyak berbicara, ia sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi, ketika ia meminta maaf pada Park Luna tentang kejadiaan malam itu, Luna memaafkannya. Dan setelah itu ia tidak tahu harus membangun sebuah percakapan mengenai apa. Jadi ia memilih untuk menikmati hidangan di depannya tanpa banyak berbicara. Makan malam pun berakhir dan ia memutuskan untuk mengantar Park Luna pulang karena sudah terlalu malam jika Luna harus pulang seorang diri dengan taksi. Rupanya suasana di mobil juga tidak begitu berbeda dengan suasana mereka makan tadi. Kang Jihyun mencoba untuk mencairkan suasana dengan memutar musik lewat pemutar cd mobil, namun karena ia tidak tahu kaset siapa dan apa yang berada di dalam pemutar cd itu, lagu semangat dan berirama hip-hop pun seketika memenuhi mobil yang hanya ditumpangi oleh dua orang yang tidak saling bicara. Kang Jihyun buru-buru mengeluarkan kaset itu dan berkata dengan kikuk seraya meringis pelan, “Oh maaf, tadi itu kaset milik Yeonhee,” Kang Jihyun tertawa pelan kemudian meraba dashboard di depan Luna, namun karena sedang menyetir, Luna membantu memilihkan kaset untuk diputar. “Aku tidak tahu berapa lama aku tidak memutar musik di dalam mobil, mungkin ketika Yeonhee belum seperti saat ini, itulah mengapa kaset terakhir yang terdapat di dalam sana masih milik Yeonhee.” Nadanya terdengar bahwa ia mencoba untuk berpura-pura santai dan menyembunyikan kesedihannya terhadap Yeonhee. Luna menganggapinya dengan beberapa kalimat singkat karena saat ini ia tidak ingin mengungkit masalah Yeonhee dan membuat kesedihan Kang Jihyun datang lagi.

Musik mengalun pelan dan teratur, terus mengalun sampai akhirnya Kang Jihyun menghentikan mobilnya di jalan yang sudah sangat dekat dengan rumah Luna—Luna memintanya untuk menurunkannya hanya sampai di sini. Dan ketika Luna sudah akan bersiap turun dari mobilnya, Kang Jihyun merasa seolah ia kehilangan kata-kata apa yang seharusnya ia ucapkan pada Luna, seperti sekedar selamat malam atau sampai jumpa besok, ia tidak mengatakan apa-apa. Ketika meraih handle pintu mobil, bukannya menariknya untuk membuka pintu, ia malah menurunkan tangannya kembali. Kepalanya masih menunduk. Kang Jihyun tidak mengerti ada apa dengan Luna. Dan sesaat kemudian, Park Luna mencium bibir Kang Jihyun yang kering, dan hal itu membuat Kang Jihyun seketika membalas ciuman Luna kemudian meletakkan kedua tangannya di punggung Luna dan mengusapnya pelan. Luna mengakhiri ciuman yang berlangsung cukup lama itu dan tidak berani menatap Kang Jihyun. Kang Jihyun menyentuh ujung dagu Luna dan membuat Luna menatapnya. Ia merapikan helaian rambut Luna sambil terus menatapnya dengan tatapan yang teduh tanpa berkata-kata.

Tidak berapa lama, Luna kemudian menunduk lagi dan berkata dengan pelan, “Maafkan aku, Dokter.” Kang Jihyun menjawab dengan tenang sambil mencoba membuat Luna kembali menatapnya, “Sstt.., memang apa yang perlu dimaafkan, Luna? Tidak ada.” Kali ini Kang Jihyun mengecup bibir Luna dengan pelan dan singkat kemudian Luna hanya menjawabnya dalam hati sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia pun beranjak keluar dari mobil. Tanpa ada usaha apapun dari Kang Jihyun untuk menahan Luna pergi begitu saja.

***

Donghae datang ke rumah sakit untuk mencari Jung Sila. Hari telah hampir malam, ia tahu bahwa Sila sebentar lagi akan pulang, ia ingin mengajak Sila mengunjungi ke apartemennya yang baru selesai di renovasi. Ia ingin mendengar pendapat Sila tentang perubahan apartemennya. Ia ingin melihat ekspresi Sila ketika ia menunjukkan apartemennya. Walaupun sejujurnya, ia memang menginginkan segala-galanya tentang Sila.

“Sila..!” Serunya antusias ketika melihat Jung Sila keluar dari ruangannya. Donghae segera menghampiri Sila dan memeluknya. Sila cukup terkejut atas perlakuan Donghae yang tidak disangka-sangka. “Donghae, ini rumah sakit, lepaskan.” Donghae memang segera melepaskan Sila tetapi ia malah mencium pipi Sila dengan cepat kemudian menarik tangan Sila membawanya keluar dari gedung rumah sakit menuju mobil sebelum Sila protes dan marah-marah. “Tidak lucu, Donghae, bagaimana jika ada orang yang melihat tingkahmu tadi? Mau kita berdua dipecat karena berbuat senonoh di rumah sakit?” Donghae lantas tertawa sampai wajahnya memerah.

“Ada apa datang ke sini, bukannya kamu masih cuti.” Sila bertanya tanpa ekspresi masih kesal dengan Donghae. Donghae membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Sila untuk duduk. “Aku mau mengajakmu ke suatu tempat, mau ya?” Donghae melihat Sila yang masih cemberut. “Hei jangan cemberut gitu dong, aku ke sini karena dari kemarin kamu enggak bisa dihubungi, kamu enggak kangen aku juga, huh?” Sila menoleh ke arah Donghae kemudian tertawa. “Lagian kan aku pernah bilang ke kamu kalau lagi di rumah sakit jangan macem-macem, tapi kamu masih aja kayak gitu. Sekarang mau kemana lagi? Jangan sampai terlalu malam, besok pagi aku ada operasi.” Donghae tersenyum lebar dan mengangguk. “Ah, seharusnya waktu cuti kita bersamaan, aku kan bisa ngajak kamu jalan-jalan, Kyuhyun nggak asik, dia nggak mau diajak pergi.” Sila memutar bola matanya, “Siapa juga yang mau pergi liburan sama kamu, di rumah sakit yang banyak orang aja kamu begitu, gimana kalau cuma berdua.”

***

Sila sempat mengomel ketika tahu bahwa ternyata Donghae mengajaknya ke apartemen milik Donghae, karena sebelumnya Sila memang belum pernah tahu bagaimana apartemen Donghae. Awalnya Sila sempat ngeri mau apa Donghae mengajaknya pergi ke apartemen malam-malam begini. Sila sempat langsung menyetop taksi untuk pulang, tapi Donghae berkata bahwa ia hanya ingin mendengar pendapat Sila tentang perubahan apartemennya yang baru selesai direnovasi.

Sila masuk ke dalam ruangan apartemen Donghae yang ternyata cukup luas. Perabotan yang tersusun rapi dan teratur membuat ruangan itu terlihat semakin luas walaupun sebenarnya tidak begitu luas. “Bagaimana hasil renovasinya? Bagus, kan?” Sila melihat sekeliling, bagaimana mau melihat perubahan jika ia sendiri belum pernah melihat bagaimana apartemen Donghae sebelum direnovasi. “Well, apartemenmu terlihat rapi, Donghae, tapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana bentuk apartemen ini sebelum kamu merenovasinya.” ketika itu juga Donghae mengambil ponsel dari saku celananya, mengutak-atiknya sebentar lalu menunjukkan sebuah gambar pada Sila. “Aku punya satu foto, waktu itu aku memotret Kyuhyun yang ketiduran di sini. Nah, sebelum di renovasi, apartemen ini begini bentuknya.” Sila memerhatikan gambar itu lalu kemudian mengembalikannya pada Donghae. “Oh ya, tadi itu Kyuhyun ya? Beda sekali dengan yang sekarang.” Donghae mengangguk mengiyakan, padahal foto itu sudah diambil sekitar satu tahun yang lalu, Kyuhyun tengah tertidur di atas sofanya dengan posisi meringkuk, kalau seandainya waktu itu Donghae tidak menyelimuti Kyuhyun, mungkin Kyuhyun sudah menggigil kedinginan karena di luar salju sedang turun sangat deras. “Kyuhyun kalau kecapekan ya seperti itu, apalagi waktu itu kami habis melakukan bedah yang memakan waktu sangat lama, delapan jam operasi itu baru selesai, Kyuhyun dan aku benar-benar kelelahan malam itu, jadi Kyuhyun memutuskan untuk menginap di sini. Sekarang pun juga masih begitu, mukanya akan terlihat aneh hehehe. ” Sila mendengus kemudian tertawa, “Memangnya kamu tidak?” Donghae hanya membalasnya dengan mengendikkan kedua bahunya dengan asal. “Kamu kan belum pernah tidur denganku, jadi kamu mana tahu bagaimana aku tidur.” Sila lantas segera melemparkan pandangan sebal ke arah Donghae yang hanya senyum-senyum tidak jelas.

Jung Sila berdiri di depan dua buah figura yang menempel di salah satu dinding. Dua buah figura itu menampilkan foto anak laki-laki yang tengah tersenyum, Sila sendiri tidak yakin kedua anak laki-laki di dalam foto itu adalah orang yang sama. Di figura pertama anak laki-laki itu sedang duduk seorang diri, dan terlihat masih berusia sekitar sepuluh tahun. Dan di dalam figura kedua anak laki-laki itu berdiri di antara pria dan wanita setengah baya yang tersenyum ke arah kamera sambil merangkul anak laki-laki itu, anak laki-laki itu tampak sudah beranjak remaja, tubuhnya setinggi pria di samping kanannya.

Tidak sampai satu menit kemudian Sila dibuat kaget ketika ia merasakan hembusan nafas Donghae di sekitar leher kanannya, rupanya Donghae menyandarkan kepalanya di bahu Sila. “Sedang apa di sini?” Donghae bertanya seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sila. Sila tidak langsung menjawab dan tetap memperhatikan kedua foto itu. “Itu kamu, Donghae?” Sila dapat merasakan Donghae mengangguk pelan dari bahunya. “Tampan, kan?” Sila tertawa pelan.

Donghae menegakkan kepalanya kembali tanpa melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Sila. “Aku pindah ke Seoul ketika aku masuk universitas, foto ini diambil ketika aku lulus SMA,” Donghae mengambil tangan kanan Sila untuk menyentuh foto itu bersama dengannya sambil berkata lagi, “Yang ini adalah ayahku, tapi sekarang ia sudah tidak ada,” Donghae menggeser tangan Sila yang berada tepat di bawah telapak tangannya, ia masih menggenggam tangan Sila dan kembali berbicara, “Nah yang ini adalah ibuku.”

Donghae tidak berbicara lagi setelah itu, kemudian memandangi kedua foto itu seperti bagaimana Sila tadi. “Aku tidak bermaksud membuatmu mengingat hal itu kembali, Donghae, maafkan aku.” Sila meraih tangan Donghae. Dan Donghae pun menoleh lalu tersenyum seraya menjawab, “Tidak apa-apa,” Donghae melepaskan tangan Sila tetapi sesaat kemudian merangkul bahu Sila. “Aku ingin mengajakmu pergi ke Mokpo, tempat aku tumbuh besar dulu, di sana banyak hal yang menyenangkan, pasti akan lebih menyenangkan lagi jika ada kamu,” Sila melirik Donghae sambil tersenyum. “Berhenti merayuku, Donghae.”

“Tidak, Sila, aku serius, aku benar-benar ingin mengajakmu pergi ke sana sekalian untuk memperkenalkanmu pada ibuku, beberapa bulan lalu aku sudah pernah menemui orangtuamu, bukan? Sekarang giliranku mengenalkanmu,” Donghae bicara dengan sungguh-sungguh. “Apa kamu ada waktu senggang minggu ini?”

“Aku akan lihat jadwalku minggu ini, semoga aku bisa ikut pergi ke sana, nah, sekarang sudah malam, aku harus pulang, Donghae.” Donghae tersenyum lebar, senang bahwa Sila akan pergi bersamanya ke Mokpo, kampung halamannya. Sepuluh menit kemudian ia sudah berada di dalam mobil untuk mengantarkan Sila pulang.

***

Suasana siang hari ini tampak cerah dan angin yang berhembus pun cukup sejuk menyegarkan. Hari ini adalah hari Kamis, Kyuhyun dan Donghae tentu saja belum kembali ke rumah sakit karena jatah cuti mereka memang belum habis, setidaknya minggu depan mereka sudah harus beraktivitas seperti biasa lagi.

Pagi tadi entah karena apa, Kang Jihyun menelepon Kyuhyun setelah ia selesai dari poliklinik pagi hari. Pagi itu Kang Jihyun menghubungi Kyuhyun karena ingin membuat janji bertemu, dan karena padatnya jadwal Kang Jihyun, ia jadi tidak bisa bertemu Kyuhyun kecuali di jam makan siang dan bertempat di kafetaria rumah sakit.

Saat istirahat makan siang, Kang Jihyun segera pergi ke kafetaria dan Kyuhyun ternyata sudah menunggu di sana. Kyuhyun melambaikan tangannya agar Kang Jihyun dapat melihat dimana ia berada, walaupun sebenarnya Kang Jihyun sudah melihat Kyuhyun ketika ia baru masuk ruangan kafetaria itu. Kang Jihyun bergabung ke meja Kyuhyun yang berada di dekat jendela kaca yang menghadap ke pemandangan taman belakang rumah sakit.

Setelah memesan makanan pada petugas kafetaria, Kang Jihyun memulai percakapannya. Kyuhyun sendiri masih tidak tahu apa tujuan Kang Jihyun meneleponnya pagi itu. Sebelum Kang Jihyun mulai bicara, Kyuhyun dapat melihat ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. “Alasan aku menghubungimu pagi tadi adalah untuk meminta saran dan pendapat tentang Yeonhee.” Kang Jihyun terlihat putus asa dari caranya bicara pada Kyuhyun.

Kyuhyun memperhatikan Kang Jihyun dengan serius. “Maksudmu? Ah, aku mengerti, jadi, sejauh ini bagaimana kondisi Yeonhee?”

“Aku sudah tidak tahu lagi harus mengatakan hal ini pada siapa, tidak ada perubahan yang berarti pada diri Yeonhee, tetap sama seperti saat terakhir ia berada di rumah sakit. Haruskah aku melakukan hal yang dengan berat hati disetujui oleh sebagian keluarga pasien yang juga terjebak dalam kondisi seperti ini, untuk mencabut semua penunjang kehidupan pasien?” Ada kesedihan yang mendalam jauh di dalam tatapan matanya yang berusaha disembunyikan oleh Kang Jihyun.

“Menurutku hal itu bukanlah ide yang bagus, Kang Jihyun-ssi, kau pernah mendengar tentang orang yang bangun dari koma yang panjang, hampir sepuluh tahun koma dan akhirnya bangun, itu karena orang-orang sabar menunggu ia tersadar kembali ke dunia, walaupun bertahun-tahun lamanya, nah, itu berarti di sini kita masih memiliki harapan bahwa Yeonhee masih punya kemungkinan untuk bangun dan sadar walaupun mungkin tidak dalam waktu dekat. Jika kau mencabut semua alat penunjang kehidupan Yeonhee, kau mungkin berfikir dengan melakukan itu akan membuat Yeonhee terbebas dari kesakitannya dan penderitaannya, namun di sisi lain kau melenyapkan kemungkinannya untuk bangun dan sadar kembali, juga, secara tidak langsung, kau membunuh nyawanya.” Kang Jihyun seketika menatap Kyuhyun karena kaget dengan apa yang dikatakan Kyuhyun diakhir kalimatnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Hanya diam dan menunggunya sampai terbangun kembali?” Suaranya mulai terdengar serak. Kyuhyun melihat jam tangannya. “Bagaimana jika nanti malam aku datang ke apartemenmu untuk melihat kondisi Yeonhee secara langsung? Apa kau sibuk malam nanti?” Kang Jihyun menggeleng pelan. “Tidak, datanglah nanti malam.”

***

Malam itu Kyuhyun mengendarai mobilnya menuju apartemen Kang Jihyun, ia turut merasa prihatin dengan Yeonhee yang tidak kunjung sadar dari komanya. Dan Kang Jihyun terlihat amat terpukul atas keadaan Kang Yeonhee sekarang, juga, adiknya itu telah membuat perubahan-perubahan kecil pada diri Kang Jihyun.

Kyuhyun menekan bel satu kali dan tidak lama kemudian pintu terbuka otomatis dari dalam. Saat Kyuhyun melangkah memasuki ruangan apartemen, ia melihat Kang Jihyun tengah duduk di sofa ruang tengah dan sebuah intercom menempel di dinding dekat Kang Jihyun kini berada. Kang Jihyun menoleh ke belakang seraya beranjak berdiri ketika ia melihat Kyuhyun sudah berdiri di dekat pintu masuk. “Hei,” sapanya pada Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum samar kemudian bertanya tentang di mana Yeonhee berada. Kang Jihyun lantas segera menunjukkan kamar Yeonhee dan membuka pintunya untuk Kyuhyun. Kyuhyun melangkah masuk mendahului Kang Jihyun yang masih memegang knop pintu. Kyuhyun masih tidak dapat berkata-kata melihat kamar gadis itu kini berubah seperti kamar rumah sakit yang dipenuhi alat medis dan bunyi dari alat-alat tersebut yang kadang-kadang bisa memekakan telinga.

Kyuhyun melangkah mendekat ranjang Yeonhee kemudian meraih sebelah tangannya yang diinfus, ia memeriksa selang infus, memeriksa semua alat yang menempel pada tubuh Yeonhee, yang sebenarnya Kang Jihyun sendiri dapat melakukannya tanpa harus dibantu, namun Kyuhyun hanya ingin membantu dan memastikan apa sebenarnya yang terjadi pada Yeonhee. Semuanya terlihat normal ketika ia selesai memeriksa Yeonhee. Kyuhyun pun menoleh ke arah Kang Jihyun yang berdiri tidah jauh darinya. “Aku sudah memeriksa semuanya, sama seperti yang selama ini kamu lakukan, semua hasilnya normal, itu berarti kita hanya perlu menunggunya hingga sadar.”

***

Olivia melambaikan tangannya sekali lagi ketika pamannya itu menoleh ke arahnya dari balik pintu pembatas kaca di bandara. Pamannya harus kembali meninggalkannya demi menyelesaikan masalah pekerjaan yang menuntutnya harus pergi meninggalkan Korea untuk beberapa hari, bahkan bisa sampai satu minggu atau mungkin lebih.

Ketika sosok pamannya telah menghilang dari pandangannya, Olivia berbalik menuju seorang pria setengah baya yang berdiri beberapa meter di belakang dirinya, menunggu dengan sabar dan tenang, tersenyum pada Olivia ketika Olivia menyambut tangannya dan menuntunnya kembali ke mobil.

Supir itu telah bekerja pada pamannya sejak bertahun-tahun dulu, tepatnya ketika Olivia pertama kali masuk sekolah dasar, supirnya itulah yang mengantarnya sampai di kelas tepat di hari pertama sekolah, pamannya tidak bisa mengantarnya karena saat itu pamannya harus pergi ke luar kota saat hari masih subuh, bahkan ketika dirinya belum terbangun, namun pamannya sudah menyiapkan segala sesuatunya sebelum pergi, dan saat itu Olivia juga mempunyai babysitter yang merawatnya karena di samping Lee Seungjae sibuk, ia juga tidak terlalu mengerti tentang mengurus anak. Lee Seungjae masih sangat muda saat itu, usianya baru menginjak dua puluh dua tahun ketika Olivia menjadi tanggungjawabnya.

***

Hari ini adalah hari pertama dalam pekan ulangan di sekolah, Olivia masuk sekolah setelah kemarin siang ikut mengantar pamannya ke bandara Incheon—Olivia jarang sekali ikut mengantar Lee Seungjae, karena selama ini pamannya itu selalu pergi sendiri tanpa diantar oleh supir—ketika hari semakin sore, supir yang selalu menjemputnya ketika pamannya pergi ke luar kota atau bahkan ke luar negeri seharusnya sudah datang menjemputnya, malahan biasanya sebelum ia keluar dari kelas, supirnya itu telah menunggunya di lobi sekolah, namun tidak untuk hari ini. Padahal ia harus secepatnya pulang karena besok ia harus kembali menghadapi soal-soal di pekan ulangannya di sekolah, ia harus belajar untuk ulangan besok pagi—walaupun sebenarnya ia merasa bahwa dirinya sedang tidak enak badan, sejak semalam kepalanya terasa pusing dan ia juga sedang terkena flu ringan—tapi kenapa supirnya tidak kunjung datang? Ia sudah mencoba menghubungi supirnya namun tidak mendapat jawaban dan teleponnya pun tidak diangkat.

Olivia melihat pantulan bayangan dirinya di dinding kaca yang terdapat tidak jauh dari lobi sekolahnya tempat dirinya menunggu saat ini. Ia baru menyadari bahwa wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Kepalanya juga semakin berat. Ia memejamkan matanya beberapa saat berharap sakit kepala itu hilang ketika ia membuka mata.

Sekolahnya sudah semakin sepi walaupun di sana masih terdapat beberapa murid yang sedang mengikuti pelajaran tambahan. Sampai beberapa menit kemudian Olivia memutuskan untuk menghubungi pamannya, walaupun sebenarnnya ia tidak mau mengganggu pamannya yang sedang bekerja. Ia akhirnya mengirim sebuah pesan singkat untuk pamannya dan mengatakan bahwa supirnya belum juga datang.

Satu menit, dua menit, tiga menit, lima menit, Olivia belum juga mendapat balasan apapun dari pamannya. Namun tidak lama kemudian sebuah mobil sedan berwarna silver metalik memasuki area sekolah dan berhenti tepat di depan lobi sekolah. Pintu kemudi terbuka dan seorang wanita keluar dari sana. Olivia dapat segera mengenali siapa wanita tersebut.

“Olivia, pamanmu belum lama tadi menelepon dan meminta agar aku menjemputmu di sekolah,” Eunra berjalan menghampiri Olivia yang duduk di salah satu kursi di lobi, mengulurkan sebelah tangannya pada Olivia. Namun Olivia tidak langsung menyambut uluran tangan tersebut, ia memandangi wanita itu untuk beberapa saat sampai akhirnya ia ikut masuk ke dalam mobil, setelah wanita itu membukakan pintu untuknya, ia duduk di kursi samping kemudi.

Goo Eunra mengendarai mobilnya masih dalam diam, ia sendiri tidak tahu harus memulai percakapan yang seperti apa pada Olivia. Ketika mobilnya berhenti di salah satu lampu merah, Eunra menoleh ke arah Olivia yang duduk di kursi sebelahnya. “Olivia, kamu sudah makan siang?” tanyanya dengan lembut seolah takut kalau Olivia masih marah padanya atas insiden makan siang beberapa hari lalu yang telah membuat tubuh Lee Seungjae menjadi merah-merah karena alergi.

Olivia tidak menjawab dan ketika Goo Eunra baru saja menyadari sesuatu pada diri Olivia, lampu merah itu berganti hijau. Mau tidak mau ia harus kembali menekan pedal gas agar mobil yang dikendarainya itu kembali bergerak jika ia tidak ingin diklakson oleh mobil-mobil lainnya. Tetapi Eunra kemudian segera membawa mobilnya masuk ke jalur lambat sebelum akhirnya menepikan mobilnya di bahu jalan. Olivia terlihat sangat pucat dan ia dapat melihat ada beberapa keringat terdapat di pelipis gadis itu. Eunra pun menarik beberapa lembar tisu dan membersihkan pelipis Olivia dari keringat, namun ketika ia tidak sengaja bersentuhan dengan permukaan kulit Olivia, ia seketika menyadari bahwa Olivia sedang terkena demam setelah mengetahui bahwa suhu tubuh Olivia yang panas. “Astaga, kamu demam, Olivia,” Eunra kemudian segera mengendarai mobilnya kembali dan mencari rumah sakit terdekat yang sejalur dan serarah dengan arah apartemen Lee Seungjae.

Goo Eunra membelokkan mobilnya masuk ke dalam area rumah sakit yang berhasil ia temukan yang sejalan dengan arah apertemen Lee Seungjae. Ia pun segera menuntun Olivia masuk ke dalam rumah sakit dan membawanya ke unit gawat darurat, karena jika pergi ke poli, akan memakan banyak waktu, sedangkan Olivia harus diperiksa sekarang juga.

***

Kang Jihyun baru akan pergi makan siang, walaupun kenyataannya hari telah berganti sore, ia belum sempat makan siang karena ia baru saja menyelesaikan sebuah operasi yang berlangsung agak lama. Hari ini ia juga sedang tidak berselera makan makanan di kantin rumah sakit, membeli makanan dari restoran di luar kedengarannya ide bagus, karena selama ini ia jarang pergi makan siang di luar rumah sakit.

Sore itu ia berjalan menuju lobi rumah sakit dengan langkah yang santai, jarang sekali ia bisa seperti sore ini, biasanya jam segini ia masih sibuk. Ia kembali berjalan memperhatikan suasana rumah sakit sore itu, baru kali ini ia benar-benar memperhatikan keadaan rumah sakit, karena selama ini ia datang ke rumah sakit, pergi ke poliklinik, melakukan kunjungan pasien, pergi ke kafetaria, ke dalam ruang operasi, ke ruangan miliknya, lalu pulang, jika ada masalah tentang pasien dan ia butuh belajar, maka ia kadang pergi ke perpustakaan rumah sakit yang ada di lantai lima. Hanya itu yang ia lakukan selama ini. Pergi keluar lewat lobi ia pun jarang, biasanya ia langsung menuju parkiran dokter yang tidak harus lewat lobi.

“Dokter..,” panggil seseorang membuatnya menoleh ke belakang kemudian menghentikan langkahnya. “Ya..?” tanyanya pada perawat itu. “Dokter sedang sibuk?” Mendengar pertanyaan itu Kang Jihyun menjadi sedikit bingung dan akhirnya menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya sedang tidak sibuk, ada apa memangnya?” Ia berpikir bagaimana jika ada sesuatu yang gawat terjadi?

“Ada seorang pasien di UGD namun ia menggunakan bahasa yang tidak dapat dimengerti semua orang yang berada di sana, dia tidak bisa berbahasa Korea ataupun Inggris. Keluhannya tidak dapat kami mengerti, bisa dokter bantu kami sebentar?” perawat itu bertanya dengan wajah cemas.

Kang Jihyun mengerutkan keningnya ketika pertama kali mendengar sendiri kata-kata yang dikeluarkan oleh sepasang suami-istri itu. Bahasa yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Namun ia harus mencari cara bagaimana agar ia dapat mengetahui apa yang dimaksud oleh mereka. Setelah hampir sepuluh menit belum juga mendapat apa yang dimaksud oleh dua orang itu, seorang pria berumur tigapuluhan datang mengampiri perawat, dokter, dan Kang Jihyun yang masih kebingungan mendapatkan maksud dari dua orang ini. Pria itu adalah anak mereka dan untungnya dapat berbicara bahasa Korea dengan cukup lancar, mengatakan bahwa ada seorang keluarga mereka yang tengah sakit di rumahnya yang tidak jauh dari rumah sakit dan sepasang suami-istri itu pergi ke rumah sakit untuk meminta bantuan. Mereka berdua datang ke Korea untuk menjenguk pria tadi yang adalah anak mereka yang sudah lama tidak kembali ke negaranya karena bekerja di Korea. Kang Jihyun dan dokter-dokter yang lain juga perawat yang tadi kebingungan seketika menarik nafas lega.

Kang Jihyun segera pamit pergi karena ia sedang tidak bertugas, rencana awalnya tadi adalah pergi membeli makan siang di luar, namun dua puluh menitnya sudah terbuang untuk hal tadi. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi makan siang di luar dan berniat makan di kafetaria saja. Ketika ia baru akan keluar dari ruang UGD, ia melihat seorang wanita yang sangat familiar bagi dirinya kali ini tengah menggandeng seorang anak perempuan yang terlihat pucat. Hal itu lantas membuat Kang Jihyun menjadi penasaran karena ia belum pernah melihat Eunra bersama anak perempuan sebelumnya. Sekarang ia malahan melihat Eunra sedang menggandeng anak perempuan itu dengan wajah khawatir dan berjalan ke arah seorang dokter yang masih berbicara dengan pasien lainnya.

Karena rasa penasarannya terhadap Eunra yang tiba-tiba muncul di rumah sakit dengan membawa anak perempuan itu, Kang Jihyun pun kemudian menghampiri wanita itu. “Anakmu?” Eunra terlihat cukup terkejut ketika mengetahui Kang Jihyun berada di sana. Namun nada bicaranya yang terdengar sinis membuat Eunra memilih untuk tidak menghiraukannya dan kembali berjalan ke arah dokter lain. Karena merasa diabaikan Kang Jihyun pun refleks meraih pergelangan tangan Eunra dan kemudian berkata, “Aku akan membantumu.”

***

Kang Jihyun melepas bagian stetoskop yang tadi dipasang di kedua telinganya. Sementara Eunra menatapnya, menunggu ia berbicara.

Sebelum ia mengeluarkan kata-kata, Kang Jihyun menghembuskan nafasnya, ruangannya terasa sangat dingin daripada sebelumnya ataukah hanya karena tak ada yang mengeluarkan suara saja, yang jelas suasana di dalam ruangannya saat ini benar-benar sedingin es. “Hanya demam biasa dan terlalu lelah sehingga butuh sedikit istirahat untuk memulihkan kondisinya, jadi saya beri surat ijin sakit untuk tidak pergi sekolah dulu.” Kang Jihyun kembali ke mejanya kemudian menulis sesuatu di atas kertas. “Ini resep obat yang harus ditebus di apotik lantai dasar, tapi kamu tidak perlu pergi ke sana, aku akan menyuruh perawat untuk mengambilkan obat-obat ini.” kini ia beralih bicara pada Eunra sebelum akhirnya ia mengambil gagang telepon di atas mejanya kemudian berbicara singkat pada seseorang untuk mengantar obat yang dimintanya. “Tindakanmu berlebihan, aku bisa menebus obat itu sendiri, kenapa harus diantar ke sini?” Eunra berkata seraya beranjak berdiri. Ekspresi Kang Jihyun masih tidak berubah, “Anak ini perlu mendapatkan obatnya segera, mengantri dan menunggu obat di apotik itu tidak pernah bisa cepat.” Eunra tidak mungkin berdebat dengan pria itu di sini, di depan Olivia yang sedang sakit, sehingga ia menyimpan kembali kata-katanya.

Sekitar lima menit kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan Kang Jihyun dan setelah Kang Jihyun menekan salah satu tombol di intercom, pintu terbuka lalu perawat itu masuk dengan membawa obat yang tadi diminta oleh Kang Jihyun lewat telepon. Ketika perawat itu pergi, Kang Jihyun menjelaskan sedikit tentang mengkonsumsi obat pada Eunra sampai akhirnya Eunra telah menyelesaikan urusannya dan hendak pergi dari sana, Kang Jihyun pun lantas berdiri dari posisi duduknya ketika Eunra bersama anak perempuan itu akan pergi meninggalkan ruangannya.

“Anakmu cantik, seperti ibunya, cepat sembuh.” kata-kata itu keluar begitu saja dari seorang Kang Jihyun dan Eunra seketika berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang, di mana Kang Jihyun berdiri. Eunra berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak kembali melangkah ke belakang dan tidak menjambak pria kurang waras itu. Setidaknya ia berhasil untuk tidak merespon banyak dari ucapan-ucapan sinis Kang Jihyun hari ini, ia tidak akan mungkin menerima bantuan Kang Jihyun untuk memeriksa Olivia jika di lantai dasar, jika semua dokter yang sedang bertugas di lantai itu tidak sedang sibuk karena adanya kecelakaan lalu lintas.

***

Eunra menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Olivia setelah ia memberinya obat. Ia masih belum beranjak dari tepi ranjang Olivia. Sementara Olivia sudah mulai menutup matanya. Eunra mengecek ponselnya ternyata ia mendapat sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak tersimpan di dalam kontak ponselnya. Ia pun membuka pesan itu dan menarik nafas cukup panjang ketika ia selesai membaca isi pesan singkat itu.

Dengan siapa kau menikah?

Tidak perlu bertanya lagi siapa pengirim pesan singkat itu, Eunra ingat bahwa ia sudah menghapus nomor telepon Kang Jihyun sejak ia pergi ke rumah sakit sesampainya ia di Korea untuk menemui Kang Jihyun beberapa bulan lalu.

Sejujurnya Eunra malas sekali untuk membalas dan menanggapi pesan tidak penting itu, namun ia juga tidak ingin Kang Jihyun mengiriminya pesan serupa di lain waktu, sehingga ia berfikir untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kang Jihyun saat ini juga.

Itu bukan urusanmu lagi, Kang Jihyun. Kamu memiliki kehidupanmu sendiri begitupun juga denganku.

Eunra menyisir rambutnya ke belakang dengan sebelah tangannya kemudian memegang keningnya yang terasa sedikit pening. Ia beralih pada Olivia, mengelus rambut panjang Olivia dan memerhatikan wajah Olivia untuk beberapa saat, jika diperhatikan, Olivia memiliki kemiripan dengan pamannya, Lee Seungjae. Hidungnya yang mancung, kulit putih nyaris seperti pucat, rambut hitam kecokelatan alami—ia tahu hal ini karena Lee Seungjae memang tidak pernah mengecat rambutnya, bola mata coklat terang, dan perawakan tubuh yang tinggi ramping. Awalnya ia juga mengira bahwa Olivia adalah anak dari Lee Seungjae sebelum akhirnya Lee Seungjae menjelaskan bahwa Olivia hanyalah keponakannya dan Lee Seungjae sendiri yang memutuskan untuk merawat Olivia.

Eonnie, kenapa dokter tadi terus mengiraku sebagai anak eonnie?” Eunra sedikit terkejut ketika Olivia kembali terbangun dan membuka matanya serta bertanya tentang hal itu. Eunra yang sedari tadi duduk di tepi ranjang kasur Olivia hanya tersenyum tanpa tahu harus menjawab apa, tidak mungkin, kan, jika ia menjawab yang sebenarnya bahwa dokter tadi itu adalah mantan pacarnya yang memutuskan dirinya sebelum bahkan mengetahui kebenaran bahwa beberapa tahun lalu ketika Kang Jihyun mengira dirinya berselingkuh dengan laki-laki lain itu tidaklah benar, saat itu ia tengah pergi bersama sepupu laki-lakinya yang datang dari Korea, dan sampai detik ini, Kang Jihyun masih tidak mengetahui realita itu.

“Dokter tadi itu adalah teman eonnie, dia memang seperti itu, ia mengira eonnie sudah menikah dan tidak mengundangnya, jadi dia bertingkah seperti itu, eonnie tidak akan membiarkan dia yang memeriksamu, jika seandainya dokter-dokter di UGD tadi sedang tidak sibuk.” Olivia pun tersenyum kecil menandakan bahwa ia mengerti.

“Aku malah mengira bahwa ia menyukai eonnie, karena sejak pertama kali bertemu dengannya di UGD, dokter tadi terus memperhatikan eonnie, walaupun nada bicaranya pada eonnie sedikit sinis dan terdengar tidak bersahabat.” Eunra tertawa pelan kemudian menggeleng. “Tidak seperti itu, kok, tenang saja.” Kali ini Olivia mengangguk-angguk pelan sambil memainkan ujung selimutnya.

“Eonnie masih ingin di sini, kan?” Olivia bertanya dengan menatap Eunra dengan tatapan seperti ia tidak mengijinkan dirinya pergi. Eunra lantas segera menggeleng lagi, “Tidak, eonnie akan menemanimu di sini sampai kapanpun kamu mau.” Eunra tersenyum ke arah Olivia dengan lembut.

Olivia kini memeluk boneka beruang cokelat kesayangannya, “Eonnie, boleh aku bertanya sesuatu?” Eunra terlihat penasaran. “Tentu saja boleh.” ujarnya dengan ramah, ia tidak ingin hubungan dirinya dengan Olivia memburuk lagi, sejak insiden makan siang itu ia berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Olivia. “Tapi eonnie jangan marah ya,” Olivia berkata lagi dan Eunra pun mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum lagi “Tanyakan saja, Olivia.”

“Mmm.., eonnie juga mencintai pamanku, kan?” Eunra seketika tertawa mendengar pertanyaan polos Olivia. Ia pun mengacak rambut Olivia dengan sayang. “Kenapa bertanya seperti itu?” Olivia mengubah posisinya menjadi duduk menyandar di sandaran tempat tidur. “Karena sebentar lagi paman akan ulang tahun, tahukah eonnie paman akan berulang tahun yang keberapa? Eonnie pasti akan terkejut jika mengetahuinya.” Olivia terlihat bersemangat. Melihat itu Eunra pun berpura-pura tidak tahu agar Olivia semakin bersemangat menyampaikannya. “Yang keberapa memangnya? Sudah tua ya?” Olivia tertawa hampir terbahak kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ia akan berulang tahun yang ke 32 tahun, aku juga tidak menyangka paman sudah setua itu.” Olivia menghentikan tawanya dan wajahnya terlihat serius kali ini. “Nah, karena itu lah aku berpikir bahwa paman pasti memerlukan seseorang yang mengurusnya, karena selama ini, tidak ada yang mengurus paman, paman malah selalu mengurusku, apalagi, belakang ini, penyakit lambung paman itu semakin sering kambuh, aku tahu paman jarang makan dengan teratur walaupun paman tidak pernah mengaku. Oh ya, eonnie tahu tidak, paman itu tidak bisa masak sama sekali.”

Eunra mendengarkan Olivia dengan seksama dan penuh perhatian, ia pun merespon cerita Olivia tentang pamannya itu, tentang laki-laki yang dirinya cintai. “Begitukah? Pamanmu itu memang benar-benar sulit untuk disuruh makan siang tepat waktu, eonnie sampai berfikir kalau ia tidak doyan makan,” Olivia mengangguk setuju menandakan bahwa ia juga sependapat dengan perkataan Eunra barusan. “Dan soal memasak, itu masih hal yang wajar jika laki-laki tidak bisa memasak.” Namun tidak seperti tadi, Olivia sekarang justru menundukkan wajahnya, Eunra menyadari perubahan Olivia dan mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh bahu Olivia yang bergetar pelan.

“Tapi aku juga sudah lama sekali tidak memakan masakan rumah. Ah, tidak, aku pikir aku malah belum pernah merasakannya. Aku bahkan sudah bersama paman sejak sebelum aku masuk sekolah dasar. Menyedihkan sekali ya?” Eunra meraih tubuh Olivia dan memeluknya. Ia memeluk Olivia dengan erat dan ia dapat merasakan Olivia menangis di dalam pelukannya. Eunra mengelus punggung Olivia dan berusaha membuat Olivia tenang. Tidak berapa lama kemudian Olivia melepaskan pelukann Eunra dan menghapus airmatanya dan mulai tersenyum kembali. “Paman tidak pernah suka aku menangis.” ujar Olivia masih menghapus air matanya yang belum sepenuhnya berhenti. Eunra membantu Olivia membersihkan sisa-sisa air mata di wajah Olivia dan menata rambut Olivia dengan tangannya.

Setelah Olivia sudah terlihat seperti biasa lagi, setelah Eunra merapikan rambut Olivia yang tadi menjadi berantakan ketika menangis, kini Olivia sudah terlihat cantik kembali. “Nah, mau lanjut bercerita?” Eunra menyelipkan rambut Olivia ke belakang telinga. Olivia lantas mengangguk seraya menjawab, “Aku tidak akan menangis lagi. Aku pernah berjanji pada paman, ketika paman sedang tidak ada di sini, aku berjanji tidak akan menangis ataupun melakukan sesuatu yang bisa membuat paman menjadi cemas ataupun khawatir.” Eunra mengangguk pelan sekali lagi.

“Selama ini aku memiliki paman yang selalu mengurusku dengan sabar, tapi paman sendiri tidak ada yang mengurusinya. Aku jadi merasa itu tidak adil untuk paman. Aku kadang berpikir jika seandainya tidak ada paman Lee Seungjae, aku tidak tahu akan tinggal bersama siapa. Sejak aku memikirkan hal itu aku pun menyadari bahwa paman itu orang yang sangat baik, walaupun ia sangat sibuk,” Olivia tersenyum, “Dan kadang juga menjadi sangat menyebalkan,” tambahnya seraya tertawa. Eunra ikut tertawa. Mereka berdua akhirnya tertawa bersama ketika mengingat-ingat kelakuan-kelakuan menyebalkan dan aneh Lee Seungjae selama ini.

“Jadi untuk ulang tahun pamanmu, apa yang akan kita lakukan?” Olivia terlihat sumringah ketika Eunra menanyakan hal barusan. “Eonnie, bolehkah kita tidak makan di restoran? Karena selama ini ketika aku atau paman berulangtahun, maka kita hanya pergi ke restoran dan memesan makanan yang sangat banyak, kali ini aku tidak ingin merayakan ulang tahun paman dengan pergi dan makan ke restoran. Jadi kali ini aku ingin merayakan ulang tahun paman di sini saja.”

***

Donghae melirik ke arah kaca spion mobil untuk yang kesekian kalinya. Memastikan bahwa penampilan dirinya pagi ini akan membuat Sila tidak bisa melirik pria lain selain dirinya. Donghae menarik ujung bibirnya ketika ia melihat ke arah seorang wanita yang baru saja keluar dari sebuah bangunan bertingkat cukup banyak itu berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobi.

Ketika Sila melangkah sudah cukup dekat dengan mobil Donghae, Donghae kemudian beranjak keluar dan menyambut Sila yang kini telah berdiri di dekatnya. Sebelum Donghae membukakan pintu untuk Sila, ia meraih pinggang Sila kemudian mengecup pipi wanita itu dengan satu gerakan singkat. Sila hanya tertawa pelan dengan kelakuan Donghae barusan dan ia segera masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengamannya saat Donghae baru saja duduk di jok kemudi setelah memasukkan travel bag milik Sila ke dalam bagasi mobil.

“Sudah sarapan? Karena kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh.” Donghae bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depannya. Sila mengangguk seraya menjawab, “Sudah. Memangnya jam berapa kita akan tiba di sana?”

Donghae baru menjawab pertanyaan Sila ketika ia menghentikan kendaraannya di lampu merah, ia pun menoleh pada Sila. “Terakhir aku pergi ke sana, lama perjalanannya kurang lebih menghabiskan waktu lima jam. Mungkin kita akan tiba di sana menjelang sore nanti.” Tidak lama kemudian lampu merah itu berganti kuning dan kemudian hijau, Donghae pun kembali melajukan mobil hitamnya. “Aku kira kamu mengajakku pergi ke sana menggunakan pesawat.” Sila tertawa pelan seraya melirik Donghae yang kini tengah tersenyum.

“Aku mengajakmu ke sana menggunakan mobil karena aku ingin memperlihatkan padamu bagaimana indahnya perjalanan yang akan kita lalui menuju Mokpo, kamu pasti akan senang. Tapi jika kamu nanti merasa lelah saat kita pulang, kita bisa naik pesawat, mobil ini akan aku tinggal di sana.”

***

Perjalanan selama lima jam itu tidak terasa lama karena selama di perjalanan Donghae selalu menceritakan pengalaman-pengalamannya ketika masih tinggal di Mokpo, tentang bagaimana ia tumbuh, bermain, dan ketertarikan menjadi dokter sampai akhirnya ia pindah ke Seoul. Sila mendengarkan seluruh cerita Donghae dengan antusias. Ketika Donghae bersenandung-senandung kecil, Sila ikut bernyanyi dan mereka pun akhirnya malah sibuk bernyanyi selama satu jam terakhir sebelum akhirnya mereka sampai di desa kelahiran Donghae hampir tiga puluh tahun yang lalu.

Ketika mereka sampai, langit masih cerah, Donghae pun kemudian mengajak Sila untuk berkeliling sebentar sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.

***

Ibu Donghae rupanya menyambut kedatangan anaknya dan gadis yang dibawa anaknya itu dengan sangat baik dan ramah. Terakhir Donghae datang ke rumah ibunya di Mokpo adalah sekitar setengah tahun lalu, itupun tidak lama, hanya satu malam ketika Donghae mendapat kabar bahwa ibunya sedang kurang sehat, mendengar hal itu membuat Donghae segera bertolak pergi ke Mokpo dengan pesawat lokal, absen dari rumah sakit dan membuat Kyuhyun kewalahan dengan jumlah pasien Donghae yang saat itu sedang banyak. Walaupun Donghae sudah beberapa kali membujuk ibunya untuk pindah ke Seoul bersamanya agar ia dapat memantau keadaan ibunya yang semakin hari semakin menua.

Setibanya di rumah Donghae, ibunya terlihat cukup terkejut melihat anaknya membawa seorang gadis cantik, karena sebelumnya Donghae belum pernah membawa gadis manapun ke rumahnya di Mokpo. Setelah makan siang bersama dan bercerita tentang Sila dan kehidupannya di Seoul selama enam bulan terakhir, ibu Donghae pun menyuruh agar Donghae dan Sila beristirahat dahulu sebelum berkeliling Mokpo, karena mereka berdua baru saja menempuh perjalanan cukup jauh dari Seoul dengan menggunakan mobil, terutama Donghae yang menyetirnya sendiri.

Sore pun tiba dan Donghae tidak ingin membuang waktu, ia mengirim pesan singkat ke ponsel Sila. Ia tahu bahwa Sila pasti sedang tidak tidur. Senyum Donghae merekah beberapa detik setelah ia membaca pesan balasan dari Sila dan segera beranjak keluar kamar. Tidak berapa lama kemudian pintu kamar sebelah terbuka dan Donghae dapat melihat Sila telah berganti pakaian menjadi lebih santai daripada sebelumnya. Hanya kaus dan celana jeans pendek yang keduanya terlihat sangat pas di tubuh ramping Sila. Donghae tidak dapat menahan dirinya untuk tidak memuji penampilan Sila sore itu. Sila hanya tersenyum kecil dengan rona merah jambu di pipinya.

Donghae berpamitan dengan ibunya karena ingin mengajak Sila pergi berkeliling untuk melihat Mokpo. Donghae meraih tangan Sila dan membawanya pergi ke mobil yang terparkir di halaman depan rumah.

Sekitar lima belas menit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menerangkan beberapa tempat yang menurut Donghae harus diketahui oleh Sila, Donghae pun menghentikan mobilnya di sebuah pantai berpasir putih yang indah. Donghae turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sila. “Aku akan menunjukkanmu sunset paling indah di Mokpo.” ujarnya seraya kembali menggandeng tangan Sila dan menuntun Sila berjalan menuju pantai. Pantai yang sangat tenang dan tidak banyak orang yang datang.

“Dulu, sebelum aku pindah ke Seoul, aku sering sekali pergi ke pantai ini, bersama ayah dan ibuku. Oleh karena itu aku ingin mengajakmu ke sini, karena aku hanya pergi ke pantai ini dengan orang-orang yang spesial bagiku.”

Sila tertawa pelan seraya membenarkan rambutnya yang tertiup hembusan angin. “Jadi aku spesial untukmu?” tanyanya sambil melirik Donghae dengan pandangan jenaka. Ia ingin melihat apa ekspresi Donghae ketika ia bertanya seperti itu.

“Bagiku, kamu tentu sangat spesial, tidak ingatkah kamu kalau kamu adalah kekasihku, Sila-ya,” Donghae merangkul Sila dan membenarkan rambut gadisnya itu.

“Pernahkah kamu mengajak seseorang selain aku dan ayah ibumu, Donghae? Mungkin pacar-pacarmu sebelum aku.” Sila bertanya seraya ia melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Donghae sambil terus memperhatikan ombak laut yang menyapu tepi pantai tiap menitnya.

Donghae menatap Sila dalam kemudian menggeleng pelan. “Tidak pernah,” Donghae berkata pelan, walaupun kenyataannya ia pernah mengajak Kyuhyun pergi ke pantai itu beberapa tahun yang lalu, tidak mungkinkan ia mengaku pernah pergi dengan Kyuhyun ke pantai ini? Bisa-bisa Sila menganggap dirinya dan Kyuhyun yang aneh-aneh. Saat ia pergi dengan Kyuhyun ke pantai itu pun juga karena terpaksa, setelah Kyuhyun memaksa Donghae untuk membawa dirinya pergi ke pantai tempat dimana Kyuhyun melihat foto Donghae saat masih sekolah dulu.

Sila memutuskan untuk tidak berkata-kata lagi karena ingin menikmati pemandangan pantai itu dan lembutnya pasir putih itu. Donghae mengajaknya duduk di atas pasir sambil menunggu sunset yang akan hadir beberapa menit lagi.

Mereka duduk dalam diam, tanpa harus berbicara satu sama lain mereka dapat merasakan suasana yang menyenangkan dan menenangkan. Donghae masih merangkul dirinya ketika sunset itu tiba. Sila menyandarkan kepalanya di bahu Donghae menikmati pemandangan sunset yang jarang dilihatnya. Namun kemudian ia kembali menegakkan kepalanya ketika ponsel di saku celana pendeknya bergetar pelan setelah melihat isi pesan dan membalasnya dengan singkat, ia pun kembali memperhatikan matahari tenggelam itu. Jujur saja, mereka tidak bisa membiarkan ponsel mereka mati ataupun tidak membuka pesan masuk, mereka harus mengeceknya apakah itu berita dari rumah sakit atau dari pasiennya. Sila kembali menikmati sunset beberapa detik kemudian tanpa menyandarkan kepalanya di bahu Donghae.

“Sila, kamu mau menikah denganku?” Donghae membisikkan kata-kata itu tanpa disangka-sangka. Sila refleks menoleh masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Donghae ucapkan.

“Maksudmu?” Sila tidak mengerti dan ingin memastikan sendiri apa yang dikatakan oleh Donghae. Benarkah Donghae baru saja melamarnya? Mimpikah ini?

Donghae masih dengan ekspresi tenangnya menatap Sila dengan pandangan teduh. “Aku ingin menikah denganmu, Sila.”

***

Hari semakin gelap dan Donghae memutuskan untuk membawa Sila kembali ke rumah. Ia masih tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya ketika Sila menjawab mengiyakan lamarannya di pantai beberapa saat lalu.

Mereka pun sampai di rumah kembali dan Donghae mengecek keberadaan ibunya untuk mengatakan bahwa ia sudah sampai sebelum ia masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat dan untuk memberitahu tentang lamarannya terhadap Jung Sila dan akan menikahi gadis itu dalam waktu dekat.

Donghae menemukan ibunya berada di kamar yang saat ini sedang memegangi dada kirinya. Donghae lantas segera berlari menghampiri ibunya yang terlihat sakit, wajah dan bibirnya pucat. Sila menyusul beberapa saat kemudian dan mengatakan bahwa Donghae sebaiknya segera membawa ibunya ke rumah sakit terdekat untuk pertolongan pertama menghindari akan terjadinya serangan jantung mendadak.

Seketika itu juga Donghae membawa ibunya ke rumah sakit terdekat dari rumahnya yang berada di Mokpo. Sila duduk di jok belakang sambil menjaga ibunya sementara Donghae menyetir di depan sendirian.

“Maaf, dikarenakan terbatasnya peralatan dan fasilitas medis di rumah sakit ini, maka kami akan rujuk ibu Anda ke rumah sakit lebih besar di kota yang menyediakan peralatan medis untuk ibu Anda.” Dokter itu berkata pada Donghae dengan nada menyesal dan meminta maaf. Donghae terlihat putus asa namun untungnya Sila segera menenangkan Donghae dengan memeluknya.

Dengan menggunakan mobil ambulan dari rumah sakit menuju bandara untuk mengejar penerbangan ke Seoul menit itu juga, Donghae rela membayar mahal dengan menyewa pesawat helicopter khusus seperti ambulan yang disediakan oleh pemerintah jika ada masalah darurat seperti orang yang sedang butuh pertolongan ke rumah sakit di kota.

Sila belum pernah melihat Donghae sepanik dan secemas ini, Donghae telihat pucat dan di pelipisnya keringat mengalir turun cukup banyak membuat Sila harus kembali mengelapnya dan ia pun terus menggenggam telapak tangan Donghae yang dingin.

“Donghae, ibumu akan baik-baik saja,” Sila berbisik pada Donghae sambil mengelus bahu Donghae. Donghae menoleh ke arahnya dan menatapnya sebelum akhirnya mengangguk pelan dan mencium kening Sila.

Helicopter itu mendarat di bagian teratas rumah sakit yang khusus untuk mendaratkan helicopter agar pasien yang dibawa oleh helicopter itu dapat segera ditangani secepat mungkin. Donghae turun dari pesawat setelah membantu Sila turun terlebih dahulu sementar ibunya telah dibawa lebih dulu oleh paramedis ke ruang operasi menggunakan elevator khusus. Donghae menghubungi Kang Jihyun saat itu juga, sampai beberapa detik akhirnya Kang Jihyun mengangkat teleponnya dan mengatakan ada apa. Donghae mengatakan bahwa ibunya butuh operasi detik ini juga, dan meminta tolong pada Kang Jihyun untuk mendapatkan dokter ahli jantung terbaik di rumah sakit itu untuk mengoperasi ibunya. Kang Jihyun membalas bahwa ia akan mengusahakan hal itu. Donghae segera masuk ke dalam elevator umum disusul oleh Sila beberapa detik kemudian. Ia menekan angka dimana lantai ruang operasi berada.

***

Setelah menghabiskan sekitar empat hari berada di Guangzhou dan dua malam berada di Jakarta untuk menghadiri rapat Lee Seungjae akhirnya dapat kembali menginjakkan kaki di Seoul. Hampir satu minggu ia meninggalkan Olivia bersama dengan babysitter-nya namun untungnya ia tidak menerima laporan apapun jika seadainya Olivia mulai bertingkah ketika ia tidak berada di Korea walaupun beberapa hari yang lalu supir yang biasa mengantar dan menjemput Olivia ke sekolah tidak melakukan tugasnya seperti biasa karena beralasan sakit, ia mungkin akan menyuruh Olivia diantar oleh pengasuhnya dengan taksi, tetapi kemudian ia mendapat kabar dari Olivia bahwa ia telah diantar dan dijemput oleh Eunra, keponakannya itu juga mengatakan bahwa pamannya tidak perlu khawatir mengenai hal itu.

Lee Seungjae menutup pintu taksi kemudian melangkah ke dalam lobi apartemen yang luas dan lenggang karena tidak ada orang, hanya dua orang berada di balik meja resepsionis juga dua orang petugas keamanan yang selalu berjaga di pintu lobi. Setelah menekan enam digit angka, tidak sampai sepuluh detik pintu apartemennya segera terbuka dan ia pun langsung melangkah masuk sambil menarik kopernya yang berukuran lumayan kecil. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur ketika ia sampai di kamar tidurnya sebelum ia bahkan mengecek Olivia terlebih dahulu. Tubuhnya terlalu lelah untuk pergi ke kemar Olivia dahulu hanya untuk menanyakan kabar.

Ketika Lee Seungjae baru beberapa menit terlelap dalam tidurnya, pintu kamarnya terbuka membuat dirinya mau tidak mau harus kembali terjaga, ia pun membuka kedua matanya perlahan-lahan untuk melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kamar tidurnya di saat ia sedang sangat lelah dan butuh istirahat setelah perjalanan pesawat yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Setelah butuh beberapa detik untuk memfokuskan kembali pandangannya, ia pun akhirnya dapat mengenali seseorang itu walaupun tingkat kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Ia melihat Olivia berjalan mendekat ke arah ranjangnya. Mungkin Olivia baru tahu bahwa ia telah sampai di rumah atau mungkin juga Olivia merindukan dirinya jadi menyusul ke dalam kamarnya untuk menemuinya, entahlah yang jelas ia masih butuh tidur dan membayar semua rasa kantuk selama satu minggu terakhir.

Olivia berdiri di dekat tepi tempat tidur pamannya. Ia melihat pamannya masih tidur walaupun tadi sempat bangun saat dirinya membuka pintu. Tidak beberapa saat kemudian pamannya itu malah menarik dirinya untuk bergabung dengan masih kedua mata yang tertutup rapat. Olivia berdecak sebal, ia tahu jika pamannya itu sedang tidur maka akan sangat sulit untuk dibangunkan, pamannya itu malah mengigau tidak jelas. Ia sudah sering kali mencoba untuk membangunkan pamannya ketika tidur namun selalu berakhir dengan dirinya menjadi kesal karena tidak dapat membuat pamannya bangun. Tetapi kali ini ia harus berhasil membangunkan Lee Seungjae.

“Paman..,” Olivia mengguncang bahu Lee Seungjae dengan cukup keras agar pamannya itu terbangun, karena jika hanya dipanggil saja maka akan percuma. “Paman, bangun sebentar dulu,” Lee Seungjae pun terlihat mulai membuka kedua kelopak matanya kembali.

“Ada apa? Paman lelah sekali, sebentar lagi paman akan menyusul ke sana,” balas Lee Seungjae seraya kembali merapatkan selimutnya. Padahal ia sendiri masih mengenakan kemeja dan dasi serta jas yang belum dilepas.

Olivia mulai tidak bisa bersabar. “Paman, tolong bangun sebentar,” suara Olivia berubah menjadi serak dan terdengar pelan. Lee Seungjae pun segera terjaga setelah menyadari suara Olivia yang terdengar tidak biasa. Seketika itu juga Lee Seungjae merubah posisinya menjadi duduk dan mulai memperhatikan keponakannya itu dengan lebih seksama.

Lee Seungjae baru menyadari bahwa raut wajah Olivia terlihat bahwa ia seperti sedang takut dan cemas, matanya berkaca-kaca dan kemerahan karena menahan untuk tidak menangis. Hal itu membuat kening Lee Seungjae berkerut. “What happened, my dearest Olivia?” Tanya Lee Seungjae seraya meraih tubuh Olivia kemudian memeluknya dengan erat tanpa menunggu jawaban ataupun respon dari keponakan kesayangannya itu.

“I just wake up from sleep. And..,” Lee Seungjae terlihat penasaran. “And what, Olivia?”

“And I realized that there’re so many blood. blood is everywhere on my bed, I’m scared, uncle.” suaranya bergetar dan ia pun terisak pelan ketika ia mulai menceritakan apa yang baru saja dialaminya pada pamannya itu. Tangis Olivia pecah saat itu juga dan Lee Seungjae seketika berubah panik. Karena ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun beranjak untuk melihat kamar Olivia sementara Olivia mengekor di belakangnya, memegangi kemeja yang dikenakannya sambil menyembunyikan wajahnya di balik tubuh pamannya.

Lee Seungjae terperangah ketika melihat kasur tempat tidur Olivia. Ia menjadi sama kagetnya dengan Olivia saat pertama kali melihat pemandangan itu. Lee Seungjae menoleh ke arah Olivia dan menyuruh Olivia memutar tubuhnya ke belakang. Lee Seungjae terkejut bukan main dan ia juga tidak dapat menutupi kegugupannya melihat semua darah itu. Lee Seungjae seketika menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan menumpukan kedua lututnya di atas lantai, ia menatap mata Olivia yang masih berkaca-kaca dan menghapus sisa-sisa air mata di sudut mata gadis itu. “Olivia paman yakin sekali kalau semua darah ini adalah darah menstruasi, selama ini kamu belum pernah mengalaminya, kan?” Lee Seungjae mencoba berbicara setenang mungkin sambil memegang kedua bahu Olivia sementara Olivia menggigit bibir bawahnya karena masih tidak yakin dengan ucapan pamannya barusan. “Sekarang paman akan pergi ke minimarket yang ada di salah satu blok di dekat lobi, paman akan coba mencari pembalut untukmu, kamu tunggu paman sebentar, ya?” Olivia mengangguk mengerti kemudian Lee Seungjae pun dengan setengah berlari menuju ke arah elevator yang akan bergerak ke lantai dasar.

Setelah dengan berlari-lari pergi ke minimarket yang ada di salah satu blok apartemennya, ia segera kembali. Ia melihat Olivia yang berdiri di dekat sofa ruang tengah namun tidak duduk, mengingat bawahan baju terusan yang ia kenakan saat ini sudah berubah warna sepenuhnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Lee Seungjae mengeluarkan satu plastik pembalut berukuran sedang yang berisi beberapa potong pembalut di dalam kemasan dari kantong plastik berlogo minimarket tadi. Akan tetapi Lee Seungjae kembali mengerutkan keningnya ketika ia melihat kemasan pembalut yang tidak menuliskan cara penggunaan dari pembalut itu sendiri. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka satu kemasan, jujur saja, baru kali ini ia melihat pembalut secara lansung. Ia membuka plastik kemasannya dan melebarkan isinya. Setelah ia perhatikan beberapa saat, entah dapat ide dari mana, ia kemudian segera menyadari bahwa pembalut itu pasti dapat direkatkan dan ditempel setelah ia mencoba mengamati benda itu kemudian menarik kertas plastik di bagian bawah pembalut. “Ah, paman tahu sekarang, ini seharusnya bisa direkatkan, paman akan menelepon Eunra tentang cara memasangnya, tapi paman rasa itu sudah benar jadi kamu coba pakai dulu,”

Olivia masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil baju ganti sementara Lee Seungjae mengambil ponselnya yang berada di kamar tidurnya. Ia menghubungi Eunra tentang bagaimana memasang pembalut yang benar.

“Ah begitu, kalau begitu aku sudah benar, kan? Olivia juga sudah berada di kamar mandi, sekarang tinggal mengurus tempat tidurnya saja, kalau begitu terima kasih, Eunra.”

Lee Seungjae menutup sambungan telepon kemudian menunggu Olivia keluar dari kamar mandi. Tidak lama kemudian Olivia pun keluar dan Lee Seungjae lantas segera memeluk keponakan kesayangannya itu. Memberikannya ucapan selamat bahwa sekarang Olivia telah beranjak dewasa di usianya yang sudah empat belas tahun dalam hitungan Korea.

“Nah, mau membantu paman mengganti seprai itu kemudian membersihkannya dari noda merah sebelum kita bawa seprai itu ke laundry di lantai dasar?”

*

An uncle is a gift whose worth cannot be measured except by the heart.

An uncle is someone special to remember with warmth, think of with pride, and cherish with love.

…And I not only call you uncle, I call you friend.

Author’s comments: nah, akhirnya part 9 jadi juga walaupun ada beberapa point yg ngga jadi dimasukin dan akan dimuat di part 10 nanti hehehe.. kayanya part 9 ngga banyak page-nya deh, di open office i cuma ada 26 pages, so, just read it quickly! hah.

GIMANA SI LEE SEUNGJAE!? tbh aku suka tokoh LSJ di fic ini entah kenapa.. oh ya di part ini kayanya bagiannya kyuhyun dikit ye? biarin deh dia kan lg mesra2an sama i #wat?

OKAY, VIELEN DANK and Good Luck, everyone.

Advertisements

About yolasekarini

currently taking law

6 responses »

  1. doo~~ says:

    eonnieee sukaaaaaaaaa :3
    jarang sih ada ff tema nya medical ginii
    but anyway i think it.s better for you to use kau instead of kamu…
    dont know why but it seems cooler XD
    dan kenapa sooran sama kyu nggak muncul disini

  2. Aku bru bacanya ff ini baru-baru ini, dan maaf karena aku gak pernah komentar dipart sbelumnya bukannya aku gk ngehargai kryamu sbnarnya pengen. pengen bnget mlah kmentar tapi gk bisa eonnie entahlah aku gk tau karna apa soalnya mklum aku bacanya dihp. Dan ini akhirnya sya bisa komentar yeyeye Jadi eonnie jngan marah ya karna aku jadi silent reader skali lgi maaf eon. aku suka bnget ceritanya dan sering buat aku penasaran sampai2 kdang aku gk bisa tdur karena msih terbayang2 ff ini eon. Meskipun awalnya aku merasa malas untuk bca ffnya karena sempet bingung sama tokohnya yang lumayan banyak tapi semakin aku bca semakin aku penasaran #curcol mianhae eon aku selalu menunggu kapan eonnie akan ngepost lagi ffnya soalnya aku belum tenang kalo blom baca ceritanya sampai akhir. Jadi ditunggu e0n part selanjutnya sampai akhir. Daebak

    • yolasekarini says:

      Awww.. ini beneran ada yg baca? I’m losing words. Hahaha

      Oh ga aku ngga pernah marah sama yg namanya siders. Lagian kenapa mesti marah sama para silent readers? I like them that way. ;p

      Masih ngga percaya kalo ff ini ada yg nungguin hehehe. Well semoga ff ini berhasil dirampungkan suatu saat nanti. One thing you people should know is I’M GOING TO BE ONE OF 12 GRADER THIS YEAR.
      Tapi tenang aja gini-gini aku jagonya nyuri-nyuri waktu buat tetep ngelanjutin ff entah menentu ini.
      Hahaha asalkan kamu rajin2 komen aja /slapped/ gak deng becanda

      Udah ye. Eke mao mikirin plot part 10 dolo houhou. Oh iye udah baca remake part 1 blon?

      Cheers. Greeting from one unyu girl in kidzania.

    • yolasekarini says:

      Introducing Lee Seungjae dan Kang Jhyun for the very first time!

      Wanna see and know Lee Seungjae and Kang Jihyun in person?

      Go to https://dreamylight.wordpress.com/2017/04/09/new-visualization-of-lee-seungjae-and-kang-jihyun/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s